Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Rasa Kebencian Yang Terlahir Karena Sebuah Luka


__ADS_3

“Kenapa mesti terburu-buru, Ara Sayang? Tuh lihat masih ada makanan tersisa yang tidak kamu habiskan.”


Morgan yang kebetulan tidak sengaja lewat mencebik kesal dengan tingkah laku kakaknya itu. “Sudahlah tidak perlu memaksanya menghabiskan masakanmu, Kak.”


“Apa kau tidak bisa diam, hah! Aku tidak memaksanya hanya mengingatkan saja, tidak baik menyisakan makanan yang tidak dihabiskan.”


Perdebatan kedua pria baya yang tidak mau mengalah membuat Araela pusing sambil memijit pelipis serasa berdenyut hebat, dan dengan terpaksa gadis itu mengarahkan sorot mata yang dingin ditujukan untuk keduanya, sehingga jakun mereka bergerak naik-turun sambil menunduk kepala karena takut melihat sorot mata yang sangat mematikan.


“Apa kalian selalu seperti ini?” Melipat kedua tangan di dada gadis itu memberanikan diri, menegur dua pria baya sedang berdebat suatu hal yang tidak penting.


Mendengar teguran membuat kedua pria baya berdehem bersamaan, dengan Morgan yang mewakilkan sang kakak menjawab pertanyaan gadis itu. “Tentu saja tidak, Baby. Sikap yang kami tunjukkan hanya di hadapanmu saja!”

__ADS_1


“Apa itu termasuk di hapadan mamaku?”


Kedua pria baya menggeleng bersamaan bahkan mereka sendiri bingung menjelaskan perihal perasaan masing-masing untuk mendiang wanita yang melahirkan gadis tersebut.


“Bukankah kalian dua pria yang mencintai wanita sama?”


“Itu benar, Baby. Kami memiliki perasaan yang sama dan aku memutuskan untuk mundur karena mamamu telah mengikat hatinya sejak lama!”


“Sudah cukup sampai disini! Lalu untukmu bujang lapuk ... ingatlah apa yang telah menjadi sebuah janjimu. Namun, aku tidak akan menahan diri saat kau melanggarnya. Paham, Om!” tegasnya dengan nada ancaman ditujukan untuk Morgan.


“Mengapa harus melakukan hal ini untukku?” protes gadis itu yang terlihat tidak menyukai tingkah laku sang papa.

__ADS_1


“Supaya kamu memahami sepenuhnya, bahwa aku sama sekali tidak pernah menganggapmu ada. Sejak kelahiranmu di dunia beberapa tahun silam, hatiku berbunga-bunga melihat pancaran kecantikan di dalam dirimu. Bahkan mereka tidak pernah mengetahui selama ini, setiap malam aku selalu melihat keadaanmu dan menggendongmu sebentar. Penyesalan yang membelenggu hatiku adalah membangun tembok untukmu, hanya demi melindungi kalian semua dari tangan wanita iblis. Bukankah kamu sudah mengetahui peringai seperti apa antara sepasang ibu — anak itu, Sayang?”


“Apa termasuk saat dia membuat fitnahan aku yang membunuh nenek?”


Prasetya mengangguk. “Itu bagian rencana nenekmu sendiri, Sayang. Aku sebagai papamu tidak bisa mencegah kegilaan yang dilakukan oleh nenekmu. Beliau benar-benar menyayangimu dengan sepenuh hati dan kasih sayang hanya untukmu seorang!”


“Lalu sejak kapan kau mengetahui bahwa ... tidak terikat oleh darah keluarga kita?”


“Sebelum dia berusaha merebut perjodohanmu itu! Aku selama ini diam-diam menyelidiki latar belakang bahkan sudah lama ada seseorang mendatangiku sambil menyodorkan bukti tes DNA itu.”


“Tetap saja semua itu tidak akan mengubah apa pun. Bahkan luka yang kau torehkan tidak akan pernah termaafkan olehku! Kau yang membuatku melahirkan rasa kebencian ini, Papa!”

__ADS_1


Mobil mewah yang dikendarai oleh Prasetya telah tiba di halte tidak jauh dari perkantoran. Sebelum Araela turun dari mobilnya pria baya itu, memberi salam perpisahan bahkan dia akan kembali melanjutkan cerita, sambil menyelesaikan permasalahan diantara sepasang ayah — anak yang sekian lama tidak bersua.



__ADS_2