
Kembali di negara tropis, di sebuah mansion terdapat seorang anak lelaki sedang menunggu kedatangan dady-nya. Sebab, pria kecil itu begitu sangat mencemaskan keadaan sang dady.
Sampai membuat neneknya terkejut melihat dirinya berjalan mondar-mandir di ruang tamu.
“Sayang ….” Wanita baya itu menghampiri sang cucu yang terlihat begitu gelisah karena dirinya pun, juga terkejut melihat cucunya yang ternyata belum tertidur sama sekali. “Apa kamu sedari tadi tidak tidur?”
“Aku terbangun karena memimpikan hal buruk tentang dady, Oma.”
“Hah. Jadi, kamu bukan begadang melainkan terbangun begitu, hm?”
Rolando menganggukkan kepala.
“Duduklah!” Wanita baya itu menyuruh sang cucu untuk duduk di atas sofa. “Jangan cemaskan dady-mu karena tadi dia berpamitan kepada oma untuk makan malam di luar … mau menunggunya bersama Oma?”
Tak lama kemudian mereka terdengar suara langkah yang berasal dari Rewindra tengah melangkahkan kaki, ke ruang tamu dan terkejutnya ia melihat keberadaan sang putra dan juga mamanya berada di ruang tamu tersebut.
__ADS_1
“Kalian ….”
“Bibirmu kenapa itu, Dad?” Raut wajah pria kecil itu terkejut mendapati luka di bibir dady-nya.
“Jangan cemaskan luka ini, Boy … Dady-mu tidak apa-apa.” Untuk pertama kalinya sang duda casanova tergelak lucu. Ketika pria itu melihat raut wajah menggemaskan di dalam diri putranya. “Kamu sendiri kenapa belum tidur?”
“Dia terbangun dari tidur karena mengadu kepada Mama … bahwa putramu habis bermimpi buruk tentangmu.” Ibu satu anak itu pun ikut menimbrung yang ternyata dibenaknya sedikit mengganjal tentang luka di sudut bibir putranya. “Win ….”
“Apa Mama mau menanyakan luka yang kuʼ dapatkan ini?”
“Luka ini kuʼ dapat dari adik sahabat papa, Ma … putramu sendiri tak mengerti mengapa dia tiba-tiba memukulku.”
Kedua mata wanita baya itu membelalak sempurna ketika mendengar penuturan yang diucapkan, oleh putranya dan dipastikan bujang lapuk itu yang memukulnya. “jangan bilang bujang lapuk ini yang melakukannya kepadamu.”
“Sayangnya itu benar, Ma … sebab, sebelum putramu mendapat luka ini … aku bertemu dengan calon istriku di tempat makan yang kuʼ datangi sampai mengantarnya pulang dan siapa yang menduga akan mendapat hadiah ini darinya.”
__ADS_1
Dahlia begitu terkejut mendengarnya mau marah pun tidak mungkin bisa. Sebab, apa yang dilakukan oleh bujang lapuk itu juga salah. Mengapa harus memukul putranya? Apakah dia mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan keponakannya itu. Wanita baya itu pun memutuskan untuk bertemu dengan bujang lapuk, dan meminta penjelasan maksud memukul sang putra.
Dasar bujang lapuk sialan! Awas nanti saat bertemu denganku. Sejak lama kau masih sama saja terlalu posesif kepadanya. Sebesar itukah cinta yang bertepuk sebelah tangan untuk mendiang kakak iparmu sendiri? Sampai-sampai kau memukul putraku.
Wanita baya itu pun terhenyak ketika mendengar panggilan dari sang putra yang sedang membuyarkan lamunannya. “Ada apa, Win?”
“Apa yang Mama pikirkan?” Rewindra menjawab sembari balik tanya.
“Tidak ada, Win … lebih baik ajak putramu masuk.” Dahlia mengelak karena tak ingin sang putra mengetahui, bahwa dirinya baju saja mengumpat tingkah laku dari bujang lapuk tersebut.
“Yakin tidak ada yang disembunyikan olehmu, Ma?”
“Sudah sana ajak dia untuk tidur kembali karena tidak baik begadang malam-malam.”
Tanpa banyak kata Rewindra mengangkat tubuh sang putra ke dalam gendongan dan membawanya masuk ke dalam kamar utama karena pria itu akan menghabiskan waktu bersama putranya tercinta.
__ADS_