Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

Kembali lagi di sebuah mansion, dengan Dahlia masih terus mengeluarkan raut wajah yang sulit di artikan, mengingat ia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran sang putra. Namun, bukan Dahlia namanya jika tak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.


Tanpa ia sadari ada seorang gadis yang menatap ke arahnya, dan pandangan mata keduanya pun bertabrakan, hal tersebut membuat ia meringis pelan karena tak mengetahui jika di mansionnya masih ada orang. “Maafkan tante, Nak. Tante tidak tahu kamu masih ada di sini.”


“Tidak masalah, tan.” Menyahutnya dengan nada lembut, dan juga ia meminta izin untuk menengok keadaan Rolando yang sedari tadi belum menampakkan diri. “Boleh-kah saya meminta izin untuk masuk ke dalam kamar Ando, tan?”


“Eh, kamu kenapa meminta izin segala. Masuklah, tak perlu sungkan anggap seperti rumahmu sendiri. Oke.” Dahlia terkejut dengan sifat dan sikap yang ditujukan oleh gadis tersebut, mengingatkannya pada mendiang sang sahabat yang telah lama meninggal.


Sembari terus menatap ke arahnya yang terus berjalan, dan menapaki tangga menuju ke kamar pribadi sang cucu tercinta.

__ADS_1


Aku rindu denganmu, dan mengapa kau meninggalkanku sendiri di sini? Bahkan aku tak akan bisa lagi mendengar keluh kesahmu, sampai sekarang tak pernah ku-merestui pernikahan suamimu itu karena, aku sangat membencinya yang begitu bahagia di atas penderitaanmu.


Dahlia sendiri tak menyangka sahabatnya dulu yang dijodohkan itu harus mengalami siksa batin dan fisik diakibatkan, sang pria tak lain Prasetya tak menerima pernikahannya itu, dan lebih menyakitkan justru pria itu tak pernah mencintainya.


Bahkan ketika pria menikah lagi, dan tak pernah mau memedulikan keberadaan putri kandungnya sendiri, ia juga merasa nasib yang dialami putri mendiang sahabatnya itu sama seperti yang dialami oleh sang cucu tercinta.


“Sayang sedang melamunin apa sih?” Pramana begitu terkejut melihat sang istri yang tiba-tiba melamun, tanpa banyak kata ia berjalan menghapari dan memeluknya dari belakang.


“Aku sedang teringat dengan mendiang sahabatku, Mas.” Kehilangan sahabat membuatnya terpukul dengan kematian yang dialami oleh sahabatnya itu. “Kenapa nasibnya harus seperti ini, Mas? Sampai tiada pun dia tak pernah sedikit pun berpaling dari pria yang tak pernah mencintainya.”

__ADS_1


“Sudah-sudah jangan menangis lagi. Oke. Lalu apa kau masih membenci pria itu, dan juga dia yang telah membuat sahabatmu menderita?” Pramana tanpa bertanya pun, seakan memahami seseorang yang telah membuat istrinya seperti ini.


Dahlia mengangguk lemah, tebakan sang suaminya tepat sekali, karena sampai sekarang ia masih membenci seorang yang bernama Prasetya Gayatri Smith.


“Aku bahkan mau menemui, dan membahas perjodohan yang telah direncanakan oleh kedua orang tua, terutama mendiang ibuku yang selama ini turut andil, Sayang. Apa kamu akan marah?”


Pernyataan yang dilontarkan oleh sang suami, membuatnya terkejut ketika mendengar kenyataan, bahwa mendiang mertuanya-lah yang turut andil dalam perjodohan akan direncanakan untuk sang putra tercinta.


“Jadi, mendiang ibumu yang telah merencanakan hal ini, Mas? Kalau mau bertemu, silakan bertemu untuk apa aku marah. Marah pun tak akan mengembalikan sahabatku, terpenting saat pertemuan nanti. Mau tak mau pria s!alan itu juga harus setuju perjodohan yang dilakukan mendiang ibu.”

__ADS_1


__ADS_2