
Seketika amarah dan kebencian di dalam diri gadis itu sirna karena dia sendiri tak tega melihat raut wajah teman kampusnya ini.
"Tak perlu kau lakukan itu, Ra ... apa yang terjadi sudah menjadi garis takdir itu dan terima kasih atas keberanianmu yang mau datang ke tempat ini."
Keduanya berpelukan erat dengan sang putri mahkota menggumamkan kata maaf kepada Citra karena harta berharganya direnggut oleh bujang lapuk itu.
"Sekali lagi ma ....
"Maaf juga karena mengira kau anak ka ....
"Bukan, bujang lapuk itu belum menikah sama sekali dan kau beruntung bisa ... maaf, Cit." Araela kelepasan dan merutuki kebodohannya. Namun, gadis itu bisa melihat semburat merona yang timbul di kedua pipi Citra.
"Tak masalah seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu, Ra."
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tak lupa tangan gadis itu mengeluarkan sebuah kartu sakti limit edition miliknya sendiri.
"Aku bisa resign secara dadakan, Ra."
"Bagaimana kalau kubuatkan surat resign untukmu? Jangan menolak kartu itu memang tidak sepadan dengan perbuatan bujang lapuk, tapi milikku kau bisa pergunakan untuk kebutuhanmu dan aku yakin cepat atau lambat di sana ada kehidupan baru." Setelah memberi tawaran yang saat itu memberikan kartu sakti miliknya karena gadis direnggut oleh om-nya bisa melanjutkan kehidupan meskipun tanpa meminta pertanggungjawaban.
"Ta ... pi, Ra."
"Kalau kau tak menerima ini ... seumur hidup aku akan selalu dilanda kesalahan dan aku sangat tahu kau tak mungkin juga meminta tanggung jawab pada bujang lapuk itu."
Setelah berdebatan panjang Citra menerima kartu tersebut meskipun tanpa diminta sekalipun karena dia sendiri memikirkan, bagaimana nanti ada kehidupan baru setelah ini hal tersebut yang sedang mengganggu pikirannya.
"Baiklah aku akan membawa ini dan maaf aku benar-benar tak ingin meminta apa pun dari dia."
"Terima kasih dan untuk surat resignmu biar nanti aku mengurusnya untukmu ... jaga dirimu baik-baik disini dan segera kabari aku jika nanti ada kehidupan baru." Memeluk kembali tubuh rapuh tak lupa jemari mengusap perut rata menandakan dia sedang menunggunya sambil memberikan sebuah nomor ponsel miliknya yang lain.
Agar tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sang putri mahkota menemuinya secara diam-diam bahkan mata-mata kakek dan om-nya, tak bisa melacak keberadaan Araela karena dia begitu lihai mengelabui penghilatan mata-mata tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih banyak untuk keberanian dan maaf kau datang kemari justru aku tak memberimu apa pun." Citra merasa sesal tak menyediakan minuman apa pun. Namun, sifat dari keberanian gadis di depan mengingatkan dia pada tamu sebelumnya.
Apakah kedatangannya sudah direncanakan oleh tamu itu? Untuk apa Araxi melakukan hal itu? Karena hanya Araxi yang mengetahui sesuatu hal yang pasti nanti mereka akan saling berhubungan.
"Jangan banyak pikiran ya, Cit ... ingatlah kesehatanmu juga harus bisa terjaga karena aku tak ingin terjadi sesuatu denganmu. Sampai jumpa di lain waktu ... secepatnya kabari aku jika nanti ada kehidupan di perutmu."
Setelah urusan dia dengan Citra selesai tibalah sang putri mahkota kembali ke urusannya lain. Hidup dalam kesederhanaannya yang selama ini membuat putri mahkota begitu nyaman dengan kehidupannya sekarang.
*
*
*
“Kau yakin tidak salah memberiku laporan ini?” Seorang wanita sedang menatap tajam untuk anak buahnya.
“Saya berani jamin laporan yang Anda terima itu memanglah akurat.”
