Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Membukakan Jalan Untuk Mencairkan Hati Beku


__ADS_3

Dahi Dahlia menyerngit karena wanita baya itu bingung mendengar permintaan maaf yang diucapkan oleh gadis itu dengan dia membalik pertanyaan. “Maaf untuk apa, Sayang?”


“Maaf tidak bermaksud untuk menolak menginap di mansion ini, Mama ... hanya saja aku tidak ingin ....” Nampak raut wajah ragu gadis itu ketika dia ingin mengutarakan alasannya menolak menginap di tempat tidak seharusnya, karena Araela benar-benar ingin menjaga perasaan putra-nya demi melindungi hak dari seseorang yang pernah singgah di mansion tersebut.


Wanita baya itu sudah menduga jika menantunya ini seperti sedang tidak enak hati tapi, dia tidak mengetahui apa yang membuatnya merasa terbebani tentang penolakan menginap di mansion.


“Baiklah jika memang kamu tidak ingin mengutarakan apa yang membuatmu terbebani ... Mama tidak akan mempermasalahkan hal ini, tapi pinta Mama hanya satu untukmu ... selagi Rolando sering menginap di mansion, kamu harus mau tidur bersama suamimu di kamarnya. Bisa?”


Araela pun mengangguk kecil dan bersamaan itu setelah mereka menyelesaikan sarapan masing-masing dengan Rewindra mengemudikan laju, mobil mewah yang sedang mengarah ke rumah tempat mereka tinggal sampai gadis itu mempersiapkan diri naik ke tahta singgasana di sebuah kerajaan.


“Apakah ada sesuatu yang membebani pikiranmu selama kakimu terpijak di mansion sana?” Sambil pikiran dengan jalanan yang renggang, Rewindra melontarkan pertanyaan tanpa bermaksud menyinggung gadis tersebut. “Kalau benar-benar ada yang merasa menjadi beban pikiranmu ... bagilah mulai sekarang hanya di hadapan suamimu ini, Honey!”


Bibir gadis itu terkatup rapat tanpa enggan membalas pertanyaan yang terucap dari suaminya sendiri, hanya saja dia benar-benar tidak ingin menjadi seseorang egois demi membangun hubungan kembali.


Sampai dia mendengar suara dengkusan kesal diiringi bibir pria tengah menyetir berkerucut kesal dengan sikap dinginnya hingga gadis itu, diam-diam menyeringai dingin tanpa disadari oleh Rewindra jika Araela sedang mengusahakan terbukanya sebuah hati yang membeku.


Tidak berselang lama kemudian laju mobil yang dikemudikan pria itu sampai di halaman parkir rumah sederhana milik gadis itu, dengan dia tengah mempersiapkan diri untuk menggendong tubuh Rolando karena tidak ingin mendapat amukan dari putranya sendiri.

__ADS_1


“Letakkan dia di kamarnya!” Nada perintah meskipun terkesan dingin membuat Rewindra tidak banyak menuntut dengan dia, menggendong tubuh putranya masuk ke dalam kamar sendiri yang sudah dipersiapkan untuk anak lelaki tersebut.


Gadis itu pun masuk ke dalam kamar pribadi yang di tempat oleh dia bersama sang suami dengan dirinya mengeluarkan laptop pribadi untuk memulai aksi kembali.


Menelusuri beberapa pemberontakan yang terjadi di istana kerajaan sampai gadis itu menemukan seseorang, dalang dibalik aksi pemberontakan rakyat karena tidak terima jika sang raja digantikan oleh dirinya kelak.


“Wah-wah tidak kusangka mereka sangat berani melakukan hal seperti ini di kerajaan kakek?”


Bahkan aksi gadis itu menarik perhatian Rewindra yang terlihat bingung dengan tingkah laku dilakukan oleh gadis misterius. Dia sendiri tidak memahami jalan pikiran yang diambil oleh Araela begitu sangat serius memainkan laptop.


Sampai pria itu memutuskan untuk menghampiri istrinya yang begitu lincah menelusuri layar laptop hingga pandangan, netranya membeliak melihat sesuatu hal yang membuat sang istri menahan amarah memuncak di ubun-ubun.


Tidak ingin suara umpatan itu terdengar ke telinga putranya dengan bergerak cepat dia memberi serangan dadakan, hingga gadis itu terkejut melihatnya melakukan hal yang sudah sering dibahas oleh mereka.


“Apa kau ingin membunuhku, ha!” Araela menyentak tinggi dengan deru napas tersengal-sengal akibat serangan dadakan yang dilakukan oleh suaminya. “Apa sikap ini selalu ditunjukkan olehmu terhadap diriku?”


Mengusap bibir ranum candu berbahayanya tanpa enggan membalas jawaban yang ditujukan untuk dirinya, hingga dia berganti mendengar dengkusan kesal karena gadis itu seperti marah akan sikapnya.

__ADS_1


Dia melakukan hal itu untuk mencegah telinga putranya mendengar nada suara tidak biasa yang terucap dari bibir gadis tersebut.


“Bukankah kamu sudah mendengar dengan sendiri apa yang sering kukatakan pada dirimu, Nyonyaku?” tegas Rewindra dengan sorot mata teduh yang membuat sikap gadis itu semakin dingin dengan batinnya, merasakan keteduhan di dalam sorot mata pria yang tidak berhenti membuka kebekuan hatinya. “Dan juga aku tidak ingin di kamar sebelah dia mendengar nada tidak biasa yang terucap dari bibir ini!”


Mereka pun bungkam sampai gadis itu melanjutkan kembali apa yang sedang dilakukannya sekarang dengan Rewindra di samping setelah berhasil memberinya serangan dadakan.


“Kamu marah atas sikapku, Nyonya?” Sampai beberapa menit kemudian Rewindra melontarkan pertanyaan.


“Tidak.” Singkat dan padat membuat pria itu tidak berani melontarkan pertanyaan, tapi netra pandangan mata tidak luput dari jemari sang istri yang begitu lihai menari-nari di atas keyboard. “Aku ingin kau tidak mencampuri semua urusanku dengan kerajaan ... tapi, aku tidak akan melarangmu melakukan apa yang selalu kau lakukan pada diri ini ... apa kau paham dengan semua yang kukatakan?”


“Apa itu semacam negoisasi untukku, Nyonya?”


Araela mencebik kesal dengan pertanyaan tidak bermutu dari pria tersebut. “Aku tidak memberimu negoisasi tapi aku hanya sedang membukakan jalan untukmu ... bukankah kau selalu membual ingin membekukan hati dinginku ini, hm?”


Rewindra dibuat tercengang mendengar penuturan yang terucap dari bibir ranum candu berbahaya, dengan dia memastikan jika gadis itu sedang tidak mempermainkan perasaannya. “Nyonya ... apa kamu sedang ....”


“Tidak ada pengulangan apa pun yang kukatakan pada dirimu semuanya sudah, sangat jelas dan kau harus memahami dengan sendiri tanpa bertanya lagi!”

__ADS_1



__ADS_2