
“Baby, aku tidak bersalah! Dia yang memulai duluan, bahkan berdekatan dengannya membuatku mual. Bau tubuhnya beneran seperti kotoran sapi, aku hanya ingin mencium aroma tubuhmu! Apa boleh?” Morgan menyahut seraya melemparkan kesalahan, tidak lupa ia melontarkan pinta.
Membuat Rewindra mendengkus kesal mendengarnya. “Hei, kenapa melemparkan kesalahanmu padaku, Om?” Pria itu enggan memberi luang untuk sang istri bersuara. “Harusnya kau yang bersalah karena mengganggu istirahat kami!”
Belum sempat Morgan membalasnya gadis itu lebih dulu menyela obrolan, dua pria yang selalu membuat ubun-ubun kepala mendidih. “Nanti kalian lanjutkan di atas ring tinju! Untuk kau, Om. Apa masih tidak beres dengan mual yang kau rasakan?”
“Ya, Baby.” Morgan mengeluhkan rasa mual itu di hadapan sang keponakan tercinta. “Aku benar-benar tidak tahan berdekatan dengan suamimu! Apakah ada yang salah pada tubuhnya?”
Araela bungkam karena gadis itu enggan memberitahukan perihal, kehamilan simpatik yang diderita oleh bujang lapuk itu. Ia ingin memberi hukuman karena telah membuat Citra, menghilang ditelan bumi yang tidak diketahui keberadaannya.
Belum sempat gadis itu bersuara kembali di dalam saku celana yang dikenakan, bergetar dering ponsel dengan merk tipe keluaran ternama itu memintanya untuk, segera menjawab yang terdengar sapaan di arah seberang.
“Apa aku mengganggumu, Ra?”
“Ada apa?” Ara balik melontarkan tanya. “Sudah sampai mana pesananku?”
“Jangan cemas, Ra. Aku menyimpan pesananmu di tempat biasa, atau mau aku kirim di rumahmu?” Millo di arah seberang itu memberi tawaran. Namun, ditolak oleh gadis tersebut.
“Biarkan aku mengambilnya sendiri! Apa kau sudah menemukan kejanggalan itu, Kak?”
“Tidak enak mengobrol di ponsel, Ra. Harus bertemu dulu karena ada hal lain, yang ingin ku’ bahas denganmu!”
Enggan memberi jawaban yang pasti, gadis itu memutuskan panggilan sepihak. Membuat raut wajah dua pria berbeda generasi mengernyit heran, ketika mereka sedikit mencuri dengar obrolan gadis tersebut.
'Pesanan apa yang dimaksud oleh Baby? Kenapa dia semakin bersikap dingin terhadapku?' Morgan bersuara dalam batin, begitu juga yang dilakukan oleh Rewindra.
'Siapa pria yang menghubungi wanitaku? Kenapa harus ada kata barang pesanan? Apa yang direncanakan olehnya?'
“Kenapa dengan wajah kalian?” Suara teguran bernada dingin menyentak lamunan dipikiran masing-masing, dua pria berbeda generasi hingga mereka menggeleng bersamaan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, sepasang suami — istri itu pun bergegas meninggalkan lokasi mansion bujang lapuk. Mereka tidak bisa terlalu lama menginap di tempat itu, mengingat Rolando juga tidak bisa berlama-lama di mansion kedua orang tua Rewindra.
*
*
*
“Apa Anda yakin dengan rencana ini, Nyonya?” Seorang pria yang merupakan sang tangan kanan itu, melontar tanya dengan raut wajah terlihat ragu.
Pasalnya wanita di hadapannya yang sedang menikmati embusan asap rokok mengudara ke atas, seperti enggan membalas maupun menjawab atas pertanyaan yang terlontar untuknya.
Sudah enam tahun berlalu wanita itu memendam perasaan rindu menggebu-gebu, pada seorang pria dan pria itu memberikan kesan malam indah, hingga sampai sekarang masih membekas di hati serta ingatan wanita itu.
“Tidak usah ragu dengan rencana yang sudah lama ku’ susun! Tujuan untuk membuatnya mengingat malam indah itu. Aku tidak peduli dengan pernikahannya yang sekarang dan, sampai kapan pun hanya aku seorang yang pantas bersanding di sisi priaku!” Tegas dan diiringi kepercayaan yang begitu tinggi. “Bukankah aku bisa memakai kartu as milikku?” Wanita itu melontar tanya.
