
"Karena hanya kau yang pantas mengambil alih kekuasaan kakek, Ra!" tegas David dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Bukan itu yang membuatnya iri pada sang sahabat, tapi pria itu hanya bisa menyimpan perasaan mendalam untuk sang sepupu. Meskipun mereka tidak terikat oleh darah, tapi dia benar-benar menjaga nama baik sang kakek yang suka rela, menerima kehadirannya sejak David berada di dalam kandungan sang ibunda tercinta.
"Ada apa?" Ara membuka suara begitu melihat raut wajah tidak biasa, dari pria yang duduk bersebelahan dengannya.
David enggan menjawab pertanyaan dari gadis itu, tapi justru dia mengalihkan obrolan dengan membahas perihal pernikahan dadakan. Namun, sang sepupu seperti enggan membahas dan bahkan gadis itu, meminta bantuan dirinya untuk mengawasi dan memantau keadaan Sonya.
Mau tidak mau David menerima permintaan dari calon ratu kerajaan, dengan membuka aib dari gadis itu yang ternyata seorang peretas handal. Bahkan dengan senyum jahilnya dia bisa membuat Ara tidak bisa berkutik, ketika membahas perihal hacker dunia bawah yang disematkan untuk gadis tersebut.
"Sejak kapan kau mengetahui identitasku yang lain? Selama ini hanya kakek Gunawan saja yang mengetahuinya. Namun, tidak kusangka kau malah mengetahui sebuah rahasia yang selama ini ku' sembunyikan dari publik." Raut wajah Araela berdecak kesal ketika melihat dengan sendiri, bahwa pria yang diam-diam menyimpan rasa pada dirinya ini pun mampu membuat, dia yang selama ini dikenal dingin pun menjadi tidak berdaya tentang jati diri gadis tersebut.
"Semuanya tidak ada yang tidak kuketahui tentangmu, Ra. Apa kau masih ingat dengan seorang murid baru dengan dandanan cupu, serta rambut klimis dan kacamata tebal yang melekat itu?" Tanpa segan-segan pria itu membuka kembali kenangan yang tidak pernah dilupakannya.
"Lalu?" tanya Ara yang sedikit teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Tidak ada yang lalu, Ra. Namun, kehadiranmu di masa lalu membuat siswa culun, bertekad membalas kebaikkan yang pernah dilakukan olehmu karena telah menolongnya dari pembully-an. Bahkan saat mendengar kabar fitnahan yang menggemparkan publik, membuatnya menjadi marah atas perbuatan oleh orang yang memfitnahmu. Dan apa kau masih mengingat dengan siswa culun itu, Ra?
Seketika Araela teringat sebuah nama dan wajah yang begitu mirip dengan, pria yang masih betah menceritakan masa-masa saat duduk di bangku SMA. "Jadi, kaukah siswa culun itu, Dav?"
"Rupanya kau masih mengingatku dengan baik, Ra. Setelah sekian lama tidak bertemu bahkan sekalinya bertemu, justru kita dipersatukan oleh ikatan hubungan yang begitu rumit," jawab David sambil tergelak lucu.
"Untuk apa kau melakukan semua itu kepadaku? Jika akhirnya kau sendiri yang diam-diam menyimpan perasaan itu, Dav!"
Mendadak lidah David menjadi kelu ketika gadis itu membuat pernyataan, bahwa apa yang dilakukan oleh dirinya semata-mata hanya untuk melindungi dan menjaga dari kejauhan.
"Sudah kutebak dari getsur tubuh dan kedua matamu yang tidak bisa menutup, semua kebohongan tentang perasaan yang kau simpan kepada diriku."
"Ra, a ....
"Tidak perlu meminta maaf atas segala yang terjadi, tentang perasaanmu terhadap diriku! Aku bisa memaklumi tentang perasaanmu, tapi aku tidak akan pernah bisa membalasnya," sela Ara cepat sembari menegaskan pada pria yang sebagai sepupu. Untuk tidak terlalu menghapus perasaannya terhadap gadis tersebut.
__ADS_1
"Itu berarti kau tidak keberatan bukan, Ra? Jika aku lebih memilih menyimpan perasaan mendalam terhadapmu?" David memastikan sebelum membuktikan, bahwa gadis itu mengizinkan dirinya mencintai Araela secara diam-diam.
"Tidak! Namun, kau harus selalu siap menanggung risiko yang ditanggung olehmu."
David mendengkus kesal mendengar nada sindiran yang ditujukan untuk dirinya. Namun, apa yang diucapkan oleh gadis itu memang benar, bahwa dia harus siap menanggung risiko jika masih tetap ingin mencintainya.
Sebelum gadis itu beranjak dari tempat dia duduk. Dirinya tidak lupa memberi peringatan dan ancaman untuk ditujukan pada David, agar pria itu menjaga semua rahasia tentang jati dirinya yang lain.
"Apa kau mengerti dengan apa yang kuminta darimu, Dav? Jangan sampai orang lain mengetahui semua hal yang berhubungan denganku, termasuk tentang jati diriku yang hanya kau dan kakek saja yang mengetahuinya. Paham!"
Selesai mengatakan itu dia beranjak berdiri dari tempat duduk sambil mengayunkan langkah kaki untuk menghampiri meja kasir, dan dirinya pun tidak lupa membayar minuman yang dipesan oleh David yang ternyata pria itu sangat mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai.
Sedalam inikah perasaanmu terhadapku, Dav? Mengapa aku merasa de-javu? Perasaan yang kau simpan terhadapku! Membuatku teringat dengan bujang lapuk itu. Bahkan aku merasa kalian adalah dua pria yang begitu mencintai wanita yang sama. Mama salahkah aku menolaknya? Aku menolaknya bukan karena tidak mau membuka hati, tapi ada sebuah hati yang sedang kujaga. Meskipun aku tidak mencintainya, tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah menodai pernikahan dadakan yang telah terjadi pada putrimu
__ADS_1