
“Kemarilah, dan peluklah, pria tua ini. Baru setelahnya, kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaanmu itu.”
Kerinduan yang dirasakan oleh Araela Ayudia Gayatri Smith, tak dapat terbendung kembali dengan berjalan menghampiri, sang kakek yang sedang duduk diatas kursi roda. “Bagaimana kabarmu, Kek? Dan juga kenapa Kakek bisa mengetahui, kalau aku akan datang mengunjungimu?”
“Sekarang kakek akan menjawab pertanyaanmu. Aku mengetahui kamu akan datang berkunjung, karena ada beberapa mata-mata yang kusebar, untuk selalu bisa memantau dan mengawasimu dari kejauhan, dan tindakanku ini apakah membuatmu marah dengan pria tua ini cucuku sayang?”
“Tidak, Kek. Untuk apa aku harus marah denganmu.” Araela mengatakan hal itu dengan santai, karena dirinya begitu sangat yakin bila sang kakek selalu mencintainya tanpa syarat.
“Apa kamu begitu sangat senang tinggal di rumah sederhana yang kamu tempati sekarang?”
“Ya, aku sangat senang dengan kesederhanaan yang kurasakan.” Gadis itu menjawabnya dengan penuh semangat, karena semenjak kejadian fitnahan menggemparkan publik dirinya menjadi pribadi lebih dingin, dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihat senyum tulus yang selama ini disembunyikan rapi.
“Maafkan pria tua ini, karena tak bisa menyelamatkanmu dari fitnahan itu.”
Menggeleng kepala, tanda Araela bukanlah seseorang yang begitu sangat lemah di mata publik. “Jangan merasa terbebani dengan penderitaan, aku sangat ikhlas menjalani takdir yang sudah digariksan untuk Cucumu ini, Kek.”
“Lagipula dengan cintamu yang tanpa syarat itu pun, sudah bisa membuat hidupku lebih berwarna, dan dari cintamu itu aku dapat merasakan arti dicintai yang sesungguhnya.” Gadis itu melanjutkan ucapan, sembari menundukkan kepala untuk menyembunyikan air mata yang tiba-tiba menetes dengan sendiri.
“Sayang, kamu tak akan sendiri di dunia ini, karena kakek dan juga ommu akan selalu menemanimu sepanjang masa, sampai kamu dipertemukan dengan pendamping hidupmu yang bisa mencintaimu tanpa syarat.” Gunawan berkata demikian karena dirinya sangat yakin, jika sang cucu tak lama lagi akan segera mengingat seorang pria yang selama telah menjadi garis takdir jodoh untuk Araela Ayudia Gayatri Smith.
Mereka pun berpelukan kembali untuk menyalurkan kerinduan didalam diri masing-masing, dan membuat Gunawan terkekeh lucu ketika mendengarkan suara keroncongan yang berasal dari sang cucu tercinta. “Kamu belum sarapan?”
“Itu, a —” meringis pelan, karena semenjak keluar dari mansion milik seseorang, dirinya berusaha menahan lapar, hanya untuk menghindar tatapan mesum dari orang itu.
“Ya sudah kalau begitu, ayo sayang kita sarapan bersama, dan juga apa kamu tak merindukan ommu?”
“Memangnya dimana om Gan-Gan, Kek? Sejak aku datang tidak melihat batang hidungnya.” Satu-satunya orang yang begitu sangat dicintai oleh gadis itu.
“Kamu seperti tak tahu tingkah lakunya saja, jam segini mungkin ommu masih tertidur pulas.”
__ADS_1
Orang yang diobrolkan tiba-tiba datang menimbrung. “Ayah jangan menfitnahku seperti itu, didepan bayi mungilku enak saja mengatai putramu sendiri tukang tidur.”
“Hei Baby, kemarilah, tak rindukah kamu denganku?” Pria matang, tak lain Morgan Gayatri Smith meminta bayi mungilnya mendekat, dan memberinya pelukan kerinduan yang begitu dalam, untuk seorang wanita menjungkir balik dunia pria itu.
“Tentu saja aku sangat rindu denganmu, Om.” Gadis itu berucap, sembari membalas pelukan hangat dari pria yang selama ini dia anggap sebagai pengganti mendiang sang mama.
“Sudah-sudah nanti kalian bisa berpelukan kembali, kakek juga sudah lapar dan kamu bisa meminta sarapan kesukaanmu.” Gunawan mengajak sang anak, dan juga cucunya untuk menikmati sarapan yang hanya sekali dirasakan oleh pria tua itu.