“Pergilah!” Sonya wanita itu mengusir anak buah untuk segera melampiaskan amarah di ubun-ubun.
“Apa tidak ada tugas yang bisa saya lakukan, nona muda?”
“Nanti aku akan memberimu dan untuk sekarang jangan ganggu, sebelum aku sendiri yang memanggilmu. Paham!”
Selesai melaporkan sesuatu yang berhubungan perjodohan, di apartemennya Sonya pun melampiaskan semua amarahnya.
Sebab, dia berpikir mengapa harus pria incarannya itu yang dijodohkan oleh seorang anak pembawa sial itu. Apa mereka tidak pikir bahwa dirinya pernah menghabiskan malam yang panjang dengan pria itu.
Ini tak bisa dibiarkan! Bagaimanapun caranya pria incaranku harus bisa menjadi milikku seutuhnya dan pembawa sial itu tidak boleh memiliki dia. Hanya aku yang pantas bersanding dengannya. Itu berarti anak lelaki yang kutabrak anak dari pria incaranku? Bagaimana aku bisa melewatkan hal ini? Apa aku temui pria bangka itu untuk menyatakan bahwa perjodohan ini akan kurebut. Seperti dia yang pernah kubuat bertekuk lutut denganku. Nasibmu tidak jauh berbeda dari wanita penyakitan itu.
Akan tetapi, ketika dia akan menemui sang mama tercinta. Justru mamanya itu datang ke apartemen untuk menemui dirinya karena sudah, dua hari terakhir wanita baya itu tak melihat batang hidung Prasetya.
__ADS_1
“Aku baru mau ke mansion dan Mama justru yang datang ke sini … ada apa?” tanya Sonya dengan raut wajah bingung.
“Mama kesal sudah lebih dari dua hari tidak melihat batang hidung Papamu … apa kamu datang ke kantor?” sahut Mayang seraya balik tanya.
“Aku di sana malah tidak melihatnya, Ma … sudah menanyakan keberadaan dia ke orang-orang kantor?” Sonya sendiri pun heran dengan tingkah pria yang begitu menyayanginya. Meskipun darah di tubuhnya tak mengalir, tapi kasih sayang dari pria itu sungguh tercurahkan.
Sampai-sampai mengabaikan seorang anak kandung yang selama ini tak dianggap dan semua itu berkat hasutan dari wanita melahirkan Sonya.
“Sudahlah jangan membahasnya sekarang … ada hal penting yang mesti kamu dengarkan ini.”
“Aku juga ingin membicarakan hal penting bersamamu, Ma.”
Kedua wanita beda generasi sama-sama menganggukkan kepala yang ternyata putrinya, menanyakan perihal tentang perjodohan yang tak mungkin bisa direbut karena ….
“Apa Mama tahu tentang perjodohan yang direncanakan oleh pria bangka itu?”
“Bagaimana kamu bisa mengetahui kabar ini, Sayang?” Mayang begitu terkejut mendengar kabar dari putrinya.
“Apa Mama lupa siapa putrimu ini, hm? Semuanya tidak ada yang tidak mungkin kulakukan … bahkan aku sendiri mau perjodohan ini hanya untukku bukan dia!”
“Ta … pi.” Wanita baya itu tiba-tiba teringat ancaman dari Pramana. Jika menginginkan perjodohan maka dia harus melewati istrinya.
Mungkin putrinya ini bisa melakukannya sendiri? Karena dia sendiri tak ingin rahasianya tentang Sonya, yang tidak ada hubungan darah Smith terbongkar.
“Jangan bilang Mama ingin menolak membantuku?” Sonya mencebik bibir kesal karena sang mama seperti menolak keinginannya.
“Bu … kan be … gi … tu ….
“Lalu karena apa, Ma?” desak putrinya dengan tidak sabaran.
“Maaf, Sayang … untuk kali ini kamu sendiri harus turun tangan … kalau perlu datangi pria bangka itu … bahwa putri Mama juga menginginkan perjodohan ini. Bisa?”
__ADS_1
“Siapa takut … bila perlu pakai cara licik pun aku pasti bisa melakukannya.”