
“Sudah mama katakan papa kandungmu selamanya akan tetap bernama Prasetya Gayatri Smith. Meskipun nanti ada seseorang yang tiba-tiba datang mengaku sebagai papa kandungmu.”
Mayang semakin enggan mengatakan hal kebenaran fakta tentang putrinya. Karena baginya hanya Prasetya yang akan tetap menjadi papa kandung dari Sonya itu sendiri.
“Baiklah aku tak akan menanyakan, atau membahasnya karena bisa saja semalam, aku sedang mendengarkan bualan pria karatan itu.” Sonya menyahut, tak lupa ia kembali menanyakan tujuan dari mamanya, dalam memperebutkan posisi perjodohan yang, baru saja didengar langsung oleh dirinya. “Apa mama tak salah dengan apa yang kamu katakan?”
“Tidak, sayang. Lagipula apa mama ini, pernah berbohong denganmu?” Mayang berkata demikian, sembari memberi pertanyaan balik. Meskipun batinnya bergumam maaf karena sama sekali, tak mengizinkan sang putri mengetahui kebenaran itu.
Meskipun sedikit ragu, tapi tak ada salahnya mencoba apa yang dikatakan oleh mamanya, tentang perjodohan sedikit menantang untuk bisa mendapatkan bagiannya. “Aku belum bisa memastikan perjodohan ini, sebelum mama menyelidiki lebih dalam identitas, pria yang dijodohkan pria bangka itu, Ma.”
“Tak perlu cemas, Sayangku. Lagipula apa sih yang tidak bisa mama lakukan untukmu, hm.”
Bersamaan itu keduanya membahas rencana yang disusun, untuk memperebutkan posisi perjodohan tersebut. Namun, mereka seakan-akan lupa sedang menghadapi kemarahan dari Dahlia Wiratama, tak sudi jika perjodohan direncanakan mendiang mertua dirusak oleh, seseorang begitu sangat membenci seorang anak tak pernah dianggap ada.
*
*
*
Lain halnya yang dilakukan oleh Morgan sedang menghubungi mata-mata, untuk memberinya laporan tentang perkembangan yang dilakukan oleh bayi mungilnya itu.
“Bagaimana pengintaianmu terhadap nona muda kalian?”
“Semalam nona menginap di mansion milik seseorang, tuan.” Berhati-hati menjawab agar tak menyinggung kemarahan didalam diri tuannya. Jika itu menyangkut orang-orang terdekatnya.
“Lalu apa kalian mengetahui gambaran mansion yang didatangi dia?”
“Saya ingin memastikan sebelum memberi laporan, tuan. Bagaimana kalau saya mengatakan jika mansion itu, sejalan ke arah rumah tuan besar alias ayah, Anda.”
“Apa! Kau tak sedang membual, hah!”
“Tidak, tuan.”
Tak kuasa menahan rasa terkejut, ia memutuskan untuk tetap memberi perintah, kepada mata-mata itu, untuk terus mengawasi dan memantau keadaan bayi mungilnya.
“Pantau dan awasi keadaan nona muda kalian. Jangan sampai aku mendengar kabar buruk menimpanya. Paham!”
Sembari menahan emosi, pria itu memutuskan panggilan secara sepihak, tak lupa dirinya mengumpat geram dengan, tingkah laku dari seseorang yang begitu berani menyentuh bayi mungilnya.
Jadi, si Baby-ku sudah akrab dengan mereka? Apa dia juga tahu kalau pria yang dijodohkan itu adalah ... Sialan! Bre’ngsek! Aku sangat tahu seperti apa peringainya, dan kupastikan sebelum terlambat, dia harus diberi pelajaran karena berani menyentuhnya. Ibu ... kakak ipar lihat bayi mungilku sekarang sudah dewasa, dan apakah kalian yakin mau melepaskannya untuk bersama dengan pria itu?
__ADS_1
Memikirkan tentang bayi mungilnya, membuat ia memijit pelipis yang berdenyut hebat, dan bagaimana mungkin mereka bisa bertemu?
Untuk memastikan rasa penasarannya, terpaksa pria matang itu pun meminta penjelasan secara langsung, kepada seseorang yang akan dia temui sekarang ini, dengan melangkahkan kakinya begitu cepat sampai, membuat sang ayah terkejut melihat langkah kakinya.
“Mau kemana kamu, Boy?”
“Maaf aku sedang terburu-buru, Ayah.” Menyahut tanpa menoleh kebelakang.
“Apa kamu akan menemuinya, dan membahas perjodohan itu, Boy?” tak lupa ayah memastikan rasa penasarannya.
“Apakah ayah ini cenayang?” Morgan tergelak lucu, ketika sang ayah memberi pertanyaan, yang tak mungkin dijawab mudah.
“Ayah sangat tahu karena kamu begitu sangat menyayangi dan mencintainya bukan?”
“Kamu benar, Yah ... hanya dialah pelipur laraku ... bahkan tak sedikit pun hatiku berpaling dari mendiang mamanya ... karena cintaku tak pernah lekang oleh waktu meskipun hatiku terbawa oleh seluruh raganya.”
