
“Katakan padaku apa yang sedang terjadi antara cucuku dan bujang lapuk itu!” desak Gunawan dengan tidak sabaran.
Salah satu mata-mata yang melaporkan kejadian kepada nona muda dengan terpaksa memberitahukan kepada tuan besar yang menyebabkan cucu kesayangan tuan besar-nya marah.
“Mohon maaf atas kelalaian kerja kami, Tuan Besar … mengenai penyebab cucu Anda marah karena kesalahan dilakukan oleh putra Anda.”
“Kesalahan apa yang dilakukan oleh bujang lapuk itu?” Gunawan begitu terkejut mendengar penuturan dari mata-mata itu.
Pria senja itu mulai berpikir apakah hal ini sang putri mahkota marah kepada bujang lapuk itu? Dan saat ini dia sedang memastikan hal tersebut.
“Mohon maaf sebenarnya nona muda melarang kami memberitahukan kabar ini kepada Anda, Tuan … mengingat beliau tak menginginkan kejadian menimpa Anda sendiri.”
“Katakan saja jangan membuatku terlalu lama menunggu!”
Didesak oleh Tuan Besar mata-mata itu menjelaskan kejadian yang membuat cucu kesayangan pria senja itu marah dan, selesai mendengarkan laporan baru saja diterimanya hal tersebut membuatnya menggeram marah.
Bagaimana tidak marah dan juga kecewa pria senja itu tak mengerti dengan jalan pikiran diambil putra bungsunya, yang begitu gila bermabuk-mabukan sampai membuat harta berharga gadis lain terenggut.
“Apa Anda tidak apa-apa, Tuan?” Ini yang tidak disukai oleh nona muda-nya. Sebab, kabar buruk diterima tuan besar dapat mengakibatkan penyakit jantung sang tuan bisa terganggu.
Maka dari itu sang putri mahkota melarangnya memberikan kabar buruk. Namun, terlambat tuan besarnya pun telah mengetahui karena desakan dan ancaman yang diberikan oleh dirinya.
“Jangan mencemaskan keadaanku. Terima kasih sudah melaporkan kabar buruk ini. Lalu apa kau mengetahui di mana gadis direnggut putraku tinggal?” Gunawan tak ingin orang-orang terlalu berlebihan, mencemaskan keadaan penyakit jantungnya.
Sebab, dia sendiri tidak ingin dikasihani dan mendapat belas kasih karena cepat atau lambat dirinya akan menyusul mendiang ke tempat sang istri berada.
“Mengenai itu mohon maaf sebesar-besarnya karena pada saat rekan saya mengikuti cucu Anda … justru kami kehilangan jejak dan saya merasa nona muda tidak ingin siapa pun mencampuri urusan pribadinya.”
“Lalu apa kau menyimpan rekaman itu?”
__ADS_1
Menggeleng lemah karena itu tak akan bisa menjadi bukti kuat. Namun, semua bukti-bukti ada ditangan sang putri mahkota sendiri.
“Mohon maaf, Tuan Besar!”
Menghela napas panjang Gunawan memutuskan tak akan mencampuri urusan pribadi bujang lapuk itu karena dia begitu sangat yakin jika sebenarnya sang cucu, telah bertindak sejauh yang bisa dilakukan oleh cucu kesayangannya tersebut.
“Biarkan cucuku yang mengambil alih kendali atas bujang lapuk itu … aku sangat yakin dia tidak akan tinggal diam saja ketika dirinya merasa dikecewakan.”
“Baik, Tuan Besar.”
Selesai menerima laporan dari mata-mata itu. Pria senja itu memutuskan akan berdiam diri sampai melihat seberapa jauh, cucu kesayangannya bertindak sendiri karena dari yang dilihat jika cucunya ini, begitu sangat berani mengambil keputusan tanpa memedulikan statusnya sendiri.
Kau benar-benar seorang gadis berani dan benar-benar khas sang putri mahkota, yang begitu gesit atas perhatianmu untuk masalah ini, aku tak akan mencampurinya karena apa yang dilakukan olehmu sudah pasti terbaik untuk bujang lapuk itu.
