
Baby mungkin kamu akan marah denganku karena menyembunyikan kebenaran ini darimu, tapi yang jelas pria yang dijodohkan denganmu tentu saja kamu dan dia sudah bertemu. Bahkan putranya pun sangat dekat dan mengenalmu, dan maaf aku tak bisa menyelamatkanmu dari perjodohan ini.
“Baby ....
“Sudahlah jangan terlalu meminta maaf denganku, Om. Karena aku sangat membenci kata maaf yang selalu terulang. Oke!”
Menghela napas gusar, mau tak mau Morgan enggan membahas, sesuatu yang membuat bayi mungilnya terluka.
“Sekarang kamu sudah mengetahui rahasiaku, tapi apakah kamu ju —” jeda sejenak karena ia ingin, menanyakan hal ini kepada bayi mungilnya.
“Tentu saja aku mengetahui jika Sonya bukan anak kandungnya bukan begitu, Om?” sahutnya dengan menyelidik.
“Sejak kapan, Baby?” Morgan memastikan bahwa bayi mungilnya ini telah mengetahui rahasia besar tersimpan rapi milik wanita ular.
“Sudah lama aku mengetahuinya, dan papa benar-benar bodoh, membuangku demi menampung seorang anak yang tak mengalir darah keluarga Smith.”
Morgan mengangguk dan sependapat dengan bayi mungilnya. “Yes, Baby. Apa yang kamu ketahui itu memang benar, dan saat ini aku sedang merencanakan misi untuk memberinya pelajaran karena telah berani berurusan denganku. Jika dulu dia berhasil menfitnahku, tapi tidak kali ini aku tak akan menahan diri lagi. Agar aku juga bisa menyadari arti hidupmu sebenarnya, dan kamu tak keberatan jika kulakukan ini untukmu, Baby?”
“Tidak, terserah maumu, dan aku tak akan melarangnya.”
Setelah mengatakan hal tersebut kepada omnya. Araela pun beranjak dari kamar pribadi yang dulu di tempat oleh mendiang mama, untuk melangkahkan kaki ke kamar sebelah karena saat ini dirinya benar-benar lupa dengan tugas skripsi dari dosen pembimbing kampusnya.
“Hari ini aku mau mengerjakan tugas skripsiku, dan kuminta jangan menjadi pengganggu. Kalaupun kakek mencariku katakan saja apa yang kamu dengar itu, Om.” Menitah dengan suara tegas, lembut dan juga dingin.
“Oke, Baby. Aku tak akan mengganggu waktumu, dan sekali lagi terima kasih karena kamu, mau mendengarkan semua rahasia hati yang selama ini kupendam sendiri.”
Setelah tak melihat keberadaan bayi mungilnya yang menghilang dibalik pintu, dengan bergegas ia mengambil ponsel untuk meminta anak buah menyelidiki kejadian yang menimpanya.
*
*
*
“Ma ....
“Ada apa, Sayang?” sahut Mayang sembari menenggak susu hingga tandas.
Akan tetapi, suara bariton Prasetya meminta istri dan anaknya, untuk tak membuka suara jika sedang berada didepan makanan. “Kalian kalau ingin membuka suara ... habiskan dulu makanan yang ada didepan ini ... karena aku sangat membenci kalian selalu mengobrol ketika sedang sarapan ... sampai disini paham!”
Tanpa membantah, sembari mengumpat salam hati masing-masing, kedua wanita beda generasi itu pun terpaksa menuruti, perkataan yang dilontarkan oleh pemimpin keluarga.
__ADS_1
Berselang lima belas menit kemudian, masih tetap diatas meja makan, Sonya kembali menanyai sesuatu yang membuatnya penasaran setengah mati. “Ma ....
“Ada apa, Sayang?” Mayang pun mengulang pertanyaan yang sama.
“Apakah benar aku bukan anak kandung, papa?” jawabnya sembari membalik pertanyaan.
Deg —
“Sayang ....
Seketika tenggorokan, Mayang tercekat saat mendengar pertanyaan dari putrinya itu. Namun, suara bariton dari Prasetya memintanya mempertanggungjawaban atas pertanyaan dari sang putri tercinta. “Jawab saja sesuai yang kau sembunyikan darinya, dan meskipun sepenuhnya aku belum memercayai bukti itu. Maka untukmu katakan sejujurnya, jangan sampai aku membuat perhitungan denganmu.”
“Tentu saja kamu anak kandung papamu, Sayang.” Kilah wanita itu dengan seribu alasan, dan tentu saja hal tersebut membuat Prasetya menggeram marah karena ketidaktahu-an yang dilakukan istri untuk putrinya sendiri.
