
Tangan keduanya saling menggenggam yang mana di antara salah satu dari wanita paruh baya itu memberi kekuatan untuk tetap sabar menghadapi masalah yang datang menghampiri.
“Kamu yang sabar ya. Aku sangat yakin kau tak pernah gagal menjadi seorang ibu untuk Putramu,” hibur istri William seraya memberi kekuatan untuk sahabatnya itu sendiri.
“Oh, satu hal ku pinta darimu. Bisakah kau merahasiakan pertemuan kita dari suamimu?” pinta istri William dengan raut wajah serius.
Kening istri Gunawan berkerut ketika mendengar permintaan dari sahabatnya, yang memintanya untuk merahasiakan pertemuan mereka. “Untuk apa kau memintaku tak memberitahukan kabar ini pada suamiku sendiri?”
“Aku melihat menantumu itu enggan berbagi cerita permasalahannya pada dirimu!”
“Lalu apa yang harus ku lakukan?”
Istri William pun memberi saran pada sang sahabat tercinta untuk tetap merahasiakan penyakit yang di derita menantu sahabatnya. “Tetap rahasia kan ini dari suamimu.”
Sejak saat itu setelah bertemu dengan istri sahabatnya. Istri dari William terus memikirkan sebuah penyakit yang di derita oleh menantu sahabatnya. Ia sendiri tak membayangkan tentang suatu penyakit yang menggerogoti tubuhnya dengan keadaan hamil.
Sampai beberapa bulan kemudian mereka pun bertemu di sebuah cafe yang dijanjikan oleh istri William yang memang sangat ingin bertemu dengan menantu sang sahabat tercinta.
“Bagaimana kabar, Ibumu?” Istri William bertanya tanpa berbasa-basi
“Kabar Ibu baik, Tante,” jawab istri Prasetya dengan senyum tulus.
“Apa kamu tahu mengapa aku memintamu bertemu denganku?” Istri William dengan cepat menanyakan tujuannya bertemu.
Gelengan kepala menantu Gunawan membuat istri William merasa gemas. “Untuk apa Tante ingin bertemu denganku?”
__ADS_1
“Kalau begitu, Tante, langsung pada intinya saja, ya!” Sambil menyesap teh yang di pesan tu. Istri William pun mengambil napas lalu kemudian ia berkata pada wanita hamil di depannya ini. “Maaf atas kelancanganku, Tante tak bermaksud mencampuri urusan rumah tanggamu. Hanya saja aku sangat tak tega melihatmu menahan sakit sendirian, dan bisakah kamu membagi sedikit rasa sakitmu pada, Tante!”
“Kenapa tante memedulikanku?” tanyanya dengan menyela perkataan dari istri William.
“Aku tak perlu alasan untuk memedulikanmu karena bagiku, kamu sudah seperti, Putri kandugku.” Nada tegas dan juga raut wajah serius tak membuat istri William bergeming.
Sebab ia sendiri telah jatuh hati pada kesabaran yang dilakukan oleh istri Prasetya, atas perlakuan yang menyakitkan diterima oleh wanita hamil tersebut.
“Baiklah, Tante aku akan membagi sedikit cerita yang ku alami mengenai perjalanan kehidupan rumah tanggaku, dan sepertinya Tante bisa menjaga rahasia ini dari mertuaku.” Tak lupa istri dari Prasetya meminta sang Tante yang tak lain sahabat sang mertua untuk menutupi sebuah rahasia.
Sebelum memulai cerita istri Prasetya mengambil napas dan mengembuskan nya secara gusar karena melalui wanita paruh baya tersebut ia bisa menceritakan semua beban berat yang beberapa bulan ini merasukinya.
Sambil menyimak perkataan demi kata yang dilontarkan oleh menantu Gunawan, istri dari William begitu sangat terpukul dengan cerita yang berasal dari wanita hamil tersebut.
“Itulah, Tante mengapa aku menutupinya dari Ayah dan juga Ibu karena, aku tak ingin membebankan pikiran mereka yang begitu tulus menyayangiku.”
