Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

Sebagian karyawan Rewindra mulai membicarakan wanita yang masuk ke kantor tersebut. Bahkan Sonya tak luput menjadi pembicaraan para wanita yang selalu membicarakan Tuannya.


“Apa kau tahu siapa wanita yang tiba-tiba datang di kantor ini?” Nindi yang pernah menjadi patner ranjang Rewindra begitu geram dengan kedatangan Sonya.


“Paling juga nanti seperti aku dan kau yang dinikmati lalu di buang.” Laras tak pernah memedulikan karena merasakan keganasan duda tersebut membuatnya merasa puas.


“Kau tak merasakan kedatangannya membawa dampak buruk untuk kedepannya, Ras?” Nindi sedikit mencemaskan kehadiran wanita tersebut.


“Lalu kita harus merongrong begitu, hm?” Laras enggan menanggapi kecemasan di dalam dirinya. “Aku sangat yakin wanita seperti dia harus mendapatkan lawan yang sepadan dengannya, dan aku merasa kau pasti paham siapa orang yang ku maksud ini, Ndi!”


“Office girl itu bukan?” Nindi memastikan orang dimaksud oleh rekannya itu.


Mengangguk kepala Laras mulai mengatakan bahwa ia sedikit berhati-hati bila bertemu dengan office girl yang tak lain Araela. Mengingat menurut pandangan matanya bahwa di dalam diri pegawai kebersihan office girl sebutannya mempunyai sebuah aura yang tak bisa dianggap remeh.

__ADS_1


“Apa kau lupa aku sangat membencinya, Ras!” Tentu saja Nindi begitu sangat membenci keberadaan Araela. Namun, ia tak bisa melakukan apa pun selain hanya bisa mengganggunya.


“Aku enggak pernah mempersalahkan kebencianmu untuk dirinya. Perlu kau tahu, Ndi. Dia tak sesederhana yang kita lihat istilah jangan melihat seseorang yang kita benci dari covernya. Nanti malah ada penyesalan itu datang.” Laras sengaja mengingatkan Nindi untuk tak terlalu membenci keberadaan Araela.


Selesai mengobrol banyak mereka pun memutuskan berdiam diri sampai Araela yang mereka bicarakan memasuki gedung kantor tersebut.


Ketika mobil angkutan umum sampai di depan kantor setelah membayar tanpa meminta kembaliannya. Araela memasuki gedung kantor tempatnya bekerja sambil membalas sapaan orang yang berlalu lalang dengan senyum tipis. Mengingat ia bekerja sebagai office girl karena ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang selalu dipandang remeh.


***


“Opa apa aku boleh datang ke kantor, Papa?” tanya Rolando.


“Jadi, kamu sudah tak marah lagi dengan Papamu, Boy?” Pramana balik bertanya.

__ADS_1


“Aku tak pernah marah dengan, Papa, tapi maaf atas sikapku di atas meja makan, Opa.”


“Sudah-sudah, jangan meminta maaf. Kamu tak salah, Boy!” hibur Pramana. “Nanti kamu di jemput Pak sopir ya, Boy. Tak masalah-kan?”


Rolando menggeleng. Ia merasa senang bisa bermain, dan mengunjungi tempat sang Papa bekerja setelah pulang sekolah nanti.


“Hati-hati di jalan, Opa!”


Setelah menutup pintu mobil Rolando memasuki pintu gerbang sekolahannya dengan raut wajah yang begitu sangat dingin.


Sementara itu Pramana terus memperhatikan langkah kaki sang Cucu dari kejauhan yang tak lama kemudian mobil tersebut kembali melaju ke arah kantor milik Rewindra.


Ketika sedang dalam perjalanan menuju kantor. Ponsel Pramana berbunyi dengan nyaring yang mana membuat ia mengangkat panggilan tersebut. Di tempat yang sangat sepi untuk melihat nomor ponsel yang menghubunginya.

__ADS_1


Begitu sambungan tersambung. Pramana mendengarkan dengan seksama tentang laporan yang berasal dari orang suruhannya itu. Tak disangka gadis tersebut tak bisa dilacak dengan mudah identitas aslinya.


__ADS_2