“Lakukan kebohongan itu dengan terus, sampai mana kau membohongi putrimu sendiri, dan aku sangat yakin adikku cepat atau lambat akan membawa bukti asli itu. Kalau memang tak ingin berkata jujur silakan itu hakmu, aku tak akan melarangmu melakukan itu untuk putrimu, tapi perlu kau ingat baik-baik apa yang dikatakan adikku tak akan bisa kau ganggu gugat, dan jangan sampai kau mengusiknya kembali seperti yang pernah kau lakukan padanya.”
“Sayang, itu ak —”
“Apa kau takut aku akan menceraikanmu, Mayang?” Prasetya memastikan apakah wanita yang selama ini membohongi takut dengan ancaman sedang menantinya.
Mengangguk lemah, tapi dalam batinnya masih tetap tak menerima garis perjodohan diperuntukkan, anak kandung dari pria bodoh yang bersedia menampung anak pria lain.
“Iya.” Tentu saja aku menginginkan perjodohan ini untuk Sonya. Lagipula tak mungkin pria yang dijodohkan itu mau, dengan putrimu pembawa sial itu.
“Maka kau harus berani mengeluarkan unek-unekmu didepan ayah. Karena aku yakin selama ini kau, dengan beliau sama sekali tak pernah saling terbuka bukan?”
“Justru ayahmu yang selama ini tak pernah menganggapku sebagai menantunya, dan apa bagusnya mendiang istri pertamamu itu. Apalagi dia meninggalkan anak pembawa sial.” Namun, perkataan dilontarkan oleh Mayang, tanpa sadar ia membuat pria yang selama ini dinikahi itu merasa sesak di dada.
Karena perkataannya sedikit menggoreskan luka hati yang sedang dirasakan oleh dirinya.
“Kalian sedang membahas apa?” Sonya yang sedari tadi diam menyimak, terpaksa membuka suara karena ada sesuatu, yang sedang membuatnya penasaran.
“Tanya sendiri dengan papamu, dan maaf mama tak berani mengatakan langsung padamu, sayang.” Sembari memberi kode melalui kedipan mata, ia memutuskan akan membicarakan masalah ini hanya berdua dengan putrinya tercinta.
“Aku tak ada urusan apa pun, dan sebaiknya urungkan niatmu itu, Mayang. Namun, aku sangat yakin kau tak mungkin berani berhadapan langsung dengannya bukan?”
Tanpa membalas jawaban dari istrinya, pria itu melangkahkan kakinya ke arah kantor, untuk merenungkan semua kesalahan yang selama ini telah dilakukan oleh dirinya.
Tak melihat keberadaan Prasetya, dengan terburu-buru dirinya menarik lengan sang putri, dan menyeret ke kamar pribadi, untuk membahas perjodohan yang harus didapatkan meskipun dengan cara licik sekaligus.
“Pria bangka itu sedang merencanakan perjodohan untuk pembawa sial itu, sayang ... apakah kamu tertarik untuk merebut posisinya?” tawarnya dengan menyeringai licik.
__ADS_1
“Jadi ini yang sedang kalian bahas tadi?” sahutnya dengan bertanya balik.
“Ya, Sayang.” Kemudian Mayang kembali menanyai perihal tawaran yang begitu sangat menggiurkan. “Bagaimana, Sayang. Tertarikkah kamu merebut posisinya?”
“Apa mama tahu pria yang dijodohkan itu?”
“Mama sendiri belum memastikannya. Namun, kali ini akan sedikit memacu adrenalinmu.”
“Maksudnya bagaimana, Ma?” Sonya tak begitu mengerti dengan perkataan yang dilontarkan oleh sang mama.
“Kemarilah dekatkan telingamu, dan ingat mama tak ingin kamu membahas perihal papa kandungmu lagi. Bisa?”
Sonya mengernyit bingung. “Kenapa, Ma?”
“Sudah mama katakan papa kandungmu selamanya akan tetap bernama Prasetya Gayatri Smith. Meskipun nanti ada seseorang yang tiba-tiba datang mengaku sebagai papa kandungmu.”
.
.
.
.
.
Kaina, mendapatkan kenyataan yang mengejutkan. Anak kembarnya ternyata merupakan kembar beda ayah atau bisa disebut superfekudensi.
Candra dan Hugo. Mereka adalah ayah bilogis dari si kembar. Bedanya Candra adalah sang kekasih yang sudah di putuskan akibat ketahuan selingkuh. Sedangkan Hugo hanya pria kenalan yang di ajaknya bermalam demi membalaskan penghianatan sang kekasih.
Karena kedua anaknya mengalami gagal ginjal, Kaina meminta pada dua laki-laki itu untuk memberikan ginjal mereka.
Apakah si kembar akan mendapatkan donor ginjal dari ayah bilogis mereka?
Apakah kehidupan Kaina setelah itu bahagia atau malah babak baru akan di mulai?
Sanggupkah Kaina melewati semua cobaan hidupnya seorang diri?
Apakah langit yang kelam akan diterang oleh Purnama?
__ADS_1