
Akhirnya mobil yang di kendarai oleh Louser tiba di sebuah rumah sederhana milik seorang gadis yang telah berhasil mencuri perhatian Rolando Wiratama.
“Aku tak pernah meminta Anda mengantarkan, Saya, Pak!” ungkap Araela dingin. Tak lupa ia membuka pintu mobil, lalu kemudian menutupinya dengan keras yang membuat Rewindra mengumpat geram dengan tingkah laku gadis tersebut.
Apa aku baru saja ditolak oleh seorang gadis? S!alan bagaimana bisa dia menolakmu? Padahal ada ribuan wanita yang tak pernah pesona yang ku punya.
Hal tersebut menarik perhatian Louser sembari tersenyum tipis saat melihat sang sahabat ditolak oleh gadis yang ia antar itu.
Pemandangan yang begitu sangat langka dan aku sangat yakin kalau dia tak seperti mereka yang rela merangkak di atas ranjang Rewindra.
“Ser,” panggilnya dengan raut wajah kesal. “Apa aku baru ditolaknya?”
“Entah, aku tak begitu tahu tentang wanita,” jawab Louser demgan acuh.
“S!alan kau, Ser!” umpat Rewindra dengan nada dingin.
“Lalu apa kau ingin bertamu di rumah gadis itu? Louser memastikan bahwa sahabatnya itu pasti tak akan tinggal diam setelah mendapat penolakan.
“Tidak usah, lebih baik kau jalankan mobilnya karena aku sudah mengantuk,” jawab Rewindra yang menolak bertamu ke rumah Araela.
Terlihat sangat jelas raut wajah Louser yang begitu kecewa dengan tingkah laku dari sahabatnya itu.
Mau tak mau ia pun melajukan mobilnya demgan meninggalkan tempat tinggal gadis tersebut menuju mansion milik orang tua Rewindra.
***
Sementara itu di dalam rumah sederhana milik Araela mencebik kesal ketika bertemu dengan pemilik kantor tempatnya bekerja yang mencampuri urusan pribadinya.
Meskipun aku mengenal orang tuamu, bukan berarti seenaknya mencampuri urusan pribadiku! Tapi tunggu bagaimana dengan preman itu? Apa aku yang harus rurun tangan untuk membereskannya atau mata-mata Om Sudah menangani Masalah ku? Aku harus memastikannya.
Mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang yang selama ini begitu sangat menyayanginya dan orang telah berjasa umtuk kehidupan pribadinya.
Panggilan tersambung dari arah seberang yang terdengar nada dingin dari orang tersebut yang tak lain adik kandung Papa tercinta.
“Ada perlu apa kamu menghubungiku, Baby?” tanya Morgan dingin tanpa berbasa-basi.
“Aku tahu kamu selalu mengawasiku dan apakah preman yang sudah berusaha menculikku sudah kamu bawa, Om?” jawbaya seraya membalik pertanyaan.
__ADS_1
“Baby, kamu tak perlu cemas preman-preman yang berusaha menculikmu sekarang telah menjadi jatah milik Ommu yang tampan ini, ya,” jawab Morgan yang begitu percaya diri.
“Cih, jangan terlalu narsis karena kamu itu perjaka tua, Om.” Araela tergelak lucu ketika mengolok Pamannya tercinta.
“Enak saja mengatai ‘ku perjaka tua!” protes Morgan dengan kesal.
“Lah-kan aku benar Om! Kamu perjaka tua.”
Mereka pun berdebat saling menyahut sampai akhirnya Araela teringat tujuan utamanya menghubungi Morgan.
“Om, apa kamu tahu siapa yang merencanakan penculikan ini?”
“Tak perlu cemas, Baby karena aku sudah mengarahkan dua penjaga bayangan yang selama ini mengawasimu, dan Om bisa menebak dia yang merencanakan hal ini pada dirimu.” Nada dingin Morgan menegaskan bahwa pria paruh baya itu sudah bisa menebak seorang yang hampir menculik keponakan tercinta yang tak lain ialah putri kandung dari sahabatnya tercinta.
“Kalau aku menebak pasti anak kesayangan orang itu-kan, Om,” terka Araela dengan nada dingin.
“Sudah pasti dia yang melakukan hal itu denganmu, Baby,” sahut Morgan tak kalah dingin dengannya.
“Lalu apa yang akan kamu rencanakan, Omku sayang?” Araela bertanya karena ia ingin mengetahui rencana yang akan dilakukan oleh Morgan.
Tanpa diketahui oleh Araela. Morgan pun kan memberikan kejutan yang tak terduga.
“Kamu terlihat mencurigakan, Om,” ucap Ara dengan mencebik kesal. “Kamu sendiri Om kenapa masih betah menjadi perjaka tua?”
“Apa itu penting bagimu, Baby?” Morgan membalik pertanyaan yang ia ajukan pada sang keponakan tercinta.
Araela yang mendengar pertanyaan itu pun mendengkus kesal dengan tingkah laku dari orang yang paling berharga bagi kehidupan pribadinya.
“Oh iya, Baby kapan kamu mengunjungi Om, dan juga Kakekmu?”
“Aku tak tahu, Om. Apa ada masalah dengan Kakek?” Araela menjawab dengan balik bertanya.
“Tidak, Babyku sayang. Hanya saja Om dan juga Kakek sangat merindukanmu. Tak bisakah kamu tinggal dengan kami berdua?”
“Maaf Om, aku menolak! Karena aku masih belum bisa melupakan kejadian itu, Om.”
.
__ADS_1
.
.
.
.
Mohon maaf ya readersku semua baru bisa up ada yang sudah kangen
Jangan lupa vote sama kembangnya kalau mau aku double up untuk kalian
Kalau bisa like di atas 30 aku up lagi buat kalian ya
Oh iya jangan lupa mampir di karya temanku satu ini
Langsung saja cus ya
See you next time
Love you ❤️💕💕
Maya Larasati seorang sekretaris yang sangat cantik dan mempunyai seorang kekasih. Kekasihnya ingin menikahinya agar tidak ada orang yang yang memilikinya dan menyuruhnya untuk berhenti bekerja.
Maya sebenarnya sayang kalau berhenti bekerja tapi karena sangat mencintai kekasihnya membuatnya berhenti bekerja dan mereka pun menikah.
Uang pesangon Maya sangat besar membuat suaminya menyuruh untuk membeli rumah yang besar dan Maya pun setuju.
Cobaan datang ketika keluarga suaminya ikut menumpang di rumahnya dan memperlakukan Maya seperti pelayan ditambah suaminya selingkuh membuat Maya mengajukan berpisah.
Di tengah keterpurukan Maya bertemu dengan sang mafia.
Apakah sang mafia bisa meluluhkan hati Maya yang sudah membeku.
Ikuti yuk novel terbaruku.
__ADS_1