
Menganggukkan kepalanya Bi Rumi enggan menanyakan lebih dalam perihal tamu yang tidak lain suami dari sang nona muda, sedangkan Araela yang ditunggu oleh pria di hadapannya berada di dalam kamar milik omnya tengah berjuang menahan rasa mual, bahkan tubuh tinggi tegap Morgan tidak dapat menahan beban karena rasa mual yang membuat bujang lapuk itu tidak berdaya.
“Baby! Bagaimana kamu bisa ada di sini?” Suara bariton lemah itu masih bisa melontarkan pertanyaan, sehingga membuat Morgan tidak dapat menahan rasa mual yang selalu datang di pagi hari. “Apa kamu ingin mengejekku karena aku mengalami hal tidak kuketahui?”
“Untuk apa mengejekmu, bujang lapuk! Bahkan aku heran denganmu yang tiba-tiba mengalami hal memalukan, lalu sudah berapa keadaanmu menjadi seperti yang sekarang ini?” Sambil melipat kedua tangan di atas perut, Araela menjawab dengan membalik pertanyaan ditujukan untuk pria tersebut.
Gelengan lemah Morgan membuat sang keponakan mendengkus kesal karena pria itu tidak mengetahui rasa mual yang menimpa dirinya. Namun, tidak berselang lama pria dijuluki bujang lapuk oleh sang keponakan tercinta beranjak dari ranjang king besar dengan berjalan sempoyongan, untuk bisa masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan sesuatu tapi hanya cairan seperti air yang keluar dari mulutnya.
Mengumpat geram dalam batin Morgan tidak dapat menahan rasa mual yang berlebihan sehingga membuat pria itu kesal dengan diri sendiri, atas kejadian menimpa dirinya sampai membuat Araela menepis perasaan yang sedari mengganggu pikiran gadis tersebut.
__ADS_1
Tanpa membuang banyak waktu akhirnya gadis itu menghubungi dokter pribadi untuk datang ke mansion dan, menyuruhnya memeriksa keadaan Morgan yang pingsan karena rasa mual tidak tertahankan.
Bahkan Rewindra yang duduk termenung di ruang tamu pun terkejut melihat kedatangan seorang dokter terburu-buru melangkahkan, kaki ke tempat kamar pribadi bujang lapuk sampai membuatnya mengikuti langkah kaki dokter tersebut.
Sesampainya di kamar Rewindra terkejut melihat sang istri dengan santai memapah tubuh tinggi tegap yang telah dibaringkan ke atas ranjang, hingga nada perintah terucap dari gadis itu membuat sang dokter melakukan tugas untuk memeriksa keadaan Morgan.
“Apa yang terjadi padanya, Dok?” Araela melontarkan pertanyaan bernada dingin dengan menutup rasa cemas di dalam dirinya. “Apakah ada hal serius yang menimpa bujang lapuk itu?”
“Maksudmu dia —”
__ADS_1
Anggukan kecil dari dokter yang memeriksa Morgan membuat Araela terdiam bungkam tanpa berbasa-basi gadis itu, menyuruh sang dokter untuk merahasiakan sesuatu menimpa bujang lapuk tersebut.
“Saya akan merahasiakan hal ini pada siapa pun dan saya pastikan tidak ada seorang pun mengetahui keadaan Tuan Morgan, Nona.” Tidak lupa dokter itu telah berjanji di hadapan Araela dan bersamaan itu, ia pamit undur diri setelah memberikan resep obat untuk ditebus. “Kalau begitu saya pamit, Nona!”
Setelah tidak melihat punggung dokter yang menghilang dari balik pintu kamar bujang lapuk. Gadis itu terkejut dengan kedua tangan kekar yang melingkar erat di dalam, tubuh mungilnya sambil berbisik pelan dan menanyakan keadaan Morgan.
“Maaf membuatmu terkejut denganku, Honey ... aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, bukan?” Rewindra berbisik pelan sambil menghirup aroma maskulin yang selalu dipakai oleh istri kecilnya.
Araela enggan menyahut nada bisik yang terucap dari bibir pria memeluk erat tubuh rampingnya, hanya saja gadis itu memikirkan keadaan seseorang yang sudah pasti ada hubungannya dengan bujang lapuk tersebut.
__ADS_1