
Bahkan Rewindra enggan menghentikan ciuman panas tersebut, sehingga tanpa sadar duda casanova itu pun semakin membungkukkan tubuh tegapnya, sesampailah dia ke arah leher yang tanpa banyak kata menyesap begitu dalam, bergantian sesapan yang dilakukan oleh dirinya sampai membuat kedua leher Araela, meninggalkan tanda bekas keunguan bahkan pria itu tidak menyadari sorot kebencian.
Bukan itu saja Araela sendiri pun tidak mengerti dengan keadaan tubuhnya sendiri, ingin menolak dan menendang benda milik duda casanova tersebut. Namun, dia sendiri tidak mengerti mengapa tubuh mungilnya menerima respons yang tidak terduga, sehingga dirinya hanya bisa menatap kebencian untuk pria tersebut.
“Maaf, Hon! Apa kamu marah dengan tingkah lakuku?” Rewindra begitu puas, dengan hasil karya yang telah dia lakukan.
“Tidak.” Nada dingin diucapkan oleh gadis tersebut, membuat sang duda berpikir keras.
Mengapa gadis itu terlihat tidak senang, dengan apa yang telah dilakukan oleh dirinya.
“Hon … jika kamu memang tidak menyukai tingkah lakuku ini … katakan langsung kepadaku karena apa yang kuʼ lakukan, bukan untuk membuatmu marah atau hal lain, tapi aku tengah berjuang menaklukkan kebekuan hatimu. Jadi, di lain waktu kamu akan bertemu dengan sikapku yang berbeda dari ini … masalah tubuh kamu, aku yakin ada alasan lain di dalamnya … sampai jumpa di pesta, Hon … tidak masalah, tidak ada gaun. Namun, ketika kamu menjadi milikku, kamu pasti akan memakai itu.”
Ini kalimat pertama yang pernah Rewindra ucapkan, mengingat duda casanova itu pun bertekad menaklukkan hati dingin, seorang gadis bar-bar yang telah menjerat cinta-nya.
Tak lama kemudian, duda casanova itu pun meninggalkan calon tunangannya seorang diri, sambil memilih sebuah jas yang akan dipadukan dengan jas milik gadis tersebut.
Sementara itu, Araela pun tidak bisa berkutik, ketika mendengar semua pernyataan, bahwa pria itu tidak akan pernah berhenti untuk masuk ke dalam, kehidupan pribadi yang selama ini terhalang tembok begitu kokoh.
Tanpa sadar terdengar nada dering yang mengalun indah, mau tidak mau gadis itu pun mengangkat sebuah panggilan masuk.
“Ada apa menghubungi?”
“Di mana posisimu sekarang?” Orang yang menghubunginya pun, enggan menjawab pertanyaan. Namun, sebaliknya ia yang bertanya.
“Butik!” jawab Araela, dengan nada malas.
“Kau harus mendengarkan apa yang akan kuʼ katakan kepadamu, Ra!”
“Langsung saja pada intinya!” titahnya dengan nada dingin.
“Ra, kau harus berhati-hati saat pesta berlangsung … aku baru-baru ini mendengar kabar, ada perebutan posisi perjodohan itu. Apakah itu benar?” Sebelum mengutarakan niat tujuan Satria, menghubungi gadis bar-bar tersebut. Pria itu sedang memastikan, bahwa nona muda tidak mungkin kalah kembali.
“Tidak usah bertele-tele … katakan apa yang telah kau ketahui!” geram Araela.
“Pastikan kau selalu berada dalam jarak dekat dengan calonmu, Ra … mungkin kau akan terkejut mendengar apa yang akan kuʼ sampaikan … terpenting berhati-hatilah untuk calonmu.”
“Kau tidak datang ke sana?”
“Maaf, Ra! Aku tidak bisa menemanimu di sana, tapi kau jangan cemas. Aku sudah menempatkan beberapa anak buahku, untuk menjagamu! Itu saja yang ingin kuʼ sampaikan.”
Panggilan itu pun terputus, tidak ingin membuang banyak waktu. Araela pun menyuruh sang manager, untuk mengantarkan jas dan beberapa barang milik sang kakek.
Tidak lupa gadis itu, menyuruh sang manager menutup mulut, perihal kedatangannya ke butik tersebut.
__ADS_1
*
*
*
Malam hari telah datang, di sebuah hotel ternama, telah disulap menjadi sebuah pesta yang akan dilangsungkan oleh William Wiratama.
Lebih mengejutkan lagi adalah, kedatangan sebuah kerajaan yang berada di pesta tersebut. Namun, siapa yang menyangka sang pemilik pesta itu pun juga terkejut melihat kedatangan mereka.
Rewindra Wiratama, telah datang terlebih dahulu. Agar dia bisa mewakili sang kakek yang masih berada di dalam perjalanan.
“Tunggu kakekku datang terlebih dahulu, Ser!” titahnya dingin.
“Kau tidak ingin menyapa mereka?”
“Aku harus memastikan keamanan untuk putraku.”
