Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Hukuman Untuk Di Langgar


__ADS_3

“Aku yang menyuruhmu untuk segera datang ke mari! Apakah dia membuatmu susah?” Tanpa berbasa-basi Prasetya melontarkan pertanyaan karena dia sangat ingin mengetahui tentang kepribadian putrinya.


Rewindra menggeleng dengan dia tengah mendaratkan bokong di atas sofa, “Dia, sangat berbeda dari wanita yang kukenali ... bahkan dia sangat sulit ditebak jalan pikiran yang membuatku tidak terlalu memahami kepribadian putrimu, Om,” sahutnya sambil menerawang tentang pertemuannya dengan gadis barbar tersebut.


“Jangan panggil aku, Om!” Prasetya memprotes panggilannya karena dia adalah mertua dari pria di hadapannya. “Sekarang aku mertuamu dan kau bisa memanggilku Papa!”


Mengangguk tanpa membalasnya pria muda itu bingung harus bagaimana memulai obrolan, sampai membuat Prasetya tanggap dengan tujuan menantunya yang terlihat sangat merindukan sang putri.


“Istrimu sedang istirahat di ruang rahasiaku? Ingin menemuinya sekarang?” tebaknya yang membuat Rewindra meringis pelan karena pria baya itu, benar-benar sangat tanggap bahwa dia tidak pernah berhenti merindukan sang istri.


“Apakah aku boleh menemuinya?”


“Masuklah ke dalam ruang rahasia itu! Kau akan melihat dengan sendiri bahwa saat ini dia sedang terlelap, di alam mimpi karena aku baru saja melihatnya dan itu pun sebelum kau datang.” Memaparkan dengan menjelaskan sambil memberi petunjuk sebuah ruang rahasia.


Tanpa disadari oleh pria baya itu, Rewindra bersorak dalam batin sambil menyeringai licik. Ini pertama kali dia mendapat lampu hijau untuk bermain-main sebentar meskipun dirinya dalam masa hukuman.


Saat ini Rewindra berada di dalam ruang rahasia dimaksud oleh mertua-nya dan dikejutkan dengan pemandangan sangat indah. Tubuh mungil terlelap sangat nyenyak dengan suhu dingin mengudara di sekitar ruangan tersebut, dengan gadis itu hanya memakai kaos yang menampilkan lekuk tubuh semulus putih susu.


Membuat jakun pria itu bergerak naik-turun saat dia disuguhkan oleh pemandangan indah menyejukkan mata. Tapi sebelum memulai aksinya untuk mencicipi dua benda kesayangannya, pria itu menyentuh kembali ponsel berlogo apel tergigit sebelah dengan layar pecah untuk memeriksa isi di dalamnya.

__ADS_1


Bahkan dia tidak menemukan apa pun selain hanya beberapa foto yang tersisa termasuk, sebuah foto yang selama ini tersimpan rapi tanpa pernah ditunjukkan pada putranya.


Pria itu belum siap untuk membagi apa pun tentang permasalahan yang selama ini tersimpan sendiri, hingga sampai sekarang rasa rindu itu pun selalu hadir di relung hati terdalam. Namun, rasa rindu itu akan menjadi dinding tembok dan menyimpan di tempat paling dalam, karena dia tidak ingin melukai perasaan gadis barbar yang telah menjadi seorang istri untuk dirinya bersama Rolando.


Meletakkan kembali ponsel dengan netra mata tidak berhenti menatap lekuk tubuh mungil, tidak berselang lama kemudian dia merangkak naik di atas ranjang tanpa menimbulkan suara.


Tidak lupa untaian doa dipanjatkan untuk pernikahan yang akan menjadi sebuah hubungan dan hanya maut memisahkan dia dengan gadis itu.


“Tidak pernah kuʼ berhenti mengungkapkan rasa terima kasihku pada dirimu yang mau menerima segala kekuranganku!” bisik Rewindra pelan.


Pria itu melancarkan aksinya dengan memberi beberapa kecupan di seluruh wajah gadis itu yang terakhir, pada bibir ranum membuatnya candu berbahaya tidak luput dari usapan bibirnya sendiri.


Menyibak pelan kaos yang dipakai oleh gadis itu dengan dia lebih dulu meraup, dua benda secara rakus sampai menggigit pelan yang membuat tidurnya terusik.


Bahkan pria itu berhasil menenangkan gadis itu sambil melahap habis dua benda kesayangannya dan, dia sendiribagaikan bayi yang terlihat kehausan karena sangat rakus dan ganas memainkan dua benda tersebut.


Tidak lupa kembali meninggalkan jejak keunguan di sekitar tempatnya menyusu dengan dia merambat turun dan memberi, sentuhan lembut sampai membuat si belalai gajah mengacung tegak serasa ingin dipuaskan oleh goa istimewa gadis itu.


Tapi, terlambat ketika dia ingin melancarkan aksinya gadis itu lebih dulu membuka mata dan memberinya, sebuah tendangan mematikan sampai membuat tubuh tinggi tegap terjatuh dari atas ranjang.

__ADS_1


“Honey!” Pria itu merengek manja sambil menahan rasa sakit karena tendang mematikan istrinya tidak main-main.


“Sejak kapan kau ada di atas tubuhku? Lalu bagaimana kau bisa mengetahui jika aku sedang berada di kantor ini? Dan juga mengapa kau melanggar hukuman yang kuʼ buat untukmu?” pungkas Araela dengan todongan menyelindik hingga bibir pria itu mengerucut kesal.


Gagal melakukan aksi yang benar-benar ingin memanjakan si belalai gajah, “Tentu saja aku datang atas izinnya, Hon ... lalu mengenai apa yang telah kulakukan, tentu saja untuk melanggar hukuman darimu! Kamu bisa melihat dengan sendiri bukan, bahwa dia sekarang selalu on fire saat berada di sampingmu.” Tanpa takut Rewindra menantang istrinya.


Hal tersebut membuat gadis itu kesal dengan pelanggaran yang dilakukan oleh sang suami bahkan dia, sedikit kecolongan karena keasyikan di alam mimpi sampai tidak menyadari kebuasaan dari pria itu.


Sampai gadis itu melontarkan sebuah bahasa lain saking kesalnya pada sang suami. “Hei, ojok dibaleni maning lek enggak tak babat entek manukmu!” sungut Araela dengan bahasa jawa yang terlontar dari bibirnya.


“Apa yang kamu katakan, Honey?” tanya Rewindra dengan raut wajah bingung.


Ini pertama kalinya mendengar dengan sendiri bahasa yang tidak dipahami oleh pria tersebut.


“Gawe PR-mu nang omah,” ketus gadis itu tanpa enggan pertanyaan tertuju untuk dirinya.


“Honey!”


__ADS_1


__ADS_2