
Terdengar nada dering yang masuk ke dalam ponsel gadis itu tanpa melihat, orang yang menghubunginya dia pun menggeser dan mengangkat panggilan tersebut.
“Ya.”
“Astaga bisakah kamu tidak dingin dulu dengan Ommu ini Babyku, Sayang?” tanya Morgan bernada ketus.
“Ck! Tidak perlu basa-basi seperti ini, Om. Apa yang ingin kau sampaikan denganku?” jawab Araela dengan membalikkan pertanyaan.
“Persilakan aku masuk ke dalam rumahmu! Om, merindukanmu!” pinta Morgan dengan nada melasnya.
“Tinggal masuk ke dalam kenapa mesti meminta izin denganku, hah?” omel gadis itu sambil berbalas pesan, dari klien yang ingin mengajukan kerja sama.
“Bukankah kamu masih marah terhadapku, Baby?”
“Rasanya aku ingin menendangmu sampai terbang ke awan!”
“Ba —”
Gadis itu langsung mematikan panggilan secara sepihak dan dia pun sibuk dengan tumpukan berkas yang masuk melalui email, sedangkan di luar gerbang Morgan berdecak kesal dengan tingkah laku dari keponakannya.
Huh! Kenapa sifatnya semakin mirip denganmu kak? Aku mengakui jika wajah kecantikanmu menurun pada putrimu, tapi sikapnya yang dingin itu. Mengapa justru lebih parah dari sikap suamimu yang menyebalkan itu?
__ADS_1
Sesampainya di dalam rumah yang tidak terkunci oleh si pemiliknya. Dia pun dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang menatap datar ke arah dirinya.
“Mau apa kau datang kemari?”
“Aku datang bukan bertemu denganmu!” Tak kalah galak dan dingin. Morgan dengan terang-terangan membalas sapaan tersebut.
“Saat ini dia tidak bisa diganggu! Lagipula aku heran denganmu ... mengapa selarut ini masuk tanpa izin di rumah orang?”
“Aku tidak perlu izinmu wahai, Anak Muda!”
Perdebatan antara kedua pria itu pun, menarik perhatian Araela yang memberikan tatapan mematikan. Hal tersebut membuat keduanya menunduk takut tanpa berani mengangkat kepala masing-masing.
Pandangan hanzel berwarna kecokelatan itu mengarah pada seseorang yang membuat darahnya mendidih, “Lalu kau sendiri mengapa tidak tidur?”
“Aku tidak bisa tidur tanpamu, Nyonya,” jawab Rewindra lirih.
Manik mata Morgan membeliak sempurna, ketika dia tidak sengaja mendengar kata manis yang terucap dari bibir mantan duda casanova, tentang panggilan yang disematkan untuk keponakannya tercinta hingga membuat pria itu merasa mual mendengarnya.
“Sungguh sangat menggelikan,” cibir Morgan bernada sinis.
“Jika kau tidak mengatakan tujuanmu datang kemari, silakan keluar dari rumahku!”
__ADS_1
Rewindra yang mendengar pembelaan dari sang istri mati-matian menahan tawa yang ingin disemburkan. Namun, pria itu justru mendapat tatapan mematikan dari gadis tersebut hingga membuatnya tidak berkutik berhadapan dengan Araela.
“Aku ingin menanyakan tentang dia! Lalu sejak kapan kamu mengenal dekat dengannya?”
“Apa dengan aku menjawab pertanyaanmu, bisa mengurangi rasa penasaranmu itu Omku, Sayang?”
Morgan mengangguk.
“Sebenarnya aku tidak mau berbagi cerita tentang dia yang kau maksud! Namun, ada pengecualian untukmu dan aku harap kau tidak bermain-main dengan keponakan tersayangmu ini.” Bernada dingin dan tegas. Gadis itu tidak lupa memberi peringatan dengan sarat ancaman.
“Baik, Baby.”
Mengembuskan napas gusar Araela menceritakan sedikit tentang seseorang yang sedang dicari oleh om-nya itu, bahkan gadis itu tidak terlalu menceritakan secara lebih jelas mengenai identitas aslinya.
Gadis itu menginginkan bujang lapuk berjuang keras, untuk menemukan keberadaan seseorang yang dimaksud.
“Sampai disini paham dengan semua penjelasan dariku, Om!”
Morgan kembali menganggukkan kepala ....
__ADS_1