
“Jahat sekali kamu, Hon.” Rewindra mencicit lirih tanpa berani mengangkat wajah. Ditambah dia sedang menahan sakit akibat rematan tangan mungil yang mengenai kedua telurnya. “Kalau kamu memberi hukuman si belalai gajahku ... bagaimana nanti dia ma —”
“Tidak ada acara perang dengan si belalai gajah! Mau lebih lama hukuman untukmu, hm?”
Turun dari pangkuan sang suami yang sedang menahan gejolak hasrat, tanpa disangka-sangka gadis itu memberi sorot mata mematikan. “Tetap duduk di tempatmu!” titahnya bernada dingin.
Rewindra pasrah dengan kemarahan yang menyebabkan dia mendapat hukuman dari istri kecilnya. Astaga bagaimana caraku mendapatkan nutrisi untuk si belalai gajah? Sebulan rasanya sangat lama, dan itu pun tidak bisa diganggu gugat. Bahkan telur-telurku masih ngilu karena rematannya terlalu kencang! Huh, membayangkan saja membuatku takut. Berucap di dalam hati, tanpa berani mengutarakan tujuannya.
Sementara itu, Araela memungut ponsel berlogo apel tergigit dan mengambil alih kendali ponsel tersebut untuk diamankan, dengan memeriksa bagian-bagian penting di dalam isi ponsel dengan pecahan kaca berhamburan.
“Hon,” rengek Rewindra dengan tidak berhenti merayu. Namun, gadis itu tetap pada prinsip untuk memberi hukuman pada duda casanova mesum tersebut. “Kenapa ponselku kamu bawa?”
“Aku tidak membawanya, tapi aku ingin mengamankan semua isi ponselmu! Apa kau tidak ingat dengan putraku, hah? Kalau sampai dia melihat semua isi ponselmu ... tamatlah riwayat si —”
__ADS_1
“Baiklah, aku kalah!”
Gadis itu kembali melanjutkan perkataan sebelum meninggalkan ruangan suaminya. “Aku tidak bisa menemanimu menikmati sarapan, tapi makanan yang kuʼ tinggalkan harus habis karena itu masakan dari mertuamu!”
“Jadi, bukan kamu yang memasaknya, Hon?”
“Apa kau tidak lihat yang terjadi di rumah tadi pagi, hah!” ketusnya mode galak.
“Jangan galak-galak, Hon.”
“Hah, jahat sekali gadis itu. Untung sayang! Tidak apa-apa dihukum dan bermain sendiri selama sebulan, tapi aku tidak akan pernah berhenti untuk mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan.” Rewindra menyeringai licik sambil menikmati sarapan yang berasal dari olahan tangan ayah mertua, bahkan rasa masakan tersebut tidak jauh berbeda dengan olahan tangan gadis tersebut.
Tidak berselang lama Louser masuk ke dalam ruangan sambil menatap heran ekspresi raut wajah dari atasannya. “Ehm, ada apa dengan ekspresimu itu, Ndra?” tanya pria itu sambil berdehem yang membuat Rewindra terkejut dengan kedatangannya.
__ADS_1
“Berapa kali aku bilang! Masuk ketuk pintu jangan asal nyelonong,” cetus Rewindra tanpa menjawab pertanyaan dari sang asisten dengan membalik pertanyaan. “Apa ada yang ingin kau sampaikan, Ser?”
“Aku hanya ingin mengkonfirmasi ulang jadwal pertemuan dengan klien hari ini.”
“Tidak bisakah kau sendiri yang mendatanginya?” Tanpa berdosa pada sang asisten, justru duda casanova mesum itu memberi perintah yang mendapat penolakan dari asistennya sendiri.
“Jangan mentang-mentang di kantor ini ada istrimu, kau bisa seenak jidat menggampangkan pekerjaanmu. Ingat urusan pribadi jangan kau campur aduk dengan urusan kantor. Jangan sampai aku terkena omelan dari papa dan mamamu. Paham, kau!”
“Sialan kau, Ser! Kenapa kau yang jadi memarahiku?” Rewindra mencebik kesal dengan tingkah laku asisten yang merupakan sahabatnya.
“Kau pantas menerimanya! Bukankah istrimu memberi ultimatum untuk tidak memperlakukannya secara berlebihan. Bahkan karyawan di kantor tidak mengenalinya sebagai istrimu maupun tunanganmu. Jadi, bersabarlah sampai dia mau diperkenalkan.”
Rewindra tertegun dan seolah-olah melupakan satu fakta bahwa istri kecilnya itu terlalu sederhana untuk dia yang hanya seorang CEO di sebuah perusahaan.
__ADS_1