
“Rupanya kau masih dendam dengan Kakakmu, Boy.” Gunawan sedikit heran dengan tingkah laku dari putra bungsunya ini.
“Tentu saja, Yah. Apa itu salah?” tanya Morgan dingin.
“Tidak ada yang melarangmu, tetapi mengapa kau begitu sangat ingin memunculkan sahabatmu di depan kedua wanita itu, hm?”
“Mungkin selama ini aku diam saja melihat putri dari sahabatku terus membuat Ara tersiksa batinnya, karena mereka ia tak pernah mendapatkan kasih sejak menjadi bayi merah yang ku panggil bayi mungil itu, Yah.” Morgan menegaskan sebelum semakin menjadi sebisa mungkin ia meminimalkan kejadian yang bisa saja membuat Ara terluka.
“Lakukan apa yang menjadi keinginanmu. Namun, kau harus ingat untuk tidak membatasi pergerakan Ara. Paham, Boy!”
“Lalu mengapa Ayah ingin menjodohkan Cucumu itu?” sebab Morgan ingin memastikan kebahagiaan untuk Araela Ayudia Gayatri Smith.
“Bukan Ayah yang menjodohkannya, tetapi mendiang ibumu-lah turut andil dalam perjodohan ini, ada beberapa hal yang tak bisa Ayah jelaskan denganmu. Apa itu yang mengganggu pikiranmu, Boy?”
__ADS_1
“Tidak, Ayah. Namun, aku jadi teringat dengan pria pengecut itu yang tak menolak kau jodohkan, tetapi ternyata yang ku dapatkan benar-benar tak habis pikir. Kalau saja seandainya Ayah yang menjodohkanku dengan mendiang Mama Ara, aku tak akan menolaknya karena sampai aku tak memaafkan perbuatan pria pengecut itu, Yah.”
Gunawan terbahak-bahak setelah mendengar semua luapan emosi di dalam diri putra bungsunya, yang membuat ia teringat bagaimana sang putra menolak keras dijodohkan kembali, karena ternyata Morgan masih tetap mencintai mendiang menantunya tersebut.
“Jadi kau masih mencintainya, Boy?” Gunawan bertanya sambil memastikan perasaan di dalam diri putra bungsunya.
“Pertanyaan yang bo.doh. Tentu saja mengapa aku selama ini menolak kau kenalkan pada mereka, karena sampai kapan pun aku akan tetap mencintainya. Apa aku salah mencintai mendiang Kakak ipar, Yah?”
“Kau tak pernah salah, karena itu adalah hatimu sendiri, dan juga kau sendiri yang menjalaninya maka kau harus kuat di depan keponakanmu tersayang.” Tak lupa ia memberi pelukan untuk putranya yang juga memberi kekuatan untuk tetap kuat di hadapan sang Cucu.
“Kau dengannya saling mengenal, Boy. Jadi tak perlu cemas. Oke.”
“Apa itu putra dari Kak Pram, Yah?”
__ADS_1
“Ya.”
“Jangan bercanda, Yah. Apa kau tak tahu seperti apa tabiat dari putranya?” protes Morgan dengan mencebik kesal.
“Bahkan Ayahmu sangat tahu tabiat dari Cucu William, dan sebaiknya kau tak perlu mencemaskan hal itu secara berlebihan. Ada alasan lain mengapa mendiang ibumu juga melakukan hal yang sama.”
Setelah menjelaskan semua pada putranya. Ia beranjak dari tempat tersebut dengan meninggalkan sang putra yang masih berdiam membisu.
***
Di dalam kamar pribadi sehabis mengeluarkan bahasa jawa karena kesal dengan pria yang mencuri ciuman, ia pun mengintip mereka dari jendela kamar yang sedikit menghadap belakang rumahnya.
Sampai di mana keduanya masuk kembali ke dalam rumah, dengan ia mempersiapkan diri untuk tetap seperti biasa, tanpa memedulikan tatapan dari pria yang terus mencuri-curi lihat ke arah dirinya.
__ADS_1
“Kakak janji-kan mau mengantarku pulang ke mansion?” Rolando memastikan Kakak cantiknya itu tak mengkhianati sebuah janji yang sebelumnya di obrolkan oleh keduanya.