
Sesampainya di unit lantai tujuan sang pangeran telah sampai di unit kamar, dengan menekan tombol yang berada di samping tak jauh dari jangkauan, sambil menunggu si pemilik apartemen membukakan pintu yang tak membutuhkan waktu lama pintu tersebut dibuka.
Bersamaan itu, si pemilik apartemen begitu terkejut melihat seseorang berdiri di depan unit kamarnya. “Siapa, ya?”
Berdehem lalu berucap dingin, sambil membuka masker yang menutup sebagian dagu serta mulutnya, alangkah terkejut begitu mengetahui seseorang yang bertandang di unit apartemennya.
“Kenapa kau kaget begitu, Bas?” ejek Devander dengan nada dingin.
“Bu ... kan begitu, Van ... hanya saja aku terkejut kau tiba-tiba datang mengunjungiku. Sudah lama kita tidak bertatap muka seperti ini.” Bastian sendiri tak mengerti dengan kedatangan tamu yang bertandang.
“Ajak aku masuk ke dalam dan kau akan segera tahu, alasanku bertandang ke tempatmu,” sindir Devander dengan bibir mencebik kesal.
Kedua pria baya itu, telah duduk di atas sebuah sofa, dengan Bastian menanyakan tujuan sang teman datang ke tempatnya. “Sekarang, kau harus mengatakan alasanmu datang kemari, Van!”
“Putrimu!” kata sang pangeran yang membuat pria, di sebelahnya mengernyit bingung dengan jawaban singkat darinya.
“Apa ka ....
“Aku bukan hanya mengetahuinya, Bas! Namun, aku hanya muak melihat tingkah laku putrimu itu!” geram Devander yang begitu mati-matian menahan amarahnya.
“Tunggu, Van ... kau bilang muak dengan tingkah lakunya ... apa ada hubungannya denganmu?” Bastian sendiri pun tidak begitu mengerti dengan ucapan dilontarkan oleh temannya ini.
“Tentu saja ada,” ketus Devander dengan bibir mencebik.
“Jangan bilang ini ada hubungan antara kau dan .…
“Seperti yang ingin kau katakan, Bas. Kedatanganku kemari karena ingin memberimu peringatan, untuk berhati-hati jika kau tak ingin putrimu ku' bawa ke negara sana dan memasukkannya ke dalam penjara, sebab dia benar-benar telah melewati batas kesabaranku.” Pangeran Devander tanpa memedulikan perasaan Bastian, pria baya itu langsung memberinya sebuah ancaman mematikan.
“Tu ....
“Araela Ayudia Gayatri Smith adalah cucu dari, seorang Raja Goerge dan hanya kau yang ku' beritahu rahasia ini ... untuk itulah mengapa aku memberimu peringat agar, putrimu tidak bertindak gegabah menyinggung keluarga kerajaan.”
Bastian yang mendengar pernyataan dari temannya ini, begitu terkejut mengetahui kenyataan bahwa keluarga kerajaan terhubung, dengan keluarga Smith dan di sana ada sang putri yang selama ini tak dianggap ada.
“Jadi, kau ingin aku apa, Van?” Bastian memastikan. Sebab, pria baya itu tidak ingin menyinggung temannya ini.
“Kau bisa memulainya dari wanita yang melahirkan putrimu itu, bahkan aku benar-benar muak dengan tingkah laku mereka.”
__ADS_1
“Itu tidak mungkin bisa, Van. Mengingat wanita licik seperti dia benar-benar pandai menutupi sebuah rahasia.” Bastian mengeluhkan tindakan yang dilakukan oleh, wanita licik seperti Mayang benar-benar membuat dia muak.
“Itu, urusanmu dan juga kau harus bisa membuatnya mengakui anak kandung yang dibawa oleh wanita itu adalah anakmu, sebab sampai kapan pun dia tidak akan pernah mengalir darah dari keluarga Smith.” Pangeran Devander menegaskan bahwa dirinya benar-benar ingin membuat wanita, yang membunuh adiknya itu menyesali perbuatan karena telah menyinggung perasaan sebagai seorang kakak.
“Aku sedang melakukan apa yang ingin kulakukan, Van. Namun, sepertinya yang kau dengar sendiri untuk menemui putriku pun sungguh membuatku sulit karena ibunya tidak menginginkan aku muncul di hadapannya.”
“Deritamu.” Devander tergelak lucu ketika pria baya itu mendengar penuturan dari temannya, bahwa Bastian dibuat menderita hanya untuk bertemu anak kandungnya itu.
“Sialan kau! Sana pulang, nanti ada yang mencarimu.” Mengumpat geram sambil mengusir sang teman.
Sebab, pria baya itu sangat ingin menenangkan diri sebelum bertemu dengan putrinya tersebut.
“Kau mengusirku, Bas? Padahal sudah lama aku tidak bertemu dan teganya mengusirku ... padahal aku datang kemari juga ingin menginap di tempatmu!”
