Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
DCTCGB


__ADS_3

“Culik seseorang yang mempunyai potongan rambut bermodel pria. Aku akan mengirimkanmu sebuah foto tapi kau harus bisa membedakannya.”


“Apa ada lagi, Nona?”


“Ingat lakukan itu dengan rapi, dan aku tak ingin mendengar kau gagal menjalankan tugasmu. Nyawamu taruhannya!”


Sonya pun mematikan panggilan itu secara sepihak sambil mengirim pesan singkat berupa foto untuk memberi petunjuk agar orang suruhannya tanggap dengan perintah dari dirinya.


Begitu halnya yang dilakukan oleh Alex yang sedang menyamar itu pun merekam semua kejadian tersebut untuk melaporkan pada sang sahabat tercinta, dan membuatnya menghilang dari pandangan mata Sonya sebelum wanita itu menyadari keberadaan yang sedang mengawasi dan memantau.


Selesai menghubungi orang suruhannya Sonya berjalan menghampiri Samuel yang sedang memainkan ponsel miliknya.


Tentu saja sang kekasihnya tersebut sedang berbalas pesan dengan Alex yang saat ini telah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh dirinya.


Ketika akan tengah berusaha membaca pesan tersebut tapi Samuel lebih gesit mengalihkan pikiran Sonya agar tak terlalu mencurigainya.


“Sedang berbalas pesan dengan siapa, Sayang?” Sonya bertanya dengan nada lembut. Namun batinnya mengumpat geram karena gagal membaca isi pesan tersebut.


“Oh itu aku sedang membalas pesan email masuk dari sekretarisku. Kenapa?” jawab Samuel bohong seraya dirinya balik bertanya.


Sonya menggeleng yang tak lama kemudian ia mengajak sang kekasih untuk menemani mencari sebuah taksi yang akan mengantarkannya pulang ke mansion. “Sebaiknya antar aku ke depan untuk mencari taksi yang mengantarkanku pulang ke mansion.”


Berselang beberapa menit kemudian Samuel dengan Sonya sampai di luar pusat perbelanjaan tersebut karena hari sudah malam ia menghentikan sebuah taksi dan menyuruh sang sopir untuk benar-benar mengantarkan Sonya sampai dengan selamat mansionnya.


Taksi tersebut perlahan-lahan melaju sampai menghilang dari pandangan mata Samuel berganti dengan tatapan yang begitu sangat dingin, sambil jemarinya mengambil ponsel dari saku celana dikenakan oleh dirinya untuk menghubungi Alex, agar sang sahabatnya itu melaporkan pengawasan terhadap kekasihnya tersebut.


“Bagaimana, Lex, apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan?” tanya Samuel to the poin begitu panggilan tersambung.


“Ya, ada sepertinya Sonya sedang menculik seseorang tapi aku tak begitu jelas mendengar orang yang akan di culik,” jawab Alex meragu.

__ADS_1


“Kalau begitu kau awasi pergerakannya kalau perlu suruh mereka untuk mengikuti Sonya tapi ingat jangan sampai kecolongan.” Samuel memberi perintah yang tak ingin dibantah oleh sahabatnya tersebut.


“Apa ada lagi, Sam?” tanya Alex.


“Kau jangan sampai lupa dengan tugas utamamu, Lex.”


Dengan kasar Samuel mematikan panggilan yang tersambung sambil mengusap kasar wajahnya. Karena ia begitu kecewa dengan Sonya yang selama ini selalu membuatnya tak bisa berdaya.


Ela! Bantu aku keluar dari jeratan pesonanya. Sungguh aku tak berdaya jika berhadapan dengannya. Hanya kamu satu-satunya pemilik hatiku! Harus bagaimana lagi aku melakukan suatu hal agar bisa membuatmu mau memaafkan kekhilafan yang pernah menorehkan luka hati untukmu.


Samuel melampiaskan rasa sakit yang selama ini menjadi beban erat di pundaknya dengan menjerit dalam batinnya. Tak lama kemudian ia beranjak dari tempatnya berdiri menuju kantor untuk meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda.


Ia juga terpaksa menutupi identitas aslinya sebagai pemilik kantor di tempat Alex bekerja agar Sonya tak terus menerus memanfaatkannya karena dari laporan anak buah Alex. Wanita juga menorehkan luka hati dengan menjajahkan tubuhnya untuk dinikmati oleh pria lain selain dia sendiri.


Hal tersebut membuat Samuel kecewa sekaligus ji’jik pada orang yang telah menghancurkan hati keduanya dan juga sejak hari itu ia telah bertekad untuk tak menikmati tubuh Sonya kedua kali karena keperjakaannya pun telah di ambil paksa oleh wanita itu sendiri.


