Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Status Yang Begitu Mengejutkan


__ADS_3

“Jika nanti nona muda bangun, dan bertanya-tanya kalian cukup menjawab seadanya. Jangan pernah sekali-kali menerima perintah, karena hanya tuan besar yang berhak atas kalian. Paham!" Asisten Bastian menitah dingin.


Selain itu tuan besar menugaskannya untuk menjaga nona muda agar tidak kabur dari, mansion bahkan tidak sampai setengah jam terdengar suara teriakkan dari kamar tersebut.


Tidak berselang lama kemudian Sonya mulai membuka mata dengan rasa pusing menyerang kepala, sambil mengarahkan pandangan mata di sekitar kamar yang di tempati, seketika itu bola matanya membulat sempurna saat wanita itu teringat dengan, seseorang yang memukul tengkuk belakang dan membuatnya tidak dapat berkutik.


Pintu kamar Sonya terbuka dan bersamaan itu, masuklah salah satu pelayan yang akan membereskan kamar tersebut.


"Kau siapa?" sentak Sonya dengan nada cetus.


"Saya pelayan yang membersihkan kamar Anda, Nona Sonya." Jawaban dari pelayan tersebut, membuat wanita itu ingin memastikan sesuatu.


"Kalau begitu kau siapkan keperluanku di sini! Jika memang kau seorang pelayan." Sonya menitah dengan tatapan sinis. Namun, pelayan yang usianya di atas dia menggeleng lemah dan gadis itu, tidak takut dengan tatapan dari sang nona.


Mengingat ia teringat sebuah pesan dari asisten tuan besar untuk tidak menerima perintah, dari nona meskipun orang yang dibawa ke mansion itu adalah putri kandung dari Bastian sendiri.


"Heh, kau itu hanya pelayan di sini! Jangan berlagak seolah-olah tuanmu memberi perintah untuk tidak melayaniku! Aku tidak terima dengan keputusan dia yang tiba-tiba membawaku, bahkan tidak menyiapkan pelayan untukku! Karena sejak kecil aku terbiasa, dilayani oleh pelayan sepertimu! Mengerti, hah!"


"Anda bisa komplain pada beliau, Nona. Saya hanya menjalankan perintah saja!" Tanpa meragu gadis membalas sahutan dari nona-nya.


Dengkusan kesal membuat Sonya hanya bisa mengumpat geram dengan tindakan yang dilakukan oleh seorang pria yang mengaku-ngaku sebagai ayah kandungnya, tidak itu saja dia benar-benar tidak terima kekalahan yang baru saja diterima oleh dirinya bahkan wanita itu, akan membalas kekalahan pada seseorang dan merebut kembali kebahagian untuk bisa, membuat orang itu menyesal telah berurusan dengannya dan akan terus membuat hidup orang itu tidak tenang.


*


*


*


Di sisi lain, saat ini Rewindra sedang membicarakan suatu hal dengan Louser yang ditugaskan menyelidiki kejadian semalam dan membuat pria itu, bersalah karena telah merenggut sesuatu yang mana bahwa dia dan gadis tersebut, telah menjadi satu meskipun tanpa ada cinta diantara salah satunya.

__ADS_1


"Mengapa kau membiarkan wanita itu mendekatiku? Kau bosan hidup ya, Ser!" Sembari mendaratkan bokong di atas kursi, pria itu membentak sekretaris yang merangkap sebagai sahabat karena Rewindra benar-benar kesal, dengan sang sahabat yang membiarkan dia terkena jebakan batman dari wanita itu.


Louser yang dibentak pun hanya bisa pasrah, pada saat sang sahabat mengeluarkan unek-uneknya. Namun, yang menjadi pertanyaan dibenaknya adalah bagaimana mungkin dia bisa kecolongan seperti ini? Hal tersebut yang membuat dia pusing dibuatnya.


"Maafkan aku, Ndra. Aku sendiri tidak mengerti dengan keadaanmu yang hampir saja kecolongan." Louser membalas sahutan sahabatnya sekaligus sang atasan.


Rewindra yang mendengarnya pun, semakin kesal dibuat oleh tindakan wanita semalam. Bahkan dia sendiri merasa begitu jijik dengan tingkah laku dari wanita yang begitu terobsesi, pada dirinya dan untung saja pria itu tidak sampai melakukan hal gila bersamanya.


Sampai-sampai dia tidak mengerti mengapa harus merenggut harta berharga milik seseorang dan sialnya justru orang tersebut, yang membuat dirinya takluk bahkan pria itu sangat yakin ada suatu hal yang terlewatkan dari pandangan mata tentang kejadian yang menimpanya.


"Apa kau bisa menyelidiki kejadian yang menimpaku, Ser?"


Louser terbatuk-batuk bukan tidak ingin menyelidiki kejadian itu hanya saja dia berjanji pada seseorang untuk tidak, memberitahukan tentang status baru yang telah disandang oleh sahabatnya tersebut di mana sang sahabat kini telah menyandang, sebagai seorang suami dari seorang gadis dan gadis itu tidak lain karyawan di kantor milik atasannya. "Kenapa tidak menyelidiki sendiri, Ndra? Maaf untuk kali ini ... aku tidak bisa membantumu!"