Tak berselang lama kemudian, datanglah beberapa tamu yang diundang. Termasuk seorang wanita yang penampilannya begitu mencolok, dari beberapa tamu yang lain.
Sonya berhasil menarik perhatian tamu-tamu undangan. Namun, tetap saja di mata Rewindra tidaklah lebih dari seorang wanita panggilan.
Sementara itu, Sonya yang berhasil menarik perhatian tamu-tamu merasa begitu puas. Karena wanita itu sangat yakin, akan berhasil merebut posisi yang seharusnya dia pantas bersanding, dengan duda casanova yang sudah sangat lama diincar.
Kebencian wanit itu begitu nyata, pada saat acara inti berlangsung ketika dia mendengar sebuah fakta, bahwa anak pembawa sial tersebut yang telah dijodohkan sejak lama.
Akan tetapi, Sonya tidak melihat keberadaan orang yang dia benci, mengingat wanita itu hanya mendengarkan pembicaraan pembawa acara.
“Bukankah dia seharusnya datang ke pestanya sendiri? Apa traumanya tentang gaun itu masih membekas? Sial! Kali ini aku tidak akan tinggal diam saja. Kuʼ pastikan pria-mu bertekuk lutut di hadapanku.”
Pergerakkan Sonya tidak luput dari sepasang dua keluarga yang sedang mengawasinya.
“Apa kau sudah yakin dia tidak akan berhasil dalam rencananya?” Pramana memastikan, sebab pria baya itu begitu takut, dengan kenekatan yang dilakukan oleh Sonya.
“Tenanglah, Kak Pram. Di dalam hotel ini sudah ada Bastian yang mengurus putrinya. Jadi, putramu tidak akan jatuh ke dalam pelukannya,” jawab Morgan dengan menyeringai licik.
Mereka pun kembali memfokuskan penglihatan masing-masing, sampai di mana Sonya menghampiri Rewindra yang sedang mengobrol dengan David.
Setelah melihat sang target masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Sonya, wanita itu pun kembali berpura-pura pamit pada dua pria tersebut, sembari raut wajah wanita itu menampilkan senyum smirk.
Sebentar lagi dia akan menang dari anak pembawa sial itu, tapi pada saat membawa tubuh kekar yang dibantu oleh anak buahnya, tiba-tiba lampu di dalam hotel mendadak dan membuat Sonya mengumpat geram.
“Sial! Kenapa harus pakai lampu mati? Menyusahkan saja!” umpat Sonya dengan geram.
__ADS_1
“Mohon maaf, Nona Muda. Apa Anda masih melanjutkan rencana ini?”
“Tetap bawa dia di kamar yang telah kuʼ pesan. Kutunggu di sana!” titah Sonya. Namun, langkah wanita itu terhenti, pada saat anak buahnya menyuruh dia minum air putih.
Seringai dingin tersungging diwajah anak buahnya, saat mendapati sang nona pingsan dan bersamaan itu, lampu yang mati pun telah menyala dengan hadirnya seseorang dan orang itu, sedari tadi diam menyimak tingkah laku yang dilakukan oleh puti kandungnya.
“Kerja bagus! Biar anak itu aku yang bawa!” Setelah puluhan tahun berpisah, akhirnya Bastian bisa menggendong sang putri, sebab dia telah berjanji pada Morgan untuk menggagalkan rencana Sonya.
Kini pria baya itu, membawa tubuh Sonya di sebuah kamar. Di mana terdapat seseorang di dalamnya.
“Kau sudah mengerti bukan? Sebentar lagi anak itu akan merasakan, apa yang dirasakan oleh pria incarannya. Lakukan tugasmu karena hanya kau yang bisa kuʼ percaya!”
“Kenapa harus aku, Om?” Pria muda itu, melayangkan protes.
“Turuti saja apa yang kuʼ perintahkan untukmu!” titah Bastian yang tidak ingin dibantah.
Mau tidak mau Samuel melakukan permintaan dari seorang ayah untuk putrinya, bahkan pria muda itu tidak akan bisa melawan kekuasaan dari Bastian yang ternyata ayah kandung dari Sonya, wanita yang telah menghancurkan cinta pertama antara dia dan seseorang di masa lalunya.
.
.
.
.
.
***Lapak bujang lapuk dengan judul : Belenggu Hasrat Bujang Lapuk sudah publis, silakan yang mau meramaikan
Sekian terima gaji***!
CEO And The Twins
Author: ingflora
Wajah mungkin sama, tapi tidak dengan hatinya.
Ian Xander terkejut ketika dikhianati kekasihnya yang cantik Elevika Zarin, yang meninggalkannya demi pria yang lebih kaya.
5 tahun kemudian, Ian menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan terkenal di Indonesia. Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan mantan kekasihnya itu walaupun dia berjilbab, berkacamata tebal dan tidak cantik bernama Noura. Ia jatuh cinta dan mengejarnya. Ia pun kemudian melamarnya.
Namun kemudian ia mengetahui bahwa Noura adalah kembaran Vika, mantan kekasihnya dulu. Saat itu juga ia marah dan berniat balas dendam dengan menyengsarakan Noura.
__ADS_1