Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Menumpahkan Amarah Terpendam


__ADS_3

Pukulan demi pukulan yang diterima oleh Prasetya, tidak membuat pria baya mampu melawan. Bahkan kedua kali putrinya itu mampu membuat dia benar-benar kalah takluk.


Tanpa disadari oleh pria itu. Ada dua orang yang menyaksikan kebrutalan dan keduanya tiba-tiba meringis pelan, sambil membayangkan betapa sakitnya pukulan serta tamparan mematikan dari gadis yang, sedang melampiaskan amarah selama ini terpendam di dalam diri Araela Ayudia Gayatri Smith.


Enggan melihat kondisi tubuhnya yang remuk redam karena pukulan diterima dari putrinya tidak membuat pria baya gentar, serta takut untuk menghampiri seseorang yang selama ini menjadi alasan Prasetya bersikap dingin.


“Kenapa baru sekarang, hah! Kenapa belum puas menyiksaku dan kakek? Apa kau tahu selama ini hidupku terbebani dengan sikap dinginmu terhadapku bahkan betapa tega, kau melukai hati cinta pertamaku sampai dia memilih menyerah dan membawa separuh hatimu bersama raganya. Tidakkah kau merasa sikapmu itulah mengubahku menjadi seperti ini.”


“Sudah puas menumpahkan semua yang kamu pendam selama ini?” Sambil tersenyum dengan tubuh tinggi tegap, mendekap tubuh mungil yang pertama kali bagi Prasetya setelah sekian lama.


Araela yang berada di dalam dekapan tubuh tinggi tegap mendongakkan kepala, sambil mencari sesuatu dengan raut wajah sulit diartikan. Namun, jauh di dalam relung hati dekapan hangat yang selama ini dinantikan oleh gadis tersebut.

__ADS_1


“Jika hatimu masih terbelenggu oleh kebencian untuk pria pengecut sepertiku. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu, tapi satu hal yang harus perlu kamu ketahui. Di hatiku selalu menyayangimu dengan segenap nyawaku, dan alasanku bersikap dingin terhadap kalian karena —”


“Karena apa?” Gadis itu menyela sambil bertanya-tanya. Namun, dia kecewa karena pria itu masih enggan menyebutkan alasannya.


Suara dari adik yang berstatus bujang lapuk memecahkan keheningan, hingga membuat Prasetya menatap dingin ditujukan untuk adiknya. “Aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal gila ini pada Babyku, Kak.”


“Sssttt, diamlah jangan berisik! Aku menerima semua kebencian di dalam dirinya, bahkan apa yang kulakukan sekarang untuk menebus apa yang tidak pernah dirasakan oleh dia.” Tanpa melihat lawan bicara, pria baya itu begitu lantang mengungkapkan perasaan yang terpendam sambil mendekap tubuh mungil, dengan suara dengkuran halus menandakan gadis itu terlihat nyaman bersamanya. “Apa semalam dia tidak tidur?”


“Apakah itu penting menjawab pertanyaanmu?”


Morgan berdecak kesal dengan sikap dingin sang kakak yang sama sekali tidak ada bedanya dengan dulu, bahkan sikapnya itu menurun pada sang keponakan yang terlelap sangat nyaman di dalam dekapan kakaknya.

__ADS_1


Bukan itu saja bujang lapuk itu merapatkan bibir serasa ingin menertawakan, pria di sebelahnya yang terlihat sangat cemburu pada sang kakak. Sembari berbisik lirih, “Kau cemburu pada mertuamu sendiri?”


Mendengar bisikan lirih seketika membuat Rewindra salah tingkah, “apa sangat terlihat, Om?”


“Sangat terlihat dan kau tidak bisa membohongiku jika ternyata, seorang mantan duda casanova sepertimu menjadi bucin pada Babyku.”


“Tidak bisakah memanggilnya dengan nama, Om,” protes Rewindra dengan mencebik kesal.


“Apa kau cemburu padaku juga karena aku memanggilnya Baby? Asal kau ketahui panggilan Baby itu sudah menjadi hak paten, tidak ada yang boleh memanggilnya seperti itu selain aku sendiri. Paham!” tegas Morgan tanpa ada bantahan.


Mau tidak mau Rewindra harus menerima segala konsekuensi, bahwa pria di sebelah dengannya lebih posesif dari pria itu sendiri.

__ADS_1



__ADS_2