Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

“Membolos lagi?” Gunawan membeo yang didengar oleh kedua putranya.


“Iya, Yah!” Morgan menyahut dengan raut wajah yang terlihat sangat bingung. “Apa ada masalah dengan cucumu, Yah?”


“Tak ada, Boy!” Gunawan enggan memberitahukan perihal sang cucu yang sedang mengganggu pikirannya.


Tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sejatinya ia selalu memantau, dan mengawasi pergerakan dari sang cucu tercinta, dan menurut laporan dari mata-mata yang bertugas Araela baru saja menolong seorang anak lelaki, ternyata yang ditolong oleh sang merupakan cicit dari sahabatnya.


“Mengapa dia meminta cuti? Apa ada masalah di kampusnya?”


“Aku tak pernah melihatnya berbuat onar kecuali ....” Morgan ragu mengatakan hal ini.


“Ayah tak ingin mendengar kabar buruk tentang cucu, Ayah!” Gunawan menyela dengan setengah menghardik.


“Setiap hari dia diganggu oleh seorang primadona di kampus, Yah! Akan tetapi cucumu itu tak ingin diusik oleh siapa pun, termasuk dengan orang yang diam-diam menguping obrolan kita.” Morgan begitu terang-terangan menyindir Prasetya yang sedari tadi menahan amarah.


“Morgan!” Suara bas tegas mengalun indah membuat seorang Morgan tak berkutik ketika sang Ayah membuka suara.


“Maaf, Yah!”


“Jadi, cucu Ayahmu ini masih suka bekerja di kantor lain?” Gunawan saat ini juga memastikan semua apa yang didengarnya tanpa ada satu pun terlewatkan.


Morgan mengangguk. Ia sendiri merasa pusing karena tak mengerti jalan pikiran keponakannya tercinta itu. “Mungkin ada sesuatu yang ingin diselesaikan oleh Ara, Yah! Seperti tak tahu tingkah laku cucumu saja.”


Membuat Gunawan bermanggut-manggut karena memang ia sendiri masih belum memahami jalan pikiran dari cucu kesayangannya tercinta.

__ADS_1


“Ya, sudah kalau begitu, kau tetap pantau dan awasi dia, dan juga lindungi selalu keberadaannya di mana pun Ara berada. Ayah tak ingin ada seseorang yang sengaja mencelakainya. Cukup ibumu yang menjadi korban kebiadaban dari dua wanita medusa itu, Gan!”


Sengaja Gunawan mengatakan hal tersebut mengingat ia benar-benar selalu mewaspadai pergerakan dari istri kedua putra sulungnya tercinta.


“Kalau kau tak setuju dengan yang dikatakan oleh Ayah. Hadapi aku secara jantan! Jadi, jangan bersembunyi di ketiak istrimu itu.” Celetukkan dari Morgan seketika membuat darah di tubuh Prasetya mendidih. Namun, sebelum pertengkaran itu terjadi keduanya pun terusir dari sang Ayah tercinta.


“Hei, kalian berdua, jangan bertengkar di dalam rumah Ayah, selesaikan urusan kalian di luar rumah!” Gunawan mengusir kedua putranya tanpa terbeban dengan pertengkaran dari mereka.


Keduanya pun keluar dari rumah Gunawan. Namun, sebuah pukulan mendarat di sudut bibir Prasetya dan mengeluarkan sedikit darah segar akibat pukulan dari Morgan.


“Aku sudah lama ingin memukulmu!” teriak Morgan dengan nada satu oktaf.


“Sudah puas memukulku, hm!” Tanpa merasa takut Prasetya menantang sang adik tercinta. “Apa maumu, hah?”


“Mau sampai kapan kau dikendalikan oleh dua wanita medusa itu, hah?” Morgan balik bertanya.


“Itu akan menjadi urusanku jika menyangkut Ara!” Morgan tak kalah sengit. “Selama aku masi hidup tak akan ku' biarkan kau dan istrimu itu memperlakukan Araku dengan semena-mena.”


“Jadi, kau mengancamku karena ini, heh?” Prasetya terkekeh dengan sinis. Saat ia mendengar kabar yang membuat dadanya sesak.


“Sepertinya kau itu selalu bermasalah dengan Ara ... Apa salah dia? Mengapa kau tak pernah memperlakukan adil terhadapnya?”


“Sudah ku' katakan kau seharusnya tak perlu mencampuri urusanku.” Selesai mengatakan itu dengan sudut bibir yang masih mengalir darah segar. Prasetya meninggalkan Morgan seorang diri dengan keduanya sama-sama terluka.


Bukan karena Prasetya tak menyayangi Araela. Hanya saja saat ini ia sedang ....

__ADS_1


****


Selesai berkutat dengan laptop untuk menutup akses pribadinya, agar Araela terhindar dari orang-orang yang ingin meretas identitas aslinya. Ia pun tak lupa dengan laporan dari kantor yang sedang terlihat ada kendala.


Mencoba mencari celah untuk menemukan seseorang yang sedang berusaha mencuri dan memanipulasi laporan tersebut dengan meminta bantuan untuk membantunya.


“Kau ada di mana sekarang?” Sapa Ara begitu panggilan tersambung.


“Aku ada di kos-lah, kenapa memangnya?” tanya arah seberang yang terlihat bingung karena Araela menghubunginya.


“Coba kau buka email yang barusan ku kirim!” titah Araela dingin.


Menunggu sekitar satu menit kemudian Araela memberi perintah untuk menyelidiki keganjalan dari laporan tersebut.


“Apa yang harus ku' kerjakan, Ra?”


“Bantu aku memeriksa semua laporan itu, Kak.”


“Kenapa ini sedikit mengganjal, dan mengarah ke korupsi. Kau mendapat ini dari mana?”


“Jangan bawel!” Araela enggan memberitahukan tentang keganjalan laporan yang sedang dilacak olehnya.


“Oke-oke, aku akan membantumu, Ra! Nanti aku akan menghubungimu.”


Panggilan dimatikan oleh Araela yang begitu lincah menari di atas keyboard. Sambil tak lupa ia berpikir siapa gerangan yang terlibat korupsi di kantor tempatnya bekerja.

__ADS_1


Siapa yang sedang berkhianat di kantor itu?


Bahkan sampai sekarang pun Ara masih teringat dengan jelas raut wajah kesedihan Rolando yang sangat terlihat di matanya.


__ADS_2