
Bahkan janjinya dengan mendiang sang istri pun tak pernah ia pedulikan karena yang ada adalah rasa penyesalan dan rasa bersalah tak begitu bisa menjaga wanita yang begitu dicintai oleh dirinya.
Bila memang ia menyebabkan kebencian di dalam diri Rolando dengan segenap jiwa dan hati Rewindra Wiratama bersedia menerima semua itu dari putranya tercinta.
Tanpa terasa waktu sore hari cepat berlalu yang membuat Rewindra tak menyadari jika siang telah berganti ke sore hari. Mau tak mau membuatnya menyudahi meminum wine dengan sendiri. Dikarenakan ia tak mengizinkan siapa pun mengganggunya.
Selain itu hanya dengan cara inilah Rewindra menghilangkan kepenatan yang melanda hatinya, dan juga ketika sedang bertengkar hebat dengan Rolando, ia tak akan pernah memarahi sang Putra hanya karena masalah sepele. Termasuk ketika Putranya diperlakukan kasar membuat darah Rewindra mendidih.
Akan tetapi ketika masalah luka hati yang ia torehkan untuk Rolando, mau tak mau membuat Rewindra lebih memilih bercinta daripada harus melampiaskan rasa sakit yang selama ini menjadi beban erat di pundaknya.
Selesai melampiaskan semua rasa sakitnya dengan sebotol wine yang selalu menemaninya. Rewindra memutuskan untuk bercinta dengan salah satu dari wanita yang selalu membuat ia merasa puas karena pelayanannya.
Begitu keluar dari ruangan pribadinya. Rewindra mendapati Louser sedang menghandle pekerjaan yang memang ia lemparkan untuk dibereskan oleh asistennya tersebut.
“Kau ikut aku sebentar, Ser!” titah Rewindra dingin sambil berjalan tanpa menolehkan kepala ke arah Louser.
__ADS_1
“Anda mau ke mana, Tuan?” Louser bertanya sambil mengekor langkah kaki Tuannya dari belakang.
“Ke tempat biasa!” jawab Rewindra dingin. Membuat Louser langsung tanggap dengan permintaan dari Tuannya itu.
Tak lama kemudian keduanya pun kini tengah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh Louser dengan Rewindra yang lebih banyak melamun.
Tingkah laku Rewindra membuat Louser begitu pasrah dengan keadaannya sekarang sangat berbeda pada waktu dulu Tuannya tak sampai harus melakukan sesuatu yang membuatnya benci.
Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit berlalu mobil yang di kendarai oleh Louser tiba di parkiran bar milik sahabat Rewindra Wiratama.
“Ser, apa pemilik Bar ini ada di sini?” Rewindra bertanya karena sudah lama tak berjumpa dengan salah satu sahabatnya tersebut.
“Silakan menunggu di tempat biasa, dan maaf biasanya Tuan Muda belum datang sekarang.” Jawaban dari bartender membuat Louser berdecak kesal.
Tanpa berbasa-basi Louser meninggalkannya, sambil menghampiri Rewindra untuk melaporkan bahwa pemilik Bar belum menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
“Jadi, dia menyuruh kita menunggu begitu, Ser?” Rewindra memastikan bahwa sahabatnya ini sedang tak berada di Bar miliknya.
Louser mengangguk dan juga karena berada di luar kantor. Ia lebih leluasa memanggil nama asli Rewindra tanpa embel-embel Tuan. Sebab dirinya merupakan sahabat sekaligus asisten pribadinya.
Akan tetapi Louser menawarkan diri untuk menghubungi orang yang dimaksudkan oleh Rewindra. “Bagaimana kalau aku yang menghubunginya, Ndra?”
“Jangan lama-lama, Ser. Aku butuh penyegaran untuk otakku!” Rewindra memerintahkan Louser untuk segera menghubungi sahabatnya karena ia tak suka menunggu terlalu lama.
Di salah satu ruangan VVIP yang sengaja di pilih oleh Rewindra saat ini sedang menikmati segelas wine dengan Louser yang tengah menekan sebuah nomor ponsel untuk menghubungi seseorang dari arah seberang.
Tak lama kemudian panggilan itu pun tersambung dengan Louser menyapa dan bertanya kabar dari orang tersebut. “Apa kabar, Bro? Lama sekali mengangkat panggilan dariku!”
“Kabarku baik! Apa kau menghubungi atas perintah lelaki itu, Ser?” Dari arah seberang sahabat Rewindra berdecak kesal dengan tingkah lakunya.
“Dia sedang menanyakan kabar tentangmu, Bro!”
__ADS_1
“Apa kau yakin tak ada hal lain, Ser?”
Tak tahan mendengar ejekan dari sahabatnya, tanpa di duga Rewindra justru memerintahkan langsung pada pemilik Bar untuk datang ke tempat usaha miliknya sendiri.