
Menekan nomor ponsel milik anak buahnya untuk membantu melacak seseorang yang disinyalir sebagai seorang yang sangat berbahaya.
“Apa ada lagi yang tertinggal, Bos?”
“Aku ingin kau mencari tahu latar belakang seseorang!” titah Louser dingin tanpa menyapa orang tersebut.
“Lalu apa ada lagi, Bos?”
“Nanti aku akan mengirim ke emailmu, dan juga apa sudah menemukan preman yang hampir menculik Tuan Muda Kecil?” Louser menanyakan hal tersebut pada anak buahnya karena memang ia sengaja diminta oleh Tuan Besar untuk tetap merahasiakan penculikan dari Rewindra.
“Sudah saya telurusi, Bos, dan tempat itu tak jauh dari markas kita yang ada di sana.”
“Lalu apa kau dan rekanmu sudah menanyakan itu pada mereka?”
“Saya minta maaf, Bos, kami hanya bisa menangkap salah satu diantaranya tapi ....”
“Katakan dengan jelas jangan bertele-tele!”
“Akan tetapi preman yang kami bawa ke markas mengalami kejadian yang mengerikan, Bos!” Ia melaporkan hal tersebut pada Louser karena ketika menangkap preman yang sedang menahan di bawah perut akibat tendangan maut berasal dari seorang gadis.
“Mengerikan maksudmu apa, hah!”
“Di bawah perut, Bos, dia terus mengadu kesakitan. Saat kami menanyakan, ia menjawab bahwa sakitnya karena sebuah tendangan yang mengerikan. Bagaimana, Bos?”
__ADS_1
Louser yang mendengar laporan seketika terbatuk-batuk. Bagaimana mungkin seorang preman mendapat tendangan mengerikan tersebut. Apakah ada seorang yang berhasil menolong Tuan Muda Kecil? Jika memang benar Louser akan menyelidiki sendiri.
“Ya sudah, kau dan rekanmu urus preman itu! Ingat jangan biarkan mereka kabur. Paham!”
Melemparkan ponsel sembarang arah setelah mematikan sambungan tersebut. Membuatnya bertanya-tanya siapa gadis yang menolong cucu Tuannya itu? Sampai tak kuasa menahan kantuk, Louser memejamkan mata yang tak lama kemudian ia masuk ke dalam alam mimpi.
Keesokan harinya di pagi yang cerah di dalam kamar Rolando tengah mempersiapkan diri untuk memulai kegiataannya seperti biasa.
Masih teringat dengan jelas semalam Rolando benar-benar tak akan pernah melupakan wajah yang telah membuatnya bisa tersenyum seperti ini.
Tak ingin Oma tercinta menunggu terlalu lama. Rolando pun meninggalkan kamar pribadi untuk melangkahkan menuruni anak tangga sampai ia menyapa sang Oma tercinta dengan mengecup singkat di kedua pipinya. Namun, tak disadari olehnya di meja tersebut ada sang Dady yang terlihat cemburu ketika tak mendapat sapaan darinya.
“Apa hanya Oma yang dici.um, Boy?” Rewindra cemburu karena tingkah laku putranya sedikit berbeda dari biasanya.
Akan tetapi yang ia dapatkan rasa kecewa karena putranya enggan membalas mau pun menyapa dirinya.
“Oma masak apa?” Ando membalas dengan balik bertanya.
“Ini 'kan lauk kesukaanmu, Sayang. Apa kamu tak menyukainya?”
“Jangan! Biar Ando yang makan!”
Rewindra yang sedang menyaksikan interaksi keduanya merasa kesal diabaikan. Namun, ia pun tak menyadari tingkah laku dari Rolando merupakan harga yang harus dibayar oleh dirinya.
__ADS_1
“Ma ....” Suara manja dengan wajah memelasnya terpaksa ia keluarkan untuk menarik perhatian Dahlia sang mama tercinta.
“Kamu mau juga lauk seperti putramu!” Dahlia menyahut dengan ketus karena ia masih kesal dengan tingkah laku putranya tersebut.
“Galak sekali!” lirih Rewindra. Namun, sedetik kemudian sebuah sendok kayu melayang di kepalanya, dan membuat ia mengadu kesakitan ketika akan menengadah kepala.
Jakunnya bergerak naik turun saat pandangan matanya mengarah pada sang Mama yang sedang melototinya. “Apa!”
.
.
.
.
.
“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.
“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”
“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.
__ADS_1
Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.