
“Papa bisa minta tolong padamu, Win?” Pramana sendiri memastikan apakah putranya itu mau mendengarkan permintaan darinya ataukah ada hal lain?
Yang mana Rewindra Wiratama tak menjawab permintaan dari Papanya, tapi justru membalik pertanyaannya. “Kenapa minta tolong padaku, Pa?”
“Papa meminta tolong padamu karena ingin memastikan. Apakah kau mengkhawatirkan keadaannya?”
“Apa pernyataanku tadi masih kurang jelas, Pa?” protes Rewindra seraya mendengkus kasar. “Seacuh apa pun aku padanya, tapi tak pernah sedikit pun berpikir benar-benar tak mengabaikannya. Kau salah besar dengan sikapku, Pa!”
Pramana yang mendengarnya itu pun tertegun ketika mengetahui sebuah fakta, bahwa dibalik sikap acuh Rewindra pada Rolando sendiri itu, justru menyimpan sebuah rasa sayang yang begitu nyata sebagai seorang Ayah meskipun tak pernah melihat keadaannya. “Maafkan Papa, Win.”
“Sudahlah tak perlu dibahas lagi, dan kalaupun Ando membenciku aku tak akan pernah mempermasalahkannya karena, aku sendiri yang telah membuatnya memendam rasa benci itu.” Tak lupa ia menegaskan pada sang Papa. Sejatinya sudah lama memendam dan menerima semua risiko yang di ambil olehnya.
“Oke-oke, kalau itu sudah menjadi risiko yang kau ambil. Dan Papa ingin meminta tolong untuk menjemputnya di rumah seseorang?” pinta Pramana yang membuat Rewindra mengerutkan keningnya ketika mendengar permintaan dari Papanya tersebut.
“Loh, memangnya Ando ada di rumah siapa, Pa?” tanya Rewindra yang terlihat bingung.
“Di sana nanti kau akan tahu sendiri, Win,” jawab Pramana dengan senyum smirk yang tak disadari oleh Rewindra itu sendiri.
__ADS_1
Rencana ia mempertemukan gadis itu dengan Rewindra melalui sang Cucu tercinta pasti akan ada sedikit drama yang hanya Cucunya sendiri mengambil kendali.
Semoga kali ini mereka bisa bertemu, meskipun Cucuku yang mengambil kendali karena, aku sangat yakin apa yang dipilih oleh Ayah pasti menjadi jalan terbaik untuk kehidupan Rewindra dan Rolando.
“Di mana alamat rumah itu, Pa?” Rewindra mau tak mau dengan terpaksa menuruti keinginan Papanya yang juga ia ingin sekali bertemu dan mengobrol dengan Rolando kesayangannya tercinta.
Setelah memberinya sebuah alamat rumah sederhana yang tak lain rumah tersebut pernah di datangi oleh dirinya. Hal tersebut membuat ia sedikit ragu untuk bertanya pada Papanya.
Akan tetapi ekspresi wajahnya pun terbaca oleh Pramana yang begitu heran tingkah laku Rewindra, dan membuatnya tak bisa menahan perasannya dengan menanyakan hal tersebut pada sang Putra tercinta. “Win, ada apa dengan ekspresi wajahmu itu?”
“Tidak ada, Pa.” Terpaksa ia mengelak untuk menutupi rasa terkejut setelah beberapa kali membaca nama alamat rumah yang ia dapatkan dari Papanya, dengan memastikan bahwa rumah tersebut milik seseorang yang pernah ditolong olehnya itu.
“Kalau begitu aku pergi dulu, Pa!” tanpa menunggu jawaban ia pun bergegas keluar dari gedung kantor miliknya tanpa ditemani oleh Louser.
Sebab pekerjaannya pun telah di ambil alih oleh sang Papa dan juga asisten pribadinya.
Ia pun melajukan roda besi yang di kendarai olehnya membelah jalanan dengan kecepatan sedang seraya membagi pikirannya sedang tertuju pada rumah sederhana yang pernah ia datangi tersebut.
__ADS_1
***
Setelah mereka berpuas belanja di tempat yang pertama kali didatangi oleh Rolando. Saat ini keduanya pun telah berada di dalam rumah, dengan Araela yang sedang mengeluarkan semua belanjaan itu, untuk di masukkan ke dalam kulkas sambil ia sendiri menyiapkan beberapa bahan yang akan dimasak oleh dirinya.
“Sayang,” panggil Araela lembut. “Apa kamu sudah merasa baikan?”
Rolando yang ikut membantu memindahkan beberapa barang belanjaan itu pun menganggukkan kepala saat Kakak cantiknya menanyakan tentang perasaan yang saat ini sedang di alami olehnya.
Akibat perbuatan dari seseorang yang membuatnya sedikit merasa takut bertemu dengan orang baru. Namun, saat bersama Kakak cantiknya itu rasa takut itu pun terkikis dengan sendirinya.
.
.
.
.
__ADS_1