Rewindra memicing kedua matanya begitu mendengar pernyataan yang diucapkan oleh, Louser dan dia semakin yakin ada suatu hal yang terlewatkan. "Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Ser?"


"Sekali lagi aku minta padamu, Ndra! Untuk kali ini mohon untuk pengertianmu."


"Sudahlah kau dan yang lain sama saja! Tidak ada yang mau memberitahukan apa pun semua tentangku!" Rewindra berkata demikian karena dia benar-benar kesal pada semua orang, termasuk pada sang sahabat yang begitu enggan membuka suara.


Tanpa perasaan pria itu mengusir sang sahabat karena dia sendiri yang memutuskan menyelidiki sendiri kejadian menimpanya dan Rewindra dibuat terkejut ketika mengetahui, kejadian tersebut bahkan lebih mengejutkan lagi tentang statusnya telah menjadi seorang suami dan pantas saja semua orang, tidak ada yang memarahi atas sikapnya yang begitu lancang merenggut paksa harta berharga milik gadis tersebut.


Bagaimana ini bisa terjadi? Pantas saja kakek tidak memarahiku karena telah membuat jalannya seperti bebek. Namun, tetap saja aku merasa bersalah karena telah merenggut paksa harta berharganya, tapi yang menjadi pertanyaanku? Mengapa gadis itu mau mengambil risiko ini? Aku sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran yang diambil oleh dirinya.


Tidak ingin berlama-lama di kantor pria itu memutuskan menyudahi penyelidikkan sembari membereskan sedikit pekerjaan, sebelum dia menemui seseorang yang kini telah menjadi istrinya hingga sore hari pun tiba, Rewindra telah kembali dari kantor dan saat ini pria itu sedang berada di kamar hotel yang di tempati oleh sang putra, dengan di dalamnya terdapat tiga wanita dan salah satu dari wanita tersebut, merupakan sang istri yang terlihat begitu acuh dengan kedatangan dirinya di dalam kamar tersebut.


"Baru pulang, Win?"


Rewindra mengangguk, tapi pria itu enggan melepas pandangan kedua mata yang tertuju pada istrinya, bahkan penampilan dari sang istri terlihat berbeda saat pertama kali berjumpa dengan gadis tersebut.

__ADS_1


Tanpa sadar mamanya kembali berceletuk, saat dia ketahuan menatap tanpa kedip yang ditujukan untuk gadis itu, "jangan ditatap seperti itu, Win. Kamu pun bisa membawa dia ke tempat kesukaanmu!"


"Mama seperti cenayang saja," sahut Rewindra datar karena pria itu, mati-matian menahan malu dengan ucapan yang terucap dari mamanya.


"Tidak perlu mengelak karena Mama bisa melihat tatapan mata itu. Kamu tujukan untuk istrimu bukan?"


Menggaruk tengkuk yang tidak gatal, pria itu tidak bisa mengelak saat ketahuan sang mama, bahkan dia tidak sabaran untuk segera membawa pergi dari kamar di tempati sang putra. Namun, justru mamanya menyuruh dia untuk menginap di rumah yang di tempati oleh istrinya tersebut.


"Mama mengusir putramu sendiri, ya?" protes Rewindra sembari bertanya.


"Tidak, Sayang. Mama ingin kamu untuk sementara waktu tinggal bersama istrimu di rumah dia!" titah Dahlia tanpa ada bantahan.


Tidak berselang kemudian, setelah berdebat dengan sang mama tercinta. Saat ini pria itu bersama sang putra sedang berada di dalam rumah sederhana, milik sang istri dengan gadis itu yang tengah menidurkan Rolando setelah seharian bermain bersama istri kecilnya.


Sementara itu, Araela yang berstatus seorang istri dari Rewindra bukannya tidak ingin membuka suara. Namun, gadis itu benar-benar tidak mengerti harus dimulai dia mengobrol dengan suaminya tersebut.


Lima belas menit berlalu, setelah dia menidurkan Rolando. Araela memberanikan diri membuka suara karena tidak mungkin, dia terus mengacuhkan sang suami yang terlihat begitu kelelahan.


Serta tidak lupa menyuruh sang suami membersihkan diri, dengan dia yang telah berganti pakaian sebelum gadis itu membuat sarapan lagi, sebab tiba-tiba saja perutnya berbunyi kembali dan di dalamnya bersenandung ria.


Sesaat dia sedang menikmati sarapannya tanpa disadari sebuah tangan kekar mengunci dan mendekap erat tubuh mungil sambil mengendus aroma tubuhnya, sehingga membuat Ara tanpa sadar mend3sah pada saat gadis itu sedang mengunyah makanannya.


Hal tersebut membuat gadis itu terkejut dengan tingkah laku yang dilakukan oleh suaminya. Ingin menolak tapi reaksi tubuhnya seakan-akan, menginginkan sentuhan lebih di saat dia sedang menikmati sarapan malam.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2