
Jika di negara tropis sedang merasakan embusan angin malam. Lain halnya di negara asal gadis bar-bar sedang ada pertemuan antara sang raja dengan putra mahkota. Sebab mereka tengah membahas garis takdir yang kapan saja telah siap membawa kembali sang putri mahkota ke tempat ini.
“Salam, Ayahanda.” Seorang pria baya yang seusia dengan Morgan sedang memberi salam kepada Raja Goerge.
Meskipun waktu telah berlalu sang raja sampai saat ini masih mempertahankan tahta singgasana yang berpuluh-puluh tahun diduduki begitu gagah menyuruh putra sulungnya tak lain sang putra mahkota untuk membicarakan keadaan sang cucu tercinta.
“Kita bicarakan hal di tempat seperti biasa,” titah Raja Goerge dingin.
Begitu sampai di tempat biasa sang raja pun memecahkan kesunyian dengan mengajukan sebuah pertanyaan tentang keberadaan, cucu kesayangannya pada seseorang yang selama ini begitu pandai menjaga amanah dan tugasnya sebagai penjaga bayangan sang putri mahkota.
“Situasi apakah di sana aman?” tanyanya pada seorang pria muda yang tak lain penjaga bayangan itu.
__ADS_1
“Salam, dari saya Raja Goerge.” Pria muda itu bersimpuh sembari memberi salam kepada sang raja yang tak begitu, ingin berbasa-basi karena tujuannya ia dipanggil hanya untuk memberikan laporan tentang keberadaan sang putri mahkota.
Bahkan sang raja mengulang kembali pertanyaan, sambil menunggu laporan yang siap untuk didengar langsung oleh dirinya. “situasi di sana apakah aman? Aku harap kau tak memberiku kabar buruk yang menimpa cucuku.”
Devander sang putra mahkota yang tak lain paman dari gadis bar-bar tengah berusaha, menenangkan sang ayah karena pria baya itu tak ingin penyakit ayahnya terganggu ketika mendengar kabar tentang keponakannya itu. “Jangan terburu-buru Ayahanda ingatlah sakitmu … saya tak ingin terjadi sesuatu menimpa, Ayahanda.”
“Ayah hanya ingin mengetahui kabar tentangnya.”
“Tuan putri telah melewati banyak hal dan sekarang dirinya lebih suka menghabiskan diri di rumah sederhana yang dibeli dari hasil keringatnya … bahkan tuan putri lebih suka bekerja daripada menikmati waktunya bersantai sebagai seorang pewaris. Kabar yang saya dengar tuan putri menolak menerima harta warisan itu, Pangeran.”
“Kenapa dia menolak harta warisan itu, Yah?” Devander sang putra mahkota terkejut mendengar laporan yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
“Ayah sendiri pun tidak tahu … mungkin sifatnya menurun dari mendiang adikmu dan ayah benar-benar menyesal terlambat membawanya ke negara ini.”
“Jadi, Ayahanda ….
“Ya, kau benar … sudah sangat lama Ayahmu ini bertemu dengan mendiang adikmu.”
“Tapi, meng ….
“Ayahmu sendiri tak mengerti jalan pikiran diambil adikmu, tapi pada saat pertemuan itu dia benar-benar menolak kembali ke tempat asalnya. Bahkan sebelum meninggal pun dia membuat permintaan untuk tidak membawa jasadnya jauh dari putri kandungnya.”
“Itu berarti Ayahanda tahu semua tentangnya?” Devander yang mendengar penuturan dari sang raja merasa marah, sekaligus kecewa dengan sikap adiknya yang begitu pandai menyembunyikan luka hati.
__ADS_1
Sejak kita terpisah mengapa aku tak bisa mengenalmu lebih dalam? Bahkan menyentuh dan mendekapmu pun tak pernah bisa kulakukan. Rahasia apa yang telah terbawa bersama ragamu itu? Ingin ku' lampiaskan semua amarah di dada kepada suamimu karena telah menorehkan luka di hatimu.