
Rewindra Wiratama yang sedang menyaksikan perdebatan dua wanita tersebut membuatnya semakin bingung. Entah mengapa mereka seperti ada hubungan yang tak bisa ia tebak dengan mudah. Namun, dari gerak-gerik wanita yang telah bercinta dengannya Seakan-akan wanita itu ingin dia membantu membereskan masalah itu.
“Baby ...,” panggil Sonya dengan nada sensual.
Sudah Rewindra duga wanita ini akan menggunakan namanya untuk membantu menyelesaikan masalah di antara mereka.
“Bisakah kamu memecatnya? Dia memang sengaja mengganggu kegiatan kita.” Sonya melanjutkan perkataan sambil menunjuk ke arah orang yang ia benci itu.
“Untuk apa memecatnya? Tak ada untungnya aku memecat karyawanku tanpa alasan sebab. Jika kamu merasa keberatan dengan keberadaannya, jangan harap bisa melakukan itu lagi denganku. Paham!” Rewindra menekankan bahwa ia sangat tak menyetujui sikap keangkuhan di dalam diri Sonya.
Hal tersebut membuat wajah Sonya menjadi pias saat pria yang menjadi incarannya itu enggan melakukan apa yang diinginkan oleh dirinya.
“Tuan Anda sebaiknya memberi contoh yang baik untuk orang-orang yang bekerja di kantor ini. Jangan sampai ulah Anda menjadi konsumsi publik karena saya yakin di luar sana media akan selalu membicarakan tentangmu.” tanpa rem pakem celetukan dari Araela membuatnya mendapat tatapan dingin dari seorang Rewindra Wiratama.
__ADS_1
Ketika Rewindra akan membalas perkataan dari office girl tersebut. Tanpa sadar Sonya menyela celetukan tersebut. “Hei, kau itu hanya seorang pegawai murahan di kantor ini! Mengapa harus mengurusi urusan atasanmu. Kau itu hanya bawahan dan juga sampah sepertimu tak bisa berbicara seperti itu padanya.”
Apa yang dilontarkan oleh Sonya membuat Rewindra geram. Selama ini tak pernah sekalipun dirinya kasar pada pegawai bawahannya. Namun, mulut wanita itu benar-benar beracun dan berbahaya sehingga ia harus segera membawanya keluar dari kantor.
“Lalu kau sudah merasa baik begitu, hm! Jika ingin menjudge orang lain berkaca-lah untuk dirimu sendiri. Kau datang kemari hanya untuk menjadi pemuas ranjangnya? Mimpimu terlalu tinggi menggunakan sebuah nama hanya untuk menekanku. Hei, dengar aku bukanlah orang yang bisa kau tindas dengan mudah.”
Lidah Sonya mendadak kelu setelah mendengar penjelasan dari orang yang sangat ia benci itu pun sama sekali tak merasa takut dengan tekanan darinya.
Tak tahan melihat perdebatan dari kedua orang yang membuat Rewindra mendadak pusing dengan segera ia menyuruh Sonya untuk keluar dari ruangan pribadinya.
“Kau mengusirku karena ja'lang ini, Baby?”
Rewindra tergelak lucu mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Sonya yang sedang menyebutkan seorang office girl dengan sebutan ja'lang yang di tujukan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Sungguh lucu sekali kau yang menikmati tubuhku sendiri tapi orang lain yang kau sebut ja'lang.
“Aku menyuruhmu keluar dari kantorku bukan karena dia. Akan tetapi di kantor ini tak ada hubungannya denganmu. Paham!”
Menghentak-hentakkan kakinya Sonya pun meninggalkan Rewindra dengan raut wajah yang terlihat marah dan kecewa. Namun, tanpa di sadari keduanya Araela terlebih dahulu meninggalkan dua insan yang sedang menyelesaikan urusannya.
Di lantai tempat milik Louser. Pramana terkejut setelah mendapati wajah yang tertangkap di dalam kamera tersebut. Seketika ia ingin memastikan bahwa gadis tersebut merupakan seseorang telah menolong Rolando adalah orang yang sama atau bukan?
“Apa dia karyawan di kantor ini, Ser?” Pramana bertanya dengan raut wajah yang sangat dingin.
Kedua alis Louser terangkat saat ia mendapat pertanyaan dari Tuan Besarnya, dan saat memastikan pertanyaan itu ia mengikuti arah pandangan mata dingin itu, yang membuat ia terkejut pertanyaan dari Pramana mengarah ke bagian office girl.
“Maksud Anda apa, Tuan?”
__ADS_1
“Aku tanya denganmu! Apa dia karyawan di kantor ini? Menjawab saja kenapa harus berkelit-kelit, hah!” gertak Pramana dengan nada satu oktaf.
“Saya ....”