“Heh pangeran sepertimu tidak mungkin datang sendirian ke sini ... tidak takut dengan hukuman dari permaisurimu, Van?” Bastian sangat meyakini temannya itu, sangatlah takut dengan ancaman dari wanita-nya.
“Tidak masalah karena aku benar-benar ingin menghabiskan waktu bersamamu, Bas ... sudah begitu sangat lama kita tak saling mengobrol dan bagaimana kau bisa memberikan benihmu kepada wanita licik itu?”
“Jangan membahas masalah dia, sebab aku sendiri juga muak dengan segala tingkah lakunya.” Menggeram marah itulah dirasakan oleh Bastian sendiri.
Mengingat sampai sekarang wanita itu, justru enggan memberikan sebuah kebenaran kepada putrinya, bahkan terkesan menutupi dan menginginkan Prasetya Gayatri Smith adalah ayah kandung dari Sonya. Namun, sejatinya dialah orang yang memberi benih kepada Mayang sendiri dan itu bukanlah Prasetya seperti dugaan pria baya selama ini.
“Lebih baik aku membujang seumur hidup daripada harus membucin, tidak sepertimu yang selalu membanggakan istrimu itu.”
Kedua pria baya itu, menghabiskan waktu dengan banyak obrolan, ditambah sang pangeran tak menyadari jika permaisuri di villa Raja Goerge, mencemaskan keadaan suaminya karena mendapat laporan jika sang suami menemui seseorang, bahkan ia tak habis pikir dengan tingkah laku pangerannya tersebut.
*
*
*
“Maafkan saya, Permaisuri ... beliau tidak ingin raja mengetahui keberadaannya yang sedang bertemu dengan seseorang.”
“Apa kau tahu siapa yang ditemui oleh suamiku?”
Setelah mendapat sebuah informasi dari pengawal, bahwa orang ditemui sang suami adalah teman kuliahnya dulu, membuat sang permaisuri terdiam membisu karena ia merasa tidak dihargai, sebab saat suaminya pulang nanti wanita baya itu akan memberikan sebuah hukuman karena membuat, hati dan pikiran dilanda rasa gelisah sekaligus kecewa dengan tingkah lakunya.
__ADS_1
“Tidak perlu menyusul dia di sana ... kau istirahatlah, untuk urusannya biar aku mengurus.”
Tak berselang lama kemudian, sang raja yang belum bisa memejamkan mata terkejut melihat keadaan sang menantu tercinta, dengan mendekatkan diri untuk mencari apa yang membuat wanita itu marah.
“Ada apa denganmu?”
“Ayahanda belum tidur?” sahutnya dengan balik bertanya.
Goerge tergelak lucu ketika pria senja itu dapat menebak keadaan yang membuat, sang menantu sudah dipastikan berasal dari tingkah laku sang putra.
“Ayahmu ini belum mengantuk ... apa kau baru saja ditinggal oleh suamimu?”
Permaisuri Pangeran Devander mengangguk.
“Dia bahkan tidak berpamitan denganku, Yah,” adu sang permaisuri dengan raut wajah berdecak kesal.
“Ayahmu ini tidak tahu-menahu jika dia sedang menemui teman kuliahnya.”
Raja Goerge kembali teringat di masa kala, pria senja itu terlalu memberi tekanan pada sang putra sulung, mengingat statusnya sebagai seorang putra mahkota justru menjadi pertanyaan rakyatnya.
Sebab, selama ini tidak ada seorang pun yang mengetahui pergantian tahta hanya diperuntukkan sang cucu tercinta, dengan menjadikan Devander sebagai tameng.
“Biarkan dia melepas temu kangen dengan temannya ... selama ini kehidupannya hanya selalu memenuhi permintaanku ... mau menghukumnya itu urusanmu.”
Tak kuasa melihat kesedihan di raut wajah Ayahanda, sang permaisuri menghampiri dan memberi dekapan hangat, sebab selama ini sang raja benar-benar sangat merindukan cucu kesayangannya tercinta.
“Jangan bersedih lagi ya, Yah ... aku bahkan sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.”
“Ya.” Raja Goerge tak lupa mengucap rasa terima kasih kepada, sang menantu karena sudah mau menjadi bagian dari keluarga kerajaan.
“Jangan berterima kasih kepadaku, Yah.”
“Tidak apa, Nak ... bagaimana kabar putra kalian?” Goerge memastikan kabar tentang cucunya yang lain.
“Dia bahkan tidak mau menjemput kita di bandara, Yah ... marahkah kepada cucumu yang satu ini?”
“Ayah tidak akan mencampuri urusan kalian. Biar bagaimanapun Ayah hanya ingin mengetahui kabar tentangnya.”
__ADS_1
Kedua orang yang mengobrol itu, memutuskan untuk menyudahi karena mereka ingin mengistirahatkan diri, sebelum bertemu dengan seseorang yang menjadi alasan kedatangan keluarga kerajaan di negara tujuannya datang.