***


Rolando yang sejak dari taman bermain itu pun lebih banyak berdiam diri saat seorang yang ia sebut Kakak sedang merasakan kesedihan tentu saja sangat terpancar jelas di matanya.


Bahkan Rolando bisa merasakan semua kesedihan yang ada di dalamnya setelah Araela bertemu dengan seseorang dan salah satunya yang membuatnya takut bertemu dengan orang lain.


Akan tetapi sepertinya orang yang di anggap Kakak oleh dirinya terlihat lebih tegar meksipun pada kenyataan sesungguhnya di dalam hati tersimpan luka yang tak bisa di jelaskan oleh siapa pun.


Instingnya sebagai seorang anak kecil pun bisa menebak dengan benar, yang mana membuat dirinya bisa merasakan aura jahat di dalam seorang wanita yang membuat ia takut untuk bertemu.


Lamunannya buyar saat Rolando sedikit terkaget ketika taksi yang mereka tumpangi tiba di gerbang mansion yang dari arah lain mobil di tumpangi sang Opa menghampirinya.


“Apa tak masalah turun disini, Sayang?” Araela yang menutupi kesedihannya pun merasa tak enak dengan anak lelaki tersebut.

__ADS_1


“Aku tak masalah, Kak, sampai jumpa!” ucap Rolando sembari menutup pintu taksi yang baru saja turun dari mobil itu sambil kakinya menghampiri mobil sang Opa yang berhenti tepat di sebelah. “Mau ke mana, Opa?”


“Opa, baru ingin turun menghampirimu tapi kamu sudah lebih dulu sampai pada, Opa. Bagaimana tadi senang tidak?” jawab Pramana dengan balik bertanya. “Sebentar, Opa mau menghampiri taksi yang kamu tumpangi tadi.”


Akan tetapi Rolando mencekal lengan Pramana untuk mencegah menghampiri taksi yang tengah bersiap meninggalkan mansion dengan gelengan kepala dari dirinya.


Hal tersebut membuat Pramana mengernyit heran dengan tingkah laku dari sang Cucu tercinta yang tak lama kemudian taksi di tumpangi Araela menghilang dari pandangan mata Rolando.


Yang membuat Rolando mendapat pertanyaan dari Pramana tentang niatnya yang tak memperbolehkan menghampiri Araela. “Ada apa, Boy?”


“Di taman bermain tadi kami bertemu lagi dengan nenek sihir, Opa.” Tak kuasa menahan sesak Rolando pun bercerita tentang pertemuannya dengan seseorang yang membuat ia takut bertemu.


“Nenek sihir, ya,” beo Pramana yang heran dengan sebutan di sematkan dari Rolando. “Siapa yang kamu maksud, Boy?”


Rolando berdecak kesal Opanya ini kenapa pikun sekali. Masa tidak mengerti dengan istilah seseorang yang di sematkan darinya.


“Opa orang aku maksud itu adalah dia yang ada di kantor Dady dan dialah juga yang memarahi Cucumu ini.”


Mendengar cerita dari Rolando tanpa sadar membuat Pramana meradang karena ia saja tak akan melupakan peristiwa yang membuat sang Cucu ketakutan. Namun ketika melamun ia mendapati sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh sang Cucu tercinta.


“Opa, datang ke kantor Dady untuk apa? Tadi ku lihat dandanan baju yang di pakai pun berbeda.”


Pramana seketika terbatuk-batuk. Ia menduga Rolando cepat atau lambat akan mengetahui kebiasaan buruknya. Ini yang ku takutkan cepat atau lambat Ando akan mengetahui kebiasaan burukmu, Win! Batin Pramana menjerit begitu menyayangkan tingkah laku yang dilakukan oleh Rewindra.


Untuk mengalihkan pikiran Rolando terpaksa Pramana mengajaknya masuk ke dalam mobil yang mana tujuannya sekarang adalah sang Ayah tercinta. “Boy, sudah ya lain kali Opa akan menjawabnya, dan lebih baik kamu ikut Opa ke rumah Buyut. Mau?”


Mengangguk kepala Rolando pun memilih diam daripada ia tak mendapat jawaban yang membuatnya puas, dan di dalam mobil yang di tumpangi oleh dirinya di penuhi tanda tanya tentang sang Dady tercinta.


Mengapa sang Dady tak pernah mau terbuka dengan dirinya? Karena ia lebih memilih untuk tak dilahirkan kalaupun kehadirannya di anggap angin lalu.

__ADS_1


__ADS_2