
Tak lama kemudian jemari lentiknya berfokus pada beberapa bahan masakan yang sedang di olah untuk ia jadikan sebuah makanan kesukaan dari Rolando Wiratama.
Keahliannya dalam mengolah masakan tak akan pernah bisa diragukan lagi, sebab sejak kecil mendiang sang Mama telah mengajarinya banyak hal, termasuk tentang kehidupannya yang selama ini tak dianggap ada.
Akan tetapi hal tersebut tak membuatnya insecure karena dibalik senyum yang ia berikan pada banyak orang ada sebuah hati yang terluka.
Oleh karena itulah saat bertemu dengan Rolando Wiratama, ia akan mengajari banyak hal, terutama bersikap baik pada seorang Ayah yang menurut anak lelaki itu mengabaikannya. Namun, Araela sangat yakin Ayah darinya begitu mencintai, terlepas dari kesalahan yang telah diperbuat oleh dirinya.
Membutuhkan waktu sekitar beberapa menit kemudian masakan yang ia olah dengan kedua tangannya pun telah matang sempurna, sehingga anak lelaki itu pun bisa segera memakannya dengan lahap bersama dirinya.
Terdengar dentingan sendok dan garpu yang diciptakan oleh Rolando Wiratama, tetapi tidak berlaku baginya saat menikmati sarapan yang dimasak, justru ia menikmati sarapan dengan sesuap demi–sesuap yang hanya menggunakan tangannya.
Hal tersebut membuat Rolando menghentikan kunyahannya seraya menatap ke arah dirinya dengan raut wajah yang sulit di artikan. Namun, beberapa detik kemudian anak lelaki itu pun menanyakan perihal cara makan yang sedang ia lakukan itu. “Kamu makan setiap hari, apa selalu seperti itu, Kak?”
Ia yang ditatap pun menghentikan kunyahan, tak lupa setelah meminum air hingga tandas, seraya menatap sorot mata dingin dari anak lelaki itu dengan memberi jawaban setelah ia menyuruh balik untuk menghabiskan sarapannya.
“Di habiskan dulu sarapanmu ini, Sayang! Nanti aku akan menjawab pertanyaan darimu.”
__ADS_1
Tanpa membantah keduanya pun kembali terlarut dalam pikiran masing-masing, seraya ia tetap melanjutkan menikmati sarapannya, tanpa memedulikan Rolando yang terus menatapnya.
Selesai menikmati sarapan yang dimasak oleh Araela. Kini keduanya saat ini sedang ada di ruang tamu sambil Rolando terus menatapnya dengan sorot mata yang dingin.
Akan tetapi Araela tak pernah sedikit pun takut dengan sorot mata yang dilakukan oleh Rolando. Karena baginya tak akan ada yang bisa mengalahkan tatapan dingin dari Morgan Gayatri Smith. Orang yang sangat berharga bagi kehidupan pribadinya.
“Jangan menatap dingin seperti itu pada Kakak ka–” ia menggantungkan kalimat seraya berpikir keras untuk memberikan pengertian pada Rolando Wiratama. Agar anak lelaki itu mampu bersikap seharusnya yang dilakukan oleh dirinya.
Akan tetapi Rolando justru tak sabar dengan kalimat yang dilontarkan olehnya pun disela, dengan menanyakan perihal tentang tata cara makan yang ia lakukan itu. “Sekarang Kakak jawab dong pertanyaanku tadi, ya. Mengapa kamu memakan sarapan tadi dengan seperti itu, Kak?”
“Apa kamu penasaran dengan kehidupan pribadi, Kakak?” yang mana ia pun mendapat anggukan kepala dari Rolando Wiratama.
Menghirup pasokan udara yang begitu dalam, tak lupa ia mengembuskannya secara kasar, dan memberikan sebuah jawaban yang membuat Rolando semakin penasaran dengan kehidupan pribadinya. “Sayang, kapan-kapan saja ya mendengar cerita kisah, Kakak. Namun, untuk soal cara makan tadi Kakak sudah terbiasa melakukan hal itu sejak kecil. Apa kamu jijik, hm?”
“Tidak!” singkat padat jelas membuat sudut bibir Araela berkedut. Namun, tak lama kemudian ia pun menyuruh anak lelaki itu untuk beristirahat karena akan di antar ke mansion malam harinya.
“Sebaiknya kamu beristirahat dulu, nanti biar Kakak yang mengantarmu pulang!”
__ADS_1
Sedikit ada perdebatan antara keduanya. Namun, ia berhasil membuat Rolando menurut permintaannya, dengan menemaninya beristirahat sambil ia mengecek laporan dan beberapa tugas kampus yang sempat ia tinggalkan.
Sekitar empat puluh menit kemudian terdengar bunyi pintu bel di depan pintu, dan itu pun sangat mengganggu konsentrasinya.
Mau tak mau ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu karena suara deringan bel pintu membuat ia sangat kesal.
Begitu pintu rumah dibuka dari dalam, seketika itu ia terkejut dengan kedatangan seseorang yang menatapnya dengan – tatapan sangat dingin, tetapi hal tersebut tak membuatnya takut dengan orang yang datang ke rumahnya.
.
.
.
.
__ADS_1