
“Jangan galak-galak, Honey.” Rewindra berusaha menggoda sang istri hingga, pria itu teringat tempat lain yang tak ada seorang pun mengetahuinya. “Kamu ada di tempat itu sendirian, Hon? Bukankah tempat itu, tak ada yang mengunjungi? Lalu bagaimana kamu bisa ke sana, dan datang sendiri?” Cecaran tanya untuk di ujung ponsel membuat pria itu, mendengar nada dengkus kesal dari istri kecilnya. “Apakah aku perlu ke sana menjemputmu?”
“Tak perlu.” Ara menolak tegas. “Aku hanya sebentar ada di tempat ini, tak perlu menjemputku karena aku yang akan mendatangi ruanganmu!”
Rewindra menurut permintaan sang istri hingga tak lama kemudian, panggilan itu terputus bersamaan dengan itu ia memutuskan untuk menunggu, sang istri sembari memesankan makan siang untuk Rolando dan dirinya sendiri.
“Kita tunggu mamamu dulu ya, Boy.” Rewindra mengajak Rolando menunggu sembari, menawarkan makan siang yang diinginkan oleh sang putra. “Sebelum itu, Daddy ingin kamu memesankan makan siang! Apa yang ingin kamu pesan?”
Pria kecil itu terlihat ragu untuk mengemukakan pendapat. “Apa kau yakin aku boleh memilih, Dad? Sebenarnya aku ingin ....”
Rewindra memotong sebelum pria kecil itu melanjutkan kembali. “Ingin apa? Bilang pada Daddymu ini, Boy!”
“Ingin sayur asem dan telur goreng.” Pria kecil itu menunduk dan malu menyampaikan keinginannya. “Mama selalu berkata untuk tak terlalu, sering memesan junk food karena itu tak baik. Jadi, mama selalu menyuruhku untuk memesan makanan mengandung bahan pokok.”
__ADS_1
Satu hal yang diketahui oleh Rewindra, jika sang putra sungguh sangat berbeda dari yang lain. Sejak adanya sang istri di kehidupan mereka semua sikap, di dalam diri Rolando maupun ia sekaligus diubah oleh gadis itu.
Menempelkan ponsel yang disambungkan dengan seseorang di ujung yang tak lama kemudian, pria itu langsung menurunkan perintah dengan meminta Louser memesankan makan, bersama ia sendiri pun tak ingin kalah dari putranya sendiri perihal makanan yang diinginkan.
“Tunggu sebentar ya, Boy.” Usai menghubungi Louser di ujung panggilan. Rewindra meminta sang untuk bersabar menunggu, makan siang yang masih dibelikan oleh asistennya.
Bukan itu saja yang membuat pria itu semringah melihat, sang putra yang tak pernah mempermasalahkan tentang makanan, yang dimakan justru putranya itu lebih memilih untuk memakan yang mengandung, bahan pokok dibandingkan anak-anak lain pada umumnya yang selalu menginginkan, makanan junk food tapi ternyata Rolando benar-benar anak yang berbeda.
“Kamu tak apa-apa menunggu om Louser membelikan makanan pesananmu?” Rewindra melontarkan tanya kembali.
“Kamu tak ingin mengobrol dengan Daddymu ini, Boy? Misal tentang kado yang kamu dapatkan dari dia?” Rewindra masih penasaran dengan, kado yang dibahas oleh keduanya. “Tak masalah bukan merayakan hari kelahiranmu di mansion oma? Pestamu juga sudah 70% dipersiapkan menyambut kelahiranmu.”
Berganti Rolando mencebik kesal sembari mengerucut bibirnya hingga, sang daddy tergelak lucu melihat bibir menggemaskan itu. “Aku tak mau dirayakan pesta itu, Dad. Kalaupun Daddy berkata demikian, aku bisa apa? Selain meminta Daddy untuk hadir di pesta itu nanti, apa kau bisa melakukan permintaanku ini?”
__ADS_1
Rewindra mengangguk. “Kali ini Daddy akan menebus kesalahan yang telah, kulakukan sampai membuatmu terluka karena sikap pengecutku ini.” Mengeluarkan ungkapan permintaan maaf dari lubuk hati, hingga kedua pria berbeda generasi itu tak menyadari jika obrolan mereka terdengar, oleh Araela yang mengawasi mereka dari tempat rahasia di kantor tersebut.
Araela mendatangi tempat rahasia itu bukan untuk bekerja saja yang ia lakukan tapi untuk, menyembunyikan kegiatan hal lain seperti sedang mengawasi kerajaan di sana, sembari mencuri dengar arah obrolan dari dua pria yang dicintai oleh gadis itu sendiri.
Kembali pada dua pria berbeda generasi yang masing-masing bungkam, hingga tak lama kemudian Louser masuk ke dalam ruangan tanpa, mengetuk pintu karena ketika ia mengetuk tak ada sahutan dari dalam.
“Pesananmu dan si tuan kecil.” Meletakkan beberapa nasi bungkus di atas meja, sembari membuyarkan lamunan sepasang ayah — anak terdiam bungkam. “Apa kau memikirkan hal lain, Bro?”
“Kau tak mengetuk pintu ya, Ser?”
Louser mencebik kesal. “Tak perlu mengetuk pintu, saat kuketuk dari luar tak ada sahutan dari dalam. Jadi, salahkan aku yang tiba-tiba masuk ke dalam ruanganmu!” Jawaban panjang dari sang asisten, membuat Rewindra enggan membalasnya.
Tanpa disadari oleh mereka jika Rolando langsung melahap habis makanan yang disodorkan oleh dirinya, tanpa memedulikan pertengkaran yang dilakukan orang dewasa.
__ADS_1
“Pelan-pelan nanti kamu tersedak, Boy.” Rewindra menegur cara makan Rolando yang terlihat begitu rakus.
Hal tersebut menciptakan gelak tawa dari Louser yang begitu, gemas dengan cara makan ala Rolando agak lain.