Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Bujang Lapuk Seperti ....


__ADS_3

Dua pria berbeda generasi itu pun kompak mengangguk tanpa memedulikan raut wajah dengan bibir mengerucut membuat keduanya gemas dengan gadis tersebut.


“Jangan lupa tugasmu untuk menyelidiki anggaran perusahaan ini, Pras!” Gunawan memerintahkan sang putra sulungnya untuk segera menyelidiki kejanggalan tentang anggaran pendapatan sesuai dari laporan Satria, yang mana kala ada seseorang ingin bermain-main dengannya hingga pria senja itu mengajukan pertanyaan tertuju untuk sang cucu. “Untuk kamu sendiri ... berangkat ke sana kapan? Jangan lupa pesan dari kami tadi, dan tidak ada penolakan apa pun untukmu!”


“Baiklah aku tidak bisa berkutik jika Kakek sendiri yang memintaku untuk memenuhi permintaanmu, Kek ... tapi sebagai gantinya kamu tidak boleh mencampuri urusanku untuk kerajaan sana, apa itu tidak membuatmu keberatan dengan kesepakatan dari cucumu ini, Kek?” Araela menjawab pertanyaan sang kakek dengan bertanya balik.


Akan tetapi, pria senja itu mengangguk pasrah karena kesepakatan diambil oleh cucu kesayangannya tidaklah main-main dengan, terpaksa dia menyanggupi apa yang dilakukan oleh sang cucu untuk kebaikan sahabatnya di sana.


Tidak lupa Gunawan mengarahkan pandangan mata tertuju putra sulung tanpa berbasa-basi Prasetya memenuhi permintaannya, untuk menyelidiki lebih dalam tentang seseorang yang ingin bermain-main di perusahaan tempat dia memimpin.


Sementara itu, terdengar nada dering ponsel panggilan milik Araela sehingga membuat dahi gadis itu mengernyit heran ketika melihat, sebuah nama tertera di ponsel memanggilnya tanpa membuang banyak waktu dia mengangkat panggilan tersebut.


“Ya, Bibi Rumi ... ada apa kau menghubungiku?” Araela melontarkan pertanyaan tanpa membalas sapaan dari arah seberang ponsel.


“Saya ingin memberitahukan tentang Den Morgan, Nona Ara.”

__ADS_1


“Ada apa dengannya, Bi?” Araela kembali melontarkan pertanyaan dengan raut wajah sulit diartikan, hingga membuat dia pria yang menguping pembicaraan ikut terkejut mendengarnya.


“Sudah beberapa minggu ini beliau mengalami mual yang berlebihan, ditambah hanya makanan asam yang masuk ke dalam perut, sudah saya sarankan untuk diperiksa dokter pribadi selalu ditolak beliau.” Dari arah seberang ponsel Bi Rumi menjelaskan secara rinci tentang kondisi, Morgan pada nona yang terlihat seperti mengalami ... tapi, wanita baya itu enggan mengungkap lebih lanjut sebelum nona muda melihat dengan sendiri kondisinya.


“Apa bujang lapuk itu masih sering keluar mansion dengan kondisi yang Bibi katakan padaku?”


“Beliau sering mengurung diri di dalam kamar sejak mengalami mual yang berlebihan itu, Nona Muda.”


“Kalau begitu aku akan melihatnya ke sana dan jangan katakan apa pun tentang kedatanganku pada dia!”


Panggilan terputus dengan Bi Rumi mematikan secara sepihak, hingga gadis itu mendapat pertanyaan yang terucap dari kakeknya.


“Apa yang terjadi, Cucuku? Mengapa Bi Rumi berkata seperti itu?” Gunawan menodong penuh selidik.


Araela enggan menjawab dengan pikiran gadis itu menerawang tentang kondisi yang menimpa bujang lapuk, sudah pasti ada hubungan dengan Citra dan hanya dia sendiri yang mengetahui hal tersebut.

__ADS_1


“Aku akan ke sana! Kakek tidak ingin ikut denganku?” Araela bersuara sambil mengajak sang kakek. Namun, kakeknya itu lebih memilih kembali ke rumah pribadi sendiri karena pria senja itu, akan menyelidiki dengan sendiri kejadian menimpa putra bungsunya tanpa sepengetahuan sang cucu.


“Kalau begitu aku akan ke sana sekarang!” Araela berpamitan pada dua pria berbeda generasi untuk melihat kondisi bujang lapuk, tidak lupa gadis itu berpesan pada mereka dan meminta sang suami menyusulnya ke sana. “Suruh dia menyusulku ke mansion bujang lapuk! Aku menunggunya di sana.”


Dua pria berbeda generasi menggeleng tidak percaya dengan panggilan yang tertuju pada Morgan. Bagaimana mungkin dia yang merawat dan membesarkannya penuh cinta mendapat panggilan seperti itu?


Sampai membuat Prasetya heran dibuatnya karena ini pertama kali dia mendengar, sang adik mendapat panggilan bujang lapuk dari putri kesayangan tercinta.


“Sudah berapa lama Morgan mendapat panggilan seperti itu dari dia, Yah?” Prasetya bersuara dengan melontarkan pertanyaan, setelah dia bersama sang ayah tidak melihat keberadaan gadis itu.


“Ayah sendiri tidak mengetahui kapan panggilan itu ada untuk adikmu dari dia! Tapi, adikmu sama sekali tidak menolak keponakan tercinta memanggilnya bujang lapuk dan bisa saja itu, adalah bentuk kasih sayang Araela untuk paman yang merawatnya dari bayi merah ... bukankah itu yang kau inginkan, Pras?” Gunawan melontarkan penjelasan sekaligus membalik pertanyaan.


Mendadak lidah Prasetya menjadi kelu.


__ADS_1


__ADS_2