*
*
*
Dia benar-benar tak kembali ke rumah ini? Lalu darimana dia mengetahui aku melakukan kesalahan besar? Sampai-sampai dia marah dan memberiku tamparan yang tak sebanding dengan seseorang kurenggut itu. Maafkan putramu ini ibu karena telah membuat cucumu kecewa dan juga aku tidak mencintai gadis itu. Meskipun kuʼ akui rasa ini begitu sangat nikmat dan membuatku terus teringat malam kasih yang tak bisa terlupakan begitu saja.
Sebelum langkah kakinya masuk ke dalam kamar pribadi, bujang lapuk itu menatap sang ayah yang sedang melamun dan membuat, dia menghampiri serta menanyakan penyebab ayahnya melamun.
“Ayah melamunkan apa?” tanyanya sembari menatap sorot mata dalam sang ayah.
“Tidak ada yang sedang kuʼ lamunkan … sudah selesai urusanmu dengan dia? Itu juga kenapa dengan pipimu, Boy?” todongnya penuh selidik.
Bujang lapuk itu enggan memberitahukan tamparan di pipi itu berasal dari tangan bayi mungil-nya. Namun, siapa yang menyangka sang ayah menyeringai dingin karena tanpa bertanya pun sebenarnya dia sangat mengetahui kejadian menimpa putranya.
__ADS_1
“Jangan dipikirkan mengenai pipiku ini, Yah … beneran Ayah tidak ingin membagi sesuatu pada bujang lapuk ini?”
Pria senja itu tergelak keras ketika mendengar putranya menyebut dirinya, sebagai bujang lapuk karena memang seperti kenyataannya. “hanya masalah kecil, Boy … Ayah tak habis pikir mengenai anak wanita sundal itu, menyatakan perang ingin memperebutkan posisi perjodohan untuk bayi mungilmu.”
“Sialan!” Morgan mengumpat geram dengan ambisi dari wanita yang begitu sangat dia benci. “Kapan dia datang kemari?”
“Sekitar lima belas menit yang lalu sebelum kau kembali ke rumah.”
“Ini tidak bisa dibiarkan.” Morgan bergumam lirih yang begitu jelas terdengar oleh ayahnya itu.
“Kau tak perlu cemaskan hal ini, Boy … dia bisa menyombongkan diri untuk merebut semua yang cucuku punya. Namun, dia tak akan bisa mendapatkan posisi itu karena istri sahabat kakakmu hanya menginginkan, bayi mungilmu sebagai menantunya dan itu mutlak tak bisa diganggu gugat.”
“Aku takut dia akan nekat menggunakan cara licik yang bisa membuatnya mendapatkan apa yang diinginkan oleh anak sundal.”
“Kau takut terjadi sesuatu dengan bayi mungilmu?”
Morgan mengangguk.
“Jangan lupa akan suatu hal ini, Boy … lihatlah di luar rumah kita dan kau tahu bukan mereka siapa?”
“Pengawal kerajaan yang menjadi mata-mata bukan, Yah.”
“Maka mulai sekarang kau tak perlu takut terjadi sesuatu pada bayi mungilmu … ada mereka yang siap turun tangan untuk melindungi serta menjaganya.”
Menghela napas gusar membuat Morgan tak bisa berkutik jika menyangkut tentang, bayi mungil-nya dan mau tak mau dia harus siap, merelakannya jatuh ke tangan pria yang dijodohkan itu.
“Baiklah kalau begitu untuk masalah ini aku tak akan mencampurinya dan jangan salahkan aku jika anak sundal itu menyentuh seujung kuku. Maka bersiaplah dia menghadapi kemarahanku yang sejak lama ingin kuʼ lampiaskan dan aku tak peduli dia wanita sekalipun.”
Dendam amarah bujang lapuk itu sudah lama terpendam karena dirinya tak bisa melampiaskan amarahnya dan dia telah, bersumpah akan membuat anak sundal itu menyesal karena berurusan dengannya.
__ADS_1
“Lebih baik kau urus itu kesalahanmu dan jangan coba-coba, untuk lepas tanggung jawab atau bersiaplah menerima hukuman dari Ayah.”