
“Apa kau akan mendatangi pesta pertunangan dan juga diumumkannya putri mahkota yang menghilang itu?” sahut Pangeran Devander yang, sedang membuyarkan lamunan sang putra.
“Kita lihat saja nanti ya, Yah ... lagi pula apa nanti dia tidak merasa, dikecewakan karena telah menyembunyikan fakta tentang jati dirinya?”
“Ayah sendiri pun tidak tahu. Apakah nanti dia menerimanya atau tidak, yang terpenting ibumu bisa bertemu dan bertatap muka dengannya.”
Kemudian David mengarahkan tatapan raut wajah sang ibunda yang benar-benar, tidak sabar ingin segera bertemu dengan keponakan tercinta.
“Ibu ….”
Tak tahan melihat raut wajah sendu dari sang permaisuri, David membawa ibundanya ke dalam dekapan sambil memberikan, penghiburan untuk sang ibu agar tidak terlalu mencemaskan keberadaannya.
“Jangan bersedih, Ibu ... nanti juga kamu akan segera memeluknya, seperti sekarang yang sedang kuʼ lakukan.”
Akan tetapi, tindakan yang dilakukan oleh David memantik api cemburu di dalam diri sang pangeran, sebab pria baya itu sungguh tidak terima jika putranya sendiri memeluk mesra sang permaisuri tercinta.
“Ck, Ayah jangan pelit-pelit dengan putramu sendiri. Sudah tua begini masih saja cemburu denganku ... apa perlu aku membawa kabur Ibu?” protes David sembari tak hentinya menggoda sang ayah tercinta.
“Berani sekali kau membawa kabur permaisuriku, hah! Cari sendiri sana ... jangan memeluk istriku lagi. Paham!” sahut Pangeran Devander dengan bibir mengerucut kesal.
Sebab, putranya ini suka sekali menggoda dirinya. Sudah mendapat hukuman, ditambah dengan kehadiran David makin membuat hati pria baya itu dongkol.
Berbeda dengan sang permaisuri yang melihat tingkah laku dari kedua pria berbeda generasi itu pun, membuatnya menggelengkan kepala sudah lama ia tidak melihat keduanya berdebat.
“Ayahmu seperti itu karena sedang menjalani hukuman dari Ibu!” Perkataan tentang hukuman yang diucapkan oleh sang ibunda, membuat pria muda itu berpikir untuk apa ibundanya menghukum sang ayah?
Hal tersebut menarik perhatian dari pria muda itu, yang kemudian dia pun menanyakan langsung kepada ibunya. “Memangnya Ibu menghukum Ayah karena apa?”
__ADS_1
“Kamu seperti tidak tahu tingkah laku dari Ayahmu, sayang.”
Ketiganya pun terlalu dalam obrolan, sampai sang putra kembali berpamitan serta berjanji, akan membantu mengamankan acara pertunangan yang akan di adakan dua minggu kemudian.
*
*
*
Sementara itu, setelah menghabiskan masa liburan sehabis masa sidang skripsi. Gadis itu kembali ke aktivitas seperti biasa dan di kampus tempatnya menimba ilmu, saat ini Araela tengah mengobrol dengan Asyifa yang kebetulan memberitahukan tentang kabar pertunangan tersebut.
“Apa kamu akan datang, Ra?” tanya Asyifa.
“Datang dalam rangka apa?” jawab Araela seraya balik bertanya.
“Bukankah kamu adalah pegawai di kantor milik Omku, Ra ... seharusnya setiap pegawai diwajibkan datang ke acara tersebut.” Asyifa menegaskan bahwa di kantor milik omnya itu, sama sekali tidak pernah membedakan antara karyawan lain yang bekerja di sana.
Asyifa yang mendengar pertanyaan dari Araela, menganggukkan kepala karena dia benar-benar ingin ditemani oleh sahabatnya sendiri, tanpa pernah mengetahui bahwa pesta pertunangan itu adalah pesta milik sang sahabat tercinta.
“Se-senang inikah kamu ditemani olehku ke pesta pertunangan itu?” ejek Araela dengan bibir mencebik sinis.
Sementara itu, Asyifa hanya bisa meringis pelan sambil memamerkan senyum yang menunjukkan beberapa gigi gingsul, gadis itu mulai bercerita tentang kehidupan sang om-nya kepada sang sahabat dan membuat Araela merasa familier mendengarnya.
“Apa kau tidak takut diintai ketika menceritakan kehidupan om-mu kepadaku?” lalu gadis itu melanjutkan ucapannya melalui hati. Bahkan aku merasa familier mendengar kisahnya yang kau ceritakan, apakah aku benar-benar mengenalnya? Jujur saja setiap kali bertemu selalu saja membuat darahku mendidih, mengingat tingkah lakunya ingin sekali kuʼ patahkan.
Jawaban dari Asyifa membuat gadis itu menghentikan lamunan yang tiba-tiba, memikirkan tingkah laku dari sang duda casanova dengan julukan pria kurang belalaian.
__ADS_1
“Aku ke toilet sebentar, ya.” Meninggalkan sang sahabat dengan raut wajah bingungnya.
Sebab, dia ke toilet untuk menghilangkan semburat merona yang menghiasi kedua pipi gadis bar-bar tersebut.
“Sialan duda kurang belalaian itu, membuat pikiranku tak karuan sekarang. Apakah aku terkena pelet pesonanya? Membayangkan jalan bersama dia, membuat buluku berdiri. Dan bayangkan itu seperti mimpi buruk bagiku.” Menatap diri sendiri di pantulan kaca yang ada di toilet, sembari bermonolog kesal karena dia tidak begitu mengerti dengan diri sendiri.
Cukup lama berada di dalam toilet, membuat gadis itu tersadar karena telah meninggalkan sang sahabat, bahkan dia tidak percaya dengan keteguhan Asyifa yang rela menunggunya.
Sebagai permintaan maaf dia pun mengajak sang sahabat ke tempat buku, sambil mengajak Asyifa ke tempat lain yang tidak akan pernah dilupakan oleh dia sendiri.
.
.
.
.
.
Kisah seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada seorang lelaki bermata elang.
Keduanya berasal dari strata yang berbeda tetapi dengan kekuatan cinta tulus yang dimiliki Sasha berhasil menaklukkan Galaxy cowok bermata elang yang terkenal dingin dan penyendiri.
Galaxy lelaki yang punya trauma masa kecil dengan keluarganya. Selama ini hanya merasakan cinta dan kesetiaan dari seekor anjing kesayangannya yang berjenis Husky.
Husky bermata biru inilah yang akhirnya bisa mengobati trauma masa lalu Galaxy dan menemukan cinta sejatinya.
__ADS_1
Ikuti kisah Sasha dan Galaxy dalam menemukan cinta sejatinya bersama anjing kesayangan mereka Grey Husky bermata biru.