Akan tetapi, tidak dengan Morgan yang terlihat memicing mata tajamnya, dan ketika mengetahui sebuah tanda keunguan dijenjang leher putih bayi mungilnya, pria matang itu mengumpat geram karena telah terjadi kecolongan didalam diri, gadis yang selama ini selalu dia anggap seperti anak kandung sendiri.
S!alan! Siapa yang melakukan itu pada dirimu Baby? Jika aku menemukan orang yang membuatmu lecet sedikit saja, maka bersiaplah berhadapan denganku karena aku tak akan membiarkan siapa pun terbebas dari genggaman tanganku.
Sebagai seorang pria matang yang telah melewati banyak purnama. Morgan sangat tahu banyak hal tentang tanda keunguan, dan jelas saja ia mengenal sebuah tanda yang terpampang nyata dileher bayi mungilnya. “Baby leher kamu kenapa ada tanda keunguan disini?” Morgan memberanikan diri menanyai sang bayi mungil itu.
Deg —
“Coba kamu bercermin, dan disana nanti kamu sendiri, akan melihat tanda itu dilehermu.” Morgan menitah. Namun, sang ayah melarang hal itu, karena biar bagaimanapun putranya tak perlu mencampuri urusan pribadi sang cucu tercinta.
“Kamu seperti tak pernah muda saja, Boy. Untuk kejadian yang menimpa bayi mungilmu, tak perlu kamu cemaskan hal yang berlebihan begini, dan jangan membantah apa pun karena ayah sudah sangat lapar.”
“Baik, Kek, Yah.” Keduanya kompak menyahut, tanpa membantah permintaan dari Gunawan.
Ketiga orang itu pun menikmati sarapan pagi bersama, tanpa ada seorang pun yang berani berbicara ketika sedang didepan meja makan, dan bersamaan itu sekitar lima belas menit kemudian Morgan tanpa permisi kembali menanyai, sebuah tanda yang terpampang nyata dileher bayi mungilnya. “Bolehkah aku mengetahui siapa pun melakukan hal ini denganmu, Baby?”
“Ayolah jangan dibahas, lagipula untuk kamu membahas hal, yang tak penting buatku seperti ini.”
Melihat bayi mungilnya yang tak mau membahas soal tanda dileher. Membuat Morgan mengalah karena ia bisa melihat ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh bayinya itu. “Baiklah kalau begitu, aku tak akan membahas apa pun berhubungan denganmu. Namun, bila aku menanyai hal ini apa kamu keberatan?”
“Tentangnya?” tebak Araela sembari balik bertanya.
__ADS_1
“Ya, Baby. Kamu benar, aku ingin menanyakan hal ini kepadamu, rindukah kamu dengan dirinya?”
“Mau aku menjawab kejujuran atau kebohongan, Om?”
“Sesuka hatimu juga tak masalah, Baby.”
“Jangan tanyakan kembali denganku, karena aku tak akan menjawab pertanyaan yang sama. Selama luka yang ditinggalkan, aku selalu berusaha menutup kerinduanku dengan cara membencinya, sercecah kata maaf pun tak akan pernah bisa membuat orang yang melahirkanku ke dunia kembali. Mau mengataiku munafik aku masa bodo, tapi kebencianku rasa kecewaku menjadi satu. Saat dia lebih memilih menikahi wanita sirinya, dibandingkan menghampiri dan mengantarkan mama ke tempat rumah barunya.”
“Baby, kamu —”
“Sudah tak ada rasa sayang apa pun untuknya, meskipun kenyataan dia memang papa yang tak menganggapku ada, tapi hatiku mati rasa karena luka itu yang membuat benih kebencian tumbuh dihatiku.”
.
.
.
.
Hasrat Terlarang Anak Tiri
Mikaila Anastasia harus menelan takdir buruk, karena dia harus berpisah dengan kekasih yang telah tujuh tahun di pacarinya, hubungan mereka bukan sekedar hubungan biasa, karena waktu yang cukup lama yang telah mereka habiskan bersama, mereka sudah sangat saling mencintai bahkan tidak segan melakukan hubungan layaknya suami istri, bahkan telah berjanji akan selalu setia sampai mati.
Namun, ternyata takdir berkata lain, Mika harus menerima perjodohan dari ayahnya yang beliau wasiatkan sebelum beliau meninggal, dia harus menikah dengan pria yang umurnya terpaut cukup jauh darinya, tapi siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah ayah dari mantan kekasihnya.
Mampukan Mika menahan hasratnya terhadap mantan kekasihnya yang kini telah menjadi anak tirinya? Dan bisakah Mika tetap setia terhadap suaminya yang telah mencintainya dengan tulus dan penuh dengan kesabaran, sementara dirinya juga harus tinggal serumah dengan mantan kekasihnya tersebut.
__ADS_1