Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Menjemput Di Mansion Morgan


__ADS_3

Ketika sang ayah tercinta menyinggung tentang skenario permainan dimainkan oleh Prasetya sehingga mendatangkan, perasaan terdalam dari relung hati milik Morgan adik kesayangannya tercinta. Namun, terlepas dari semua itu dia tidak sedikit pun menyesal telah menarik kehidupan sang adik bahkan pria baya itu, tidak pernah mempersalahkan perasaan terpendam dimiliki adik untuk mendiang cinta pertama pria tersebut.


“Apa kau menyesal telah berbagi perasaan dengan Morgan dari wanita melahirkan putrimu, Pras?” Gunawan kembali melontarkan topik lain demi bisa memenuhi, rasa penasaran yang membelenggu relung hati pria senja tersebut.


Membuat Prasetya menggelengkan kepala jika jalan diambil oleh pria itu sama sekali, tidak membuatnya menyesal jika harus berbagi perasaan dengan Morgan. “Aku sama sekali tidak menyesal dengan jalan kupilih meskipun harus berbagi perasaan bersama putra kesayanganmu!”


“Dia adikmu bo.doh!” Gunawan mengumpat geram dengan lontaran yang terucap dari, bibir Prasetya terang-terangan berkata demikian di hadapan dirinya pula. “Lalu bagaimana urusanmu dengan wanita sundal itu, Pras? Bukankah kau dengan belum selesai?”


“Sudah selesai, Yah ... ada Bastian mengurus semua itu dan memberi hukuman yang pantas untuknya!” Prasetya menyahut dengan jawaban bernada dingin.


Dua pria berbeda generasi bungkam setelah mereka tidak lagi membahas tentang sesuatu hal yang berhubungan, dengan wanita sundal dibenci salah seorang dari sepasang ayah — anak tersebut.


“Jadi, semua skenario itu kau melibatkan Bastian begitu, Pras?” Gunawan kembali melontarkan pertanyaan yang membuat sang putra menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Lalu apa karena ibumu sendiri?”


“Bukan juga, Yah ... tapi, aku melakukan semua itu demi melindungi dia yang kucintai!” tegas Prasetya dengan nada terdengar dingin.


Gunawan enggan membahas tentang Prasetya yang menahan semua beban berat di pundaknya sampai membuat dua pria, berbeda generasi terkejut dengan kedatangan Rewindra yang tanpa berbasa-basi justru langsung mencari keberadaan gadis tersebut.


“Kau tidak lihat ada kakeknya Ara di hadapanmu?” Prasetya berdecak kesal dengan tingkah laku Rewindra.


“Maafkan aku, Papa! Aku tidak mengetahui ada beliau di hadapanku, dan sebagai gantinya maafkan atas tingkah lakuku, Kek.”


Gadis barbar yang dicari oleh pria muda itu karena dia merasa bersyukur dengan kehidupan dari cucu kesayangannya tercinta bahkan sebelum menyusul istri tercinta, pria senja duduk di kursi roda menggumamkan untaian doa untuk keutuhan rumah tangga Araela terbebas dari orang-orang menghancurkannya.


“Istrimu sudah sampai mansion Morgan! Segeralah menyusulnya ke sana!” Gunawan menyahut tanpa membalas ungkapan dari pria muda tersebut.

__ADS_1


Setelah tidak melihat keberadaan cucu menantunya yang sudah menghilang dibalik pintu ruang kerja Prasetya. Gunawan memutuskan untuk kembali ke rumah sederhana dengan dia tidak henti, mengingatkan sang putra untuk menyelidiki lebih dalam tentang anggaran perusahaan yang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


*


*


*


Sementara itu, Rewindra kembali mengemudikan mobil mewahnya yang di arahkan ke mansion Morgan untuk menjemput istri barbar-nya.


Sekitar dua puluh menit kemudian mobil mewah Rewindra memasuki halaman mansion milik Morgan, dan tujuan pria muda itu adalah istri barbar-nya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mansion tersebut.


“Silakan menunggu nona Ara di sini, Den!” Bi Rumi mempersilakan Rewindra yang tidak lain tamu dari, sang nona untuk menunggunya di ruang tamu. “Apa Aden perlu dibuatkan sesuatu oleh saya?” tanya Bi Rumi.

__ADS_1


“Tidak perlu repot-repot, aku menunggunya di sini!”



__ADS_2