Membuat sang tangan kanan wanita itu mendelik, begitu mendengar lontaran tanya tentang kartu as nyonyanya.
Siapa yang menyangka sang nyonya menggunakan trik kotor dengan rapi untuk bisa masuk, ke dalam kehidupan pria yang pernah memberikan arti malam indah itu.
“Nyonya akan memperkenalkan tuan muda kecil pada keluarga itu?” Sang tangan kanan itu memastikan.
“Sudah terlalu lama aku membiarkannya bersenang-senang dengan wanita lain, lalu aku tidak bisa menahan diri karena putraku perlu mengetahui wajah daddy-nya.” Kristal nama wanita yang pertama kali merasakan, malam indah bersama pria itu menegaskan. Apa yang menjadi rencana dilakukan oleh dirinya, tidak mungkin bisa mengulur waktu kembali. “Sekarang paham bukan dengan tujuan yang aku lakukan untuk putraku?”
Seketika pria yang merupakan tangan kanan Kristal menjadi kelu, bahkan ia tidak dapat berkata apa pun ketika sang nyonya bersuara.
Ia pun memilih mengalah dan mengakhiri perdebatan dengan mengganti topik lain. “Maafkan atas kelancangan, Nyonya Kris. Mengenai rencana yang Anda lakukan, saya akan selalu mempersiapkan diri sebelum waktunya. Namun, Anda sudah memastikan lawan yang akan dihadapi oleh Anda nanti, Nyonya?”
Kristal mengernyit heran mendengar lontaran tanya dari pria itu. “Maksudmu istrinya dia yang sekarang ini?”
__ADS_1
“Tidak memastikan dulu siapa lawanmu, Nyonya?”
“Tidak perlu!” Kristal bukan ragu dengan lawannya. Namun, wanita itu berpikir jika istri dari pria miliknya sudah pasti bisa dikalahkan oleh mudah karena, dia sendiri sudah memeriksa beberapa bagian masa lalu dari lawannya kali ini. “Bukankah kita mengetahui kelemahan dari lawanku itu? Aku rasa dia pasti mudah dihadapi nanti.” Tekad dan percaya diri yang tidak disadari oleh Kristal.
Jika, sang tangan kanannya itu benar-benar ragu dengan rencana yang dilakukan oleh dia, dan pria itu jugalah mengetahui identitas asli dari lawan sang nyonya yang begitu percaya diri.
'Nyonya, lawanmu itu bukanlah orang yang mudah disinggung. Jujur saja, aku tidak paham dengan rencanamu yang begitu terobsesi pada lelaki itu. Padahal sudah jelas-jelas, bahwa lelaki itu tidak tertarik pada diri Anda. Apalagi menggunakan trik kotor untuk bisa, masuk ke dalam kehidupan keluarga itu. Aku hanya bisa membantumu sampai di sini karena lawanmu yang akan turun menghadapimu.'
“Saya rasa tidak ada hal lagi yang diutarakan untuk Anda, Nyonya! Saya, pamit undur diri.”
“Katakan pada Rasya, aku akan menemuinya! Sudah saatnya dia berkenalan dengan keluarga itu.”
Tanpa membalasnya pria itu meninggalkan Kristal yang masih betah, termenung setelah menghabiskan beberapa batang rokok yang diisap.
'Sampai bertemu kembali Rewin.'
*
*
*
Sesampai di mansion, mereka pun disambut oleh pria kecil yang parasnya serupa dengan Rewindra, begitu senang dengan kedatangan sepasang suami — istri tersebut. Namun, bungkamnya Araela menarik perhatian dari mertua yang mengernyit heran dengan sikap gadis tersebut.
“Kenapa dengan istrimu, Win?”
Rewindra menggeleng, bahkan ia pun tidak mengerti dengan sikap yang dikeluarkan oleh sang istri, sejak membawa istrinya keluar dari mansion bujang lapuk itu.
Istri kecilnya lebih banyak diam dan mengabaikan tiap candaan, yang dilakukannya di dalam perjalanan menuju mansion orang tuannya.
__ADS_1
“Kenapa tidak tanya dengan sendiri padanya, Ma?”