
Kasih sayang yang ia curahkan tak akan lekang oleh waktu, bahkan sang Kakak yang merupakan Papa kandungnya sendiri tak pernah memberinya kasih sayang yang nyata.
“Semua ini gara-gara kau, Kak. Yang tak pernah mau mendekapnya sejak dia dilahirkan. Apa begitu pentingnya Mayang dibandingkan dengan mendiang istrimu sendiri?” menggeram marah sambil tak lupa ia terus mengumpati kelakuan sang Kakak yang terlalu menyayangi seorang anak tak ada hubungan darah dengan keluarganya.
Sampai-sampai ia tak menyadari keberadaan sang Ayah yang sejak tadi mendengarkan semua keluh kesah, dan umpatan yang di tujukan pada Prasetya Gayatri Smith. Namun, tak ada yang menyadari sejatinya sang Ayah tak lain Gunawan mengetahui seseorang yang saat ini berada di dalam rumah sang Cucu.
Selain ada mata-mata milik Morgan, tak jauh dari rumah sederhana milik Araela Ayudia Gayatri Smith, ada sebuah rumah yang ternyata di tempati oleh mata-mata milik Gunawan yang ditugaskan untuk menjaga dan melindunginya.
“Masih kesal dengan Kakakmu, Boy.” panggilan disematkan untuk sang putra bungsu, mengingat sampai kapan pun ia tetap menganggap sebagai jagoan kecilnya.
“Ayah mau sampai kapan memanggilku seperti itu, hah!” protesnya sambil berdecak kesal, karena Ayahnya ini selalu memanggilnya dengan panggilan membuat ia malu.
“Kenapa harus malu dengan panggilan itu, memang Ayah tujukan hanya untuk-mu seorang.” sebab ia memanggil sang Putra seperti itu karena sejak dilahirkan oleh mendiang istrinya. Ia benar-benar mencurahkan kasih sayang yang nyata secara adil untuk kedua putranya. “Ada apa denganmu? Mengapa wajahmu terlihat sedang mencemaskan seseorang, hm.”
__ADS_1
“Kau benar Ayah ... Aku sedang mencemaskan Cucu kesayanganmu itu.”
“Memangnya apa yang terjadi dengan, Ara?” padahal tanpa diberitahu pun, sesungguhnya Gunawan sangat mengetahui keadaan sang Cucu. Namun, ia hanya ingin memastikan sendiri secara langsung dari putra bungsunya.
“Menurut mata-mata yang ku – tugaskan ada seorang pria begitu berani masuk ke dalam rumahnya, meskipun Ara mengizinkannya masuk.”
Menjawab pertanyaan dari sang Ayah yang membuat Ayahnya terkekeh pelan ketika mendengar aduan dan bagaimana posesifnya Morgan Gayatri Smith pada Cucu kesayangannya sendiri.
Liam tak ku – sangka Cucu kita saling mengenal, dan aku sangat yakin bagaimana peringai Cucumu itu. Namun, semua itu tak luput dari Cicitmu yang turut andil dalam perjodohan yang telah ditakdirkan untuk mereka. Untuk sekarang biar-kan mereka yang mempersatukan hati masing-masing, dan aku sangat yakin Cucumu pasti bisa membuatnya tersenyum kembali.
“Kenapa aku tak boleh posesif dengan bayi mungilku, Yah?” Morgan tak kalah dingin dengan sang Ayah.
“Ayah tak melarangmu posesif padanya, tetapi kau harus ingat dia sudah besar dan pasti bisa melindungi dirinya sendiri. Cukup kirim mata-mata untuk mengawasinya.”
__ADS_1
“Jangan bilang itu juga menyangkut tentang perjodohan yang Ayah buat dengan sahabatmu?” Morgan tak terlalu kaget tentang rencana perjodohan yang sejak lama ia ketahui dari mendiang Ibunya.
Gunawan mengangguk karena hal itu, ia meminta sang Putra untuk tak terlalu posesif dengannya, dan juga menanyakan perihal tentang rencana putranya yang baru saja ia dengar dari mata-mata lain yang ditugaskan oleh dirinya. “Lalu apa rencanamu memunculkan Bastian sahabatmu akan berhasil, Boy? Kau sendiri sangat tahu – kan! Bagaimana peringai dari wanita itu?”
“Jangan cemas, Yah. Sebisa mungkin rencana ini setidaknya harus berhasil karena sejak lama aku menantikannya.”
Bukan menantikan hal lain, tetapi menantikan bagaimana rasa penyesalan di dalam diri Prasetya, ketika mengetahui sebuah fakta yang mengejutkan tentang putrinya yang selama ini, selalu mendapatkan kasih sayang ternyata tak mengalir darah di tubuhnya.
.
.
.
__ADS_1
.