
Di temukan meregang nyawa akibat sebuah racun masuk ke dalam tubuh rentanya yang semua itu direncanakan rapi oleh Sonya sendiri. Hal tersebut mengantarkan dirinya bertolak pindah ke tempat asing untuk bersembunyi dari kejaran media karena telah dituduh membunuh istri Gunawan Gayatri Smith.
“Dadi, bocah kae mau iku dulurmu, La?” (Jadi, bocah itu tadi saudaramu, La?)
Niken yang berasal dari tempat sama dengan Araela menggunakan logat jawa aslinya.
“Iyo, lakaran nek ketemu mesti ngene terus. Gregeten aku!” (Iya, setiap bertemu begini terus. Greget aku!”)
Araela sendiri menyahut dengan bahasa yang dulu pernah ia pelajari semasa bertempat tinggal di desa Malang.
“Bukan.ne biyen kae sen mok cerita.no kui yo? Sen masalah awakmu difitnah.” (Bukannya dulu yang kamu ceritain itu? Masalah kamu difitnah)
“Asli.ne aku kae males ketemu karo dapurane sen seneng golek raii loro! Dipikir aku wedi opo? Nek biyen deweke sering dibelo, imbase aku sen diomeli karo, Papa. Nek saiki wis wegah!” (Aslinya aku malas ketemu dia yang senang bermuka dua. Dipikir aku takut apa? Dulu dia sering dibela imbas aku dimarahi karo, Papa. Sekarang aku sudah lelah)
Saling berbalas jawa Araela mengeluarkan unek-unek yang selama ini ia pendam rapat-rapat karena Niken rekan kerja yang selalu ada untuk dirinya.
“Terus awakmu mau munggah nang lantai ndukur dewe lapo?” (Terus kamu tadi naik ke lantai atas sendiri ngapain?)
Mendapat pertanyaan dari Niken yang ada Araela tergelak lucu dengan kejadian di ruangan milik Rewindra.
“Aku emang sengojo gagalno wong loro kae.” (Aku memang sengaja menggagalkan dua orang itu)
“Wah, awakmu duwe nyali, iso ae gagalno. Sak ilingku sen duwe kantor iki enggak iso diganggu gugat loh wong’e, La.” (Wah, kamu punya nyali bisa juga menggagalkan. Seingatku pemilik kantor ini enggak bisa diganggu gugat orangnya, La)
“Maksudmu, Opo?” (Maksud kamu, apa?)
Obrolan mereka membuat Rolando bingung dengan bahasa yang tak begitu ia pahami. Namun, berada disisi Araela membuatnya merasa begitu nyaman dan tak ingin berjauhan kembali.
Akan tetapi Rolando tak berani bertanya pada Araela yang sedang asyik mengobrol tersebut.
“Deloken iki cah ganteng meneng ae ket mau. Jane tak kui arep takon neng awakmu, La.” (Lihat anak tampan diam saja dari tahu. Ini mau tanya ke kamu, La)
__ADS_1
Mengangguk kepala Araela pun menanyakan langsung pada anak lelaki yang telah di anggap adik oleh dirinya. “Mau bertanya apa, Sayang?”
“Memangnya kamu sedang mengobrol apa, Kak? Itu bahasa apa?” Rolando bukan penasaran obrolan mereka, tapi bahasa yang dipakai membuatnya penasaran.
“Oh itu obrolan bahasa jawa, Sayang. Kenapa memangnya?” jawab Araela dengan membalik pertanyaan.
Rolando menggeleng karena tak mungkin ia bisa belajar bahasa seperti yang dilakukan oleh Araela.
Lalu tak lama kemudian obrolan keduanya berlanjut kembali, tanpa memedulikan Rolando yang terbengong-bengong sendiri.
“Nek, enggak ditegur karo aku. Iso-iso kantor kerjoan iki malah di gawe panggonan kenthuan ketimbang gawe kerjo wong-wong sen golek sak mangan.” (Kalau tidak ditegur sama aku. Bisa-bisa kantor ini malah dipakai tempat bercinta daripada buat kerja orang-orang yang mencari sesuap nasi)
Tentu saja Araela mengeluarkan unek-uneknya dengan berbahasa jawa, dan hanya bisa dimengerti oleh dia sendiri rekan kerja, serta beberapa dari mereka yang berasal dari daerah yang sama.
“Enggak wedi awakmu dipecat, La?” (Enggak takut dipecat kamu, La?)
