
“Apa ada yang salah dengan wajahku?” Araela mengulang pertanyaan yang ia ajukan pada orang ditolongnya.
“Tidak.” Menjawab pertanyaan itu, sembari memikirkan wajah seseorang yang menolongnya, seperti pernah ditemuinya.
“Lalu mengapa kau tak melawan? Disaat mereka membullymu seperti ini?”
Menunduk seraya meremas jemarinya yang terlihat bergetar, dengan terpaksa ia mengutarakan perasaan takutnya. “aku tak berani dengan mereka, dan sebaliknya jika aku melawan bisa-bisa salah satu dari mereka mengeluarkan dari kampus ... karena salah satu dari pembully orangtuanya merupakan donatur di kampus ini.”
Araela yang mendengarnya pun mengumpat geram, dengan tindakan yang dilakukan oleh pembully itu, dan sebagaimana mestinya gadis itu tak akan membiarkan para pembully merajalela disekitaran kampus.
Karena ia sendiri bertekad, untuk selalu memberantas para pembully, dengan menegakkan suatu keadilan bagi pelajar mahasiswa/siswi terkenal di kampusnya itu.
“Lawanlah selagi kau tak pernah salah ... justru mereka menyelewengkan usaha kedua orang tua ... saat memasukkan para pembully itu di kampus.”
Orang yang ditolong oleh Araela mengangguk lemah, ketika dirinya mendapat gairah semangat untuk melawan, ketidakadilan yang terjadi menimpa dirinya.
“Ngomong-ngomong aku belum pernah bertemu denganmu ... siapa kau? Mengapa justru dirimu yang menolongku?”
“Kau bisa memanggilku Ara ... untuk menolongmu tak harus butuh alasan banyak ... lagi pula aku juga sama denganmu, baru pertama kali melihatmu di kampus.”
__ADS_1
“Aku kuliah ambil jatah malam hari karena pagi hari sampai jam 17.00 sore ... aku bekerja part time sebagai sekretaris cadangan, dan itu hanya sekadar mencoba peruntungan di sana ... karena aku harus membiayai kehidupan keluargaku di kampung.”
Tak disangka-sangka oleh Araela Ayudia Gayatri Smith, dirinya bisa bertemu dengan seseorang yang mempunyai pemikiran sama, “wah – wah — Kau sungguh sangat hebat bisa bekerja sesuai dengan kemampuanmu.”
Setelah memberi memujinya, tak lupa ia memberi semangat kepada orang yang ditolongnya itu, “yang paling utama kau harus bisa membagi waktu antara pekerjaanmu, dan kuliahmu karena di sana ada keluarga yang menantimu menjadi wisudawan ... namamu sendiri siapa?”
“Citra itu namaku, dan aku mohon jangan berlebihan, untuk memujiku seperti itu karena semua itu, kulakukan sesuai dengan kemampuan yang ada.”
Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Mengapa tatapan matamu, mengarah kepadaku? Apa aku pernah berbuat salah denganmu? Karena aku benar-benar tak menyukainya, dan juga kita bahkan bertemu pertama kali. Namun, tatapmu seperti sedang membenci seseorang.
Kedua gadis itu pun terdiam membisu, bahkan tak juga mereka masing-masing memikirkan yang hanya keduanya tahu, dan tak ingin kejadian dialami oleh Asyifa, membuat Araela mewaspadai di sekitaran kampusnya itu, tanpa membuang waktu banyak ia menawarkan diri membantu orang yang ditolongnya, dengan mengantarkan sampai selamat ke rumah kost ditempati oleh Citra.
Begitu sampai di kos — kos-an milik Citra, dan si pemilik tersebut menawarkan diri untuk mampir main ke tempat kostnya, “terima kasih ya, Ra ... sudah mau mengantarku dengan selamat, sampai di kos-ku, dan kamu mau mampir sebentar tidak?”
Karena dirinya akan kembali ke rumah sang kakek, untuk menemani kakeknya berkunjung ke makam, yang begitu sangat berharga baginya.
“Baiklah kalau begitu ... maaf sudah mau ku-repotkan, dan semoga kita dapat berjumpa kembali.”
Araela pun membalas ucapan perpisahan, dengan melambaikan tangan sebelum gadis itu, membalik tubuh yang berselang lima menit kemudian, ia telah masuk kembali ke dalam taksi ditumpangi oleh dirinya. “turunkan aku di warung makan pecel lele ya, Pak.”
__ADS_1
“Baik, Non.” Tak lupa sopir taksi itu pun, kembali mengemudikan kendaraannya, yang mengarah ke tempat warung makan dimaksud oleh penumpangnya.
Membutuhkan waktu sekitar dua puluh berlalu, taksi ditumpangi gadis itu, telah sampai di tempat warung makan yang dimaksud, “tunggu sebentar disini, Pak ... aku mau membungkuskan makan untukmu.”
Setelah itu, Araela menyerah sebungkus bebek goreng, ditambah teh panas yang diberikan kepada sopir taksi tersebut.
.
.
.
.
.
Karena insiden kecelakaan yang di alaminya, Maira harus kehilangan anak dalam kandungannya. Psikis Maira juga terguncang dan semakin memburuk ketika ASI-nya selalu keluar sangat deras. Maira ingin mengASIhi anaknya, tapi semua hanya menjadi angan-angan.
__ADS_1
Hingga suatu hari, ada seorang wanita tua datang menghampiri Maira dan mengatakan jika kecelakaan waktu itu juga merenggut nyawa seorang ibu, sehingga sang bayi kini menjadi rewel membutuhkan ASI.
Hati Maira tergerak, dia ingin sekali mendonorkan ASI-nya, akan tetapi niat baik darinya mendapat penolakan dari Agam — ayah anak tersebut. Mungkinkah Maira akan menyerah, atau dia semakin gencar ingin menjadi Ibu susu bayi mungil tak berdosa itu?