“Boy ....
“Apa kamu mau protes denganku, Yah? Karena putra bungsumu sampai sekarang betah membujang?” tanyanya penuh selidik.
“Tidak, Boy. Kalaupun itu memang sudah menjadi jalanmu. Ayahmu ini bisa apa? Lagipula tujuanmu sekarang hanya untuk bayi mungilmu bukan?”
“Ya. Lalu Ayah mau menyampaikan pesan apa?”
“Oke-oke. Masalah ini biar aku urus sendiri, tapi tak usah pakai mengusirku segala.” menyahut ucapan sang ayah, dengan bibir mengerucut tajam.
“Sudah tua, tak pantas membuat bibirmu seperti itu.”
Enggan membalas ledekan sang ayah, dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, untuk segera sampai dimobil Buggati La Voiture Noire miliknya, dan mengemudikannya ke tempat tujuan ia berkunjung.
Hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit berlalu, tibalah dirinya dengan sendiri berkunjung ke kantor, untuk meminta penjelasan langsung tentang perjodohan itu.
“Apa aku bisa bertemu dengan Pramana?” tanpa memedulikan tatapan, dan bisik-bisik karyawan kantor Rewindra, ia langsung menodong pertanyaan diajukan ke resepsionis, yang tercengang dengan kedatangannya.
“Apa Anda sudah membuat janji?” jawab resepsionis, tak lupa ekor mata itu menatap ke arah dirinya.
“Ini bukan tentang pekerjaan, tapi aku ada pertemuan pribadi yang ingin kusampaikan dengannya. Apa masih mau menahanku?” sahut Morgan dingin, seraya menantang pemilik kantor tersebut.
Resepsionis yang enggan bermasalah, dengan terpaksa dirinya menghubungi sekretaris, untuk disambungkan langsung pada orang yang ingin ditemui itu.
“Pak, saya ingin melapor ... ada seseorang yang ingin bertemu dengan Pak Pramana ... apakah beliau ada?”
__ADS_1
“Siapa yang ingin bertemu dengan beliau?”
Morgan yang begitu tanggap, tanpa berkata banyak, ia mengatakan nama yang sedang bertemu dengan Pramana Wiratama. “Morgan, dan tuanmu pasti tahu namaku.”
“Yang ingin bertemu Pak Pramana. Tuan Morgan, Pak Louser.”
“Suruh langsung naik ke lantai atas, dan biarkan aku yang menyampaikan kepada beliau.”
Setelah mendengar perintah, resepsionis itu pun menyampaikan pesan, dan mempersilakan tamu itu naik ke lantai atas.
Berselang sekitar lima belas menit kemudian, dirinya pun tiba di ruangan pribadi sahabat sang kakak tercinta.
“Kukira yang akan datang bertamu si Pras, dan tak kusangka ternyata malah kau, yang mau menginjakkan kakimu kesini? Ada angin apa pria bujang lapuk ini mau bertemu denganku?” tanya Pramana, sembari tergelak lucu, dengan kedatangan adik sahabatnya sendiri.
“Sialan, kau!” Menggeram kesal karena kedatangannya justru disambut dengan nada ejekan.
“Duduklah, jangan sampai kau mengumpatku lagi.” mempersilakan tamunya duduk karena ia tak ingin berurusan dengan si pria dingin itu.
“Sejak kapan kau bertemu dan mengenal bayi mungilku?” tanya Morgan dingin, sembari mendaratkan bokong di atas sofa.
“Aku baru-baru mengingat dan bertemu, sejak dia datang ke mansion karena menolong cucuku. Apakah ada yang salah dengan pertanyaanmu?”
“Tidak juga, tapi setelah kau menyelidiki identitasnya ... apakah akses bayi mungilku sudah kau tutup kembali?”
.
.
.
.
.
BAGAIMANA RASANYA TERJEBAK MENJADI ORANG KETIGA DI DALAM RUMAH TANGGA ORANG LAIN?
Sharron Alexandria, 25 tahun, terjebak dalam belenggu cinta pria beristri hanya karena kesalahan satu malam. Dia adalah Darrell Wesley, 35 tahun. Demi mendapatkan seorang anak, dia rela menjalani hubungan dengan seseorang yang ditemuinya di dalam aplikasi kencan buta.
Seiring perjalanan waktu, Darrell tidak berniat membuat Sharron, wanita simpanannya itu untuk hamil. Dia terlalu mencintainya sehingga membuat Darrell melepaskan tujuan utamanya.
__ADS_1
Sementara Callie Mavis, 28 tahun, istrinya itu sudah didesak oleh keluarganya untuk segera mendapatkan anak. Dia berusaha menanyakan perihal rencana suaminya itu untuk mendapatkan rahim pengganti. Nyatanya malah Darrell mengatakan belum mendapatkannya.
Mungkinkah Darrell dan Sharron bisa bersatu? Apakah istri Darrell mau melepaskan begitu saja ketika tahu suaminya mencintai wanita idaman lain? Bagaimana perjuangan Sharron menyembunyikan diri sebagai wanita simpanan? Mampukah mereka menjalani kehidupan yang tidak biasa ini?