Dua wanita berbeda generasi yang sama-sama istri pengusaha itu pun berdiam membisu. Namun beberapa menit kemudian istri William membuka suara yang menyatakan ketertarikannya pada menantu sahabatnya itu. “Sayang, apa kamu tak keberatan bila bayi yang berada di dalam kandunganmu menjadi bagian keluargaku nanti pada saat lahir. Jika di laki-laki aku akan mengangkatnya sebagai seorang Cucu dari William, tapi jika lahir perempuan bolehkah dia ku jodohkan dengan Cucuku sendiri?”
“Tan, ak–” belum sempat menolak istri William terlebih dulu menyelanya.
“Jangan menjawab sekarang, Tante akan memberimu waktu. Oke!”
Setelah itu keduanya pun saling bertemu di tempat seperti biasa. Sampai pada akhirnya istri William mengetahui alasan dibalik pernikahan menantu sang sahabat yang tak terlihat begitu bahagia.
Puncaknya ketika beberapa tahun kemudian tiba-tiba saja istri William mendengar kabar mengejutkan yang datang dari sang sahabat pergi meninggalkannya seorang diri.
__ADS_1
Ia pun begitu terpukul dengan kepergian sahabatnya yang ternyata itu semua adalah bagian rencana dari seseorang begitu terobsesi mencelakainya, dan itu pun terjadi sejak beberapa bulan kematian mendiang menantunya yang disusul oleh istri Gunawan Gayatri Smith meregang nyawa karena ulah orang tersebut.
Sebagai seorang sahabat ia akan tetap terus memegang janji yang pernah dikatakan beberapa tahun silam untuk menjaga seseorang yang sangat berharga bagi mendiang sahabatnya.
Lalu tak lama kemudian beberapa tahun setelah sang Cucu menikah dengan wanita pilihannya. Ia sendiri pun tak bisa berbuat apa-apa sampai maut menjemput istri William sekarang masih belum bisa memenuhi janji pada sang sahabat. Yang mana sepakat meminta pada sang suami tercinta untuk memenuhi permintaannya terakhir.
“Jadi itu alasan mendiang Ibu menjodohkan Rewindra dengan mendiang istri pertama Prasetya, Yah?” pertanyaan yang di ajukan dari Pramana putranya itu pun. Seketika membuat William mengangguk pelan.
“Sekarang kau paham sendiri, kan? Mengapa Ayah bersikukuh menjodohkan Putramu itu untuk memenuhi janji mendiang Ibumu dengan mendiang istri Prasetya.”
Mengambil napas lalu diembuskan secara gusar. Mau tak mau Pramana sendiri tak dapat berbuat banyak ketika sang Ayah tercinta melakukan hal perjodohan untuk sang Putra tercinta.
“Baiklah, Ayah jika memang itu yang diinginkan oleh mendiang Ibu. Maka aku yang akan memenuhi janji tersebut.” Pramana pun bertekad akan melanjutkan janji itu pada mendiang sang Ibu tercinta yang mana membuat ia kesal dengan ketidakadilan di terima oleh mendiang istri sang sahabat.
“Kalau sudah tak ada yang diobrolkan. Ayah akan menemui, Ando. Ku dengar dia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari Rewindra. Apa benar begitu, Pram?” tanya William dingin.
Hal itu membuat Pramana menelan ludah kasar, dan tak mendadak lidahnya menjadi kelu. Mengingat Ayahnya itu tak pernah main-main, ketika pergerakannya selalu diintai.
“Maaf, Yah!” kata maaf pun tak akan pernah bisa mengembalikan luka hati yang di terima oleh Rolando. Seorang anak yang keberadaannya di abaikan.
“Sudahlah, Pram. Kau tak perlu cemas karena Putramu itu telah bertemu dengan seseorang yang tentu saja kau juga mengenalnya, dan aku berharap dia bisa mengubah kebiasaan buruk dari Putramu itu!”
Selesai berkata demikian. William dengan tenang beranjak dari tempat di duduki meninggalkan Pramana yang tengah terdiam membisu untuk menemui sang Cicit tercinta.
***
__ADS_1
Mobil yang di kendarai oleh Louser tiba-tiba menjadi sunyi. Ketika dirinya tak mendengar suara keributan yang berasal dari Tuannya dengan seseorang gadis yang telah berhasil membuat Rewindra tak bisa berkutik.
Ini rekor yang luar biasa. Baru kali ini aku bisa melihatmu tak bisa berkutik di depan gadis itu, Ndra! Sambil membatin Louser tetap fokus pada jalanan yang mulai sepi.