Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

Rewindra yang masih di dalam kuda besi itu, tanpa sadar seulas senyum tipis tersungging dibibirnya, mana kala mengetahui Putranya ada di dalam rumah seseorang yang pernah ia tolong itu.


Bagaimana mungkin dia ada di rumah itu? Dan juga apa Papa mengenalnya? Bahkan aku tak tahu kalau Putraku justru akrab dengannya.


Sampailah mobil kesayangannya di depan pagar rumah yang baru saja dipijak oleh dirinya seraya memastikan apakah rumah sang Putra ada di rumah itu.


Dengan sorot mata yang dingin ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut seraya menatap ke arah sekeliling rumah sederhana yang begitu terawat dengan rapi.


Ketika berada di depan pintu rumah tersebut, ia pun mengambil pasokan oksigen yang tak lupa dengan sorot mata dingin itu, sambil tangannya terangkat mengentuk pintu berkali-kali.


Tak berselang lama pintu itu pun terbuka dengan seseorang yang terkejut melihat kedatangannya. Namun, ia tergugu karena pemilik rumah itu sama sekali tak takut dengan sorot mata dinginnya itu.


Secara tak langsung ketika menatapnya tanpa ekspresi yang membuat sinyal di bawah tak terkendali. Belalai gajahnya pun tiba-tiba merasa sesak hanya menatap wajah dan manik mata itu.


S!al! Mengapa tiba-tiba seperti ini lagi. Aku datang ke rumah ini bukan ingin melihat wajahnya, tetapi aku ingin menjemput Putraku. Dasar kau keras kepala sekali!


batinnya mengumpat kelakuan belalai gajah yang tiba-tiba berdiri dengan gagah hanya sekali menatap wajah gadis tersebut.

__ADS_1


Lamunannya buyar ketika ia mendengar suara pertanyaan dari gadis bar-bar tersebut. “Untuk apa datang kemari, Pak? Ingin bertemu dengan siapa?”


“Aku ingin menjemput Putraku. Apakah dia ada di dalam?” jawab Rewindra dingin.


“Masuklah kalau Anda ingin melihat keadaannya.” Ajakkan dari Araela tak di sia-sia–kan oleh dirinya yang bergegas masuk dan mengikuti langkah pemilik rumah.


Sampai di mana ia mendapati pemandangan yang membuat sorot mata dingin berganti berkaca-kaca, tanpa sadar air matanya menetes dengan sendiri.


Ketika ia melihat Putranya tertidur dengan lelap, seperti bayi yang begitu sangat polos. Tak mungkin dia tidur terlelap di rumah ini? Apa kamu begitu nyaman dengan pemilik rumah ini, Boy?


Araela yang sedang membuatkan minuman terkekeh pelan ketika ia mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh atasannya. Secara tak langsung ia telah mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan mendiang Neneknya. “Apa itu penting untukmu, Pak?”


Tak berniat membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis bar-bar tersebut. Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar. Karena gadis itu enggan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan pada dirinya.


Secara kebetulan gadis itu membawa nampan yang di atasnya terdapat kopi dengan uap panas masih mengepul setelah itu ia menyuguhkan untuk tamu spesial tak lain pria itu orang tua dari Rolando Wiratama. “Silakan di minum, Pak! Anggaplah rumah ini seperti rumah, Anda.”


“Tunggu, kau mau ke mana?” tentu saja ia sendiri pun merasa sungkan ketika gadis itu memberinya minuman kopi kesukaannya.

__ADS_1


Tak mengidahkan pertanyaan dari atasannya yang tak lain orang tua Rolando. Araela bergegas melangkahkan kakinya ke belakang rumah karena ia baru teringat dengan ikan-ikan di kolam kecil yang sengaja di bangun oleh dirinya.


Tanpa ia sadari Rewindra mengikuti langkah kakinya yang begitu cepat pria itu menahan pergelangan tangan gadis tersebut untuk membalik menghadap dirinya.


Akan tetapi, tak disangka-sangka kepala gadis membentur dada bidangnya yang tinggi dari gadis bar-bar itu pun hanya sebatas dadanya.


Secepat kilat Rewindra membungkukkan sedikit tubuhnya yang mana dengan gerakan cepat ia menubrukkan bibir tipisnya di atas bibir ranum gadis tersebut, yang kemudian pria itu pun melu’mat secara lembut dan memainkan bibir tersebut untuk melampiaskan rasa sakit yang mendera belalai gajahnya.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2