“Sekira.ne nek aku dipecat gampang gari pindah panggonan ndek deso maning kepenak timbang manggon nang kene.” (Sekiranya kalau aku dipecat gampang tinggal pindah tempat ke desa lagi daripada di tempat ini)
“Heh, awakmu iku enggak ero ta. Bapak.ne arek iku gendeeng kok heran aku. Mosok anake dikasari malah meneng ora marani sen ngasari mau. Untung ketemu karo aku.” (Heh, itu kamu tak tahu ‘kah. Bapaknya anak itu gilla heran aku. Masa anak sendiri dikasar malah diam enggak menghampiri yang mengasari tadi. Untung ketemu sama aku)
Mendengar gerutuan dari rekannya. Niken meringis pelan karena rekan satu-satunya itu pun tak bisa berdiam diri. Jika menyangkut tentang seorang anak yang kebetulan bertemu dengannya secara langsung.
Tanpa dasari oleh keduanya pembicaraan mereka pun terdengar langsung di telinga Rewindra dan juga Pramana sedari tadi diam menyimak.
Pramana sangat begitu jelas mendengar pembicaraan keduanya. Namun, ia tak menyangka gadis yang menolong sang Cucu tercinta sedikit kurang suka dengan sikap yang dilakukan oleh anak sahabatnya tersebut.
Tawa gadis itu pun mengingatkannya pada seseorang yang telah lama meninggal, dan untuk beberapa detik kemudian Pramana tersadar dari rasa terkejutnya. Mendapati kenyataan yang telah dilihat oleh dirinya tentang gadis tersebut merupakan salah satu cucu dari Gunawan Gayatri Smith sahabat sang Ayah tercinta.
Pantas saja wajahnya terasa begitu asing. Nyatanya dia adalah cucu dari sahabat Ayah. Apa dia juga yang dimaksud oleh mendiang Ibu? Aku harus mencari tahu sendiri hal ini pada Ayah.
Bahkan Pramana sendiri enggan memedulikan pembicaraan keduanya yang begitu asyik dengan dunia mereka. Namun, setiap perkataan yang dilontarkan oleh gadis tersebut sedikit menggelitik pendengaran.
__ADS_1
Tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sejatinya ia juga bisa berbahasa seperti yang dilakukan oleh kedua orang tersebut. Mengingat di masa lalu Pramana pernah tinggal di suatu tempat yang saat ini membuatnya merindukan masa-masa itu.
Sementara itu Rewindra Wiratama sendiri tak begitu memahami pembicaraan dari kedua karyawannya. Namun, manik matanya tak lepas dari sang Putra tercinta yang terlihat begitu nyaman di dekat seseorang yang telah mengganggu kegiataannya itu.
Aku tak begitu tahu kamu bisa senyaman ini, Boy! Melihatmu tertawa lepas hati Dady merasa tentram, tapi seribu maaf pun tak akan pernah bisa menyembuhkan luka hatimu. Dady tak pernah menyesal mengabaikanmu karena di balik semua itu, ada suatu hal yang Dady sembunyikan darimu, Nak.
Sambil berjalan menghampiri sang Putra tercinta yang diikuti oleh Pramana. Obrolan antara Araela dengan Niken pun kembali berlanjut.
“La, ngerasani ngene opo enggak wedi krungu nang, Pak Bos?” (La, gibah begini apa enggak takut dengan sampai, Pak Bos?)
“Nek, krungu yo ben. Lapo wedi!” (Kalau dengar ya sudah. Kenapa takut!)
Memutar bola mata jengah Niken tak begitu habis pikir dengan jalan pikiran rekannya ini. Namun, manik matanya bertabrakan denga Louser dan terbelalak lebar ketika melihat seseorang menghampirinya.
Aduh, mampus aku, kan dikandani ngeyel tenan arek siji iki!
Sampai di depan kedua orang tersebut. Rewindra berdehem lalu berucap dingin. Mengingat ia begitu geram dengan tingkah laku dari putranya. “Boy, pulang dengan, Opa!”
Rolando yang sedari diam menyimak enggan pulang dengan Opa karena sekarang ia ingin selalu didekat Araela Ayudia Gayatri Smith.
“Boy!” Memanggil kembali. Namun, sang Putra justru enggan pulang ke mansion.
“Opa, aku mau di sini!” Rolando merengek dengan bibir mengerucut kesal.
“Win, sudah-lah jangan memaksanya.” Pramana mencegah Rewindra membuka suara.
Sampai perdebatan itu terdengar langsung oleh Araela yang sedari tadi diam setelah mendapat deheman pertama kalinya. “Biarkan, dia di sini bersamaku, Om.”
Rewindra Wiratama tersentak mendengar suara lembut yang berasal dari gadis tersebut.
Si’alan apa-apaan dia? Mengapa juga dia mengenal Papa? Apa ada suatu hal yang telah ku’ lewatkan?
__ADS_1