Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Tegar Dari Luar Rapuh Di Dalam


__ADS_3

Tak lama kemudian pintu ruangan pria itu kembali dibuka, bersamaan dengan masuknya Araela ke dalam ruangan itu, hingga dua pria berbeda generasi terkejut melihat kedatangannya.


“Apa kalian terlalu lama menungguku?” Lontaran tanya meluncur bersamaan dengan dua kecupan hangat mendarat, di pipi Rolando yang membuat duda casanova cemburu melihatnya. “Tak perlu cemburu dengan anak sendiri!”


“Bagaimana kamu bisa mengetahuinya, Hon?” tanya Rewindra dengan mimik wajah penasaran.


“Terlihat dari tatapan matamu menaruh, rasa cemburu terlalu berlebihan pada Oland. Padahal setiap malam kau ....” Gadis itu enggan meneruskan karena teringat ada sang putra yang masih, belum pantas untuk mendengarkan pembahasan orang dewasa. “Sudahlah tak perlu membahas karena, dia belum cukup untuk memahaminya.” Kemudian Araela mengganti topik lain dengan, mengajak dua pria berbeda generasi untuk segera ke tempat tujuan. “Lebih baik kita berangkat ke sana! Kau tak ingkar dengan janjimu dengan dia bukan, Bee?”


Rewindra mengangguk. “Jangan khawatir, Honey! Aku sudah meminta Louser untuk mengosongkan jadwalku hari ini.” Pria itu sama halnya dengan sang putra yang sudah sangat lama, tak berkunjung ke makam wanita yang melahirkan Rolando. “Aku merasa bersalah karena tak pernah, berkunjung maupun mengajaknya ke sana.”


“Sudah-sudah jangan salahkan dirimu, ayo aku tunggu kalian di mobil!” Araela mencebik kesal dengan, pria itu yang selalu menyalahkan diri sendiri. “Belajarlah untuk berdamai pada takdirmu juga! Jangan lama-lama termenung, aku pergi ke bawah dulu.” Gadis itu meninggalkan dua pria berbeda generasi yang masih bungkam.


Tak berselang lama kemudian, dua pria berbeda generasi itu akhirnya menyusul ke bawah, di mana seseorang menunggu mereka di dalam mobil.

__ADS_1


“Maaf!” Dua prianya Araela kompak mengucap sepatah maaf, karena telah membuatnya menunggu lama. “Kamu tidak marah pada kami bukan, Hon?” Rewindra mewakili sang putra bertanya sembari, memegang setir kemudi yang sedang mengarahkan ke tempat tujuan mereka.


“Fokuslah menyetir!” Melipat kedua tangan di atas perut, gadis itu enggan menjawab pertanyaan sang suami. “Jangan alihkan pikiranmu untuk menatapku, kau sedang membawa tiga nyawa di dalam mobil ini.” Tanpa meragu Araela memberi, peringatan yang tertuju pada sang suami.


Membuat Rewindra menurut tanpa berani membantah peringatan yang terucap dari bibir sang istri, hingga tak lama kemudian hanya sekitar empat puluh menit dari perkantoran, mobil dikemudikan oleh pria itu telah sampai di halaman parkir makam, bersamaan dengan itu turunlah ia dan disusul oleh istri beserta putranya.


“Sampai di sini kita berpencar, Bee.” Araela membuka suara yang membuat, Rewindra terkejut mendengarnya. “Ajaklah dia ke makam mommynya!” lanjut gadis itu dengan nada menitah.


“Aku memang mengajaknya ke sini, tapi tugasmu sebagai 'ayah' yang harus kau lakukan untuknya!” Araela mempertegas bahwa ia ingin sang putra lebih mengenali, seseorang yang telah melahirkannya ke dunia meskipun belum pernah bertemu sekaligus. “Putraku harus mengenal sosok ibu yang melahirkannya ke dunia! Sana ajak masuk dia ke dalam, jangan lupa untuk memberikan bunga kesukaannya! Aku mau ke makam mamaku.”


“Kamu tak ingin kutemani menemui mama mertua, Hon?”


Araela menggeleng tegas. “Dia lebih membutuhkanmu! Nanti kalau sudah, aku menyusul kalian.” Langkah kaki gadis itu semakin melesak jauh ke dalam pemakaman mewah, hingga tubuh mungil itu pun tak terlihat oleh pandangan mata Rewindra.

__ADS_1


“Sudah siap bertemu dengan mommymu, Boy?” Rewindra bertanya serius. “Maaf baru mengajakmu bertemu dengannya.”


Rolando enggan membahas karena pria kecil itu terlihat sangat antusias, bertemu dengan wanita yang melahirkannya.


Tak lama kemudian langkah kaki mereka sampai, pada sebuah makam dengan ukiran cantik pada batu nisan sesuai, permintaan dari mendiang wanita yang melahirkan Rolando.


'Sayang, maaf baru datang!' Dalam batin pria itu tak berhenti mengucap kata maaf karena, baru pertama kali mengajak Rolando ke tempatnya. 'Apa lagi mengajaknya bertemu denganmu pun baru pertama kali kulakukan.' Tanpa terasa air Rewindra meluruh sendiri, mengingat semua kesalahan sampai menorehkan luka hati. 'Aku hanya tak kuat melihat wajahmu yang melekat di dalam dirinya. Maaf telah menorehkan luka di hati putra kita, tapi aku melakukan semua itu untuk mengalihkan, rasa lukaku karena kamu meninggalkanku sendiri.'


Dua pria berbeda generasi mencurahkan isi hati masing-masing, bersamaan dengan Rewindra yang tak berhenti meminta maaf.


Sementara itu, di sisi lain Araela tak kuat menahan air mata yang enggan berhenti mengalir deras, hanya di hadapan batu nisan bertulisan nama sang mama tercinta, gadis itu mencurahkan segala perasaan yang selama ini menjadi beban di pundaknya.


“Ma ....”

__ADS_1


__ADS_2