
“Jadi, mendiang ibumu yang telah merencanakan hal ini, Mas? Kalau mau bertemu, silakan bertemu untuk apa aku marah. Marah pun tak akan mengembalikan sahabatku, terpenting saat pertemuan nanti. Mau tak mau pria s!alan itu harus setuju perjodohan yang dilakukan mendiang ibu.” Jawaban dari Dahlia, membuat Pramana terkekeh lucu melihat raut wajah cantik yang terlihat menggemaskan di hadapannya ini.
“Jangan khawatir, dia tak punya hak untuk menolak keinginanan kedua orang tuanya, dan aku sangat yakin pria yang kamu benci itu tak akan bisa berbuat apa-apa ketika menyangkut tentang –”
“Tentang apa, Mas? Jangan bilang tentang anak yang selalu dielu-elukan itu. Benar tidak?” sela Dahlia cepat, seraya menerka-nerka apa yang ia pikirkan.
“Apa kamu juga tahu sesuatu tentang dua orang anak yang diperlakukan secara tak adil, Sayang?”
“Hal itu yang membuatku membencinya karena, sampai sekarang dia tak pernah menerima keberadaan putri kandungnya sendiri.” Dahlia menggeram marah, ketika mendengar kenyataan sesungguhnya dari mendiang sang sahabat sendiri.
“Mau ikut denganku untuk menemuinya?” Pramana memberi tawaran untuk sang istri, dengan mengajaknya bertemu Prasetya.
“Maaf lebih baik aku tak ikut, Mas.” Bukan tak ingin ikut, hanya saja ia tak akan bisa meredam rasa emosi, dan kecewa yang begitu dalam untuknya.
Setelah mereka membahas perihal tentang perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya. Pramana terus mendengar semua cerita dari sang istri tentang sifat, dan tingkah laku seorang gadis yang bertamu ke mansion.
Hal tersebut membuat istrinya begitu yakin tentang identitas dari gadis itu merupakan anak kandung dari mendiang sahabatnya itu sendiri.
__ADS_1
***
Malam hari telah tiba, dan di sini-lah Pramana berada, di sebuah restoran yang telah dipesan itu. Saat ini sedang menunggu kedatangan seseorang, yang telah membuat istrinya enggan bertemu dengan orang itu.
Suara derap langkah kaki, tak menyurutkan Pramana tetap menyesap kopi yang dipesan oleh dirinya, sampai orang itu pun datang, dengan mendaratkan bokong di atas kursi dan menyapa dirinya.
“Apa kabar, Pram?” sapa Prasetya. Dia-lah alasan Dahlian enggan bertemu dan bertatap muka dengannya.
“Seperti yang kau lihat. Aku baik, Pras.” Menyapa balik yang juga enggan memeluk sahabatnya sendiri.
“Pesan-lah dulu sebelum aku menjawabmu.” Tak lupa kedua tangannya pun memanggil waiters untuk membuatkan pesanan yang di ajukan pada Prasetya.
Sambil menunggu pesanan tiba, Pramana pun membuka suara dengan menanyakan kabar yang ia ajukan balik padanya. “Sambil menunggu aku akan menjawab pertanyaanmu, dan juga bagaimana dengan kabarmu sendiri, Pras?”
“Kau lihat sendiri-kan? Aku baik-baik saja,” jawab Prasetya dingin. Namun, lain dihati saat ini sedang menggeram marah karena mendengar kabar menyakitkan.
Adik kandungnya sendiri selama ini mencintai mendiang seorang wanita yang selama ini tak pernah ia anggap ada, dan mengapa hatinya begitu sakit mendengar kabar itu? Bukankah dirinya sendiri yang selama ini menorehkan luka yang begitu banyak? Mengapa baru sekarang ia merasakan sesakit ini?
__ADS_1
“Baiklah aku langsung pada intinya saja ya, Pras. Aku memintamu bertemu untuk membahas perjodohan antara putraku yang dijodohkan dengan putrimu.”
“Putriku yang mana, Pram?” Prasetya ingin memastikan apakah putri yang ia buang itu yang akan dijodohkan.
“Ku-pikir kau sudah tahu, Pras. Tentang putrimu yang dijodohkan itu, atau aku tebak kau sama sekali tak tahu hal ini?” Pramana berdecak kesal dengan sahabatnya yang berpura-pura biasa.
“Antara Sonya dan putriku yang tak ku anggap itu apa kau akan menjodohkannya dengan putramu, Pram?” saat seperti ini pun Prasetya selalu mengedepankan perasaan seorang anak yang bukan putri kandungnya.
“Aku mau menjodohkan putrimu dari mendiang istri pertamamu, bukan dengan istrimu yang sekarang,” jawab Pramana ketus dan dingin.
“Mengapa kau memilihnya sebagai pendamping putramu itu, Pram? Apa kau tak tahu tingkah lakunya selalu membuat kepalaku sakit. Berbeda dengan Sonya yang selama ini tak pernah membuat masalah.” Tanpa sadar Prasetya membandingkan Sonya yang bukan anak kandungnya, dengan Araela Ayudia Gayatri Smith anak kandung yang tak pernah ia anggap itu.
“Kalau aku memilihnya kau mau apa, hah? Tak terima dengan keputusan yang ku’ ambil, hm!” Pramana tak menduga sahabatnya itu dibutakan cinta yang palsu.
Pras, bagaimana bisa kau memelihara dua ular yang mematikan itu? Aku sendiri sangat sanksi dengan putrimu yang kau eluk-elukan. Kau tak tahu sendiri tingkah lakunya di luar sana, sayangnya putraku terjerat pesona kecantikannya. Namun, aku sangat yakin cepat atau lambat takdir akan membawa putrimu yang tak pernah kau anggap itu, masuk ke dalam kehidupan putraku sendiri.
“Kau juga jangan terlalu naif untuk selalu memenuhi keinginannya karena perjodohan ini sudah direncanakan oleh kedua orang tua kita, dan aku sangat yakin om Gunawan tak pernah salah memilih pendamping untuk putraku. Kalau masih tak memercayai apa yang ku’ katakan silakan tanyakan itu pada orang tuamu.” Pramana tak ingin mendengar apa pun alasan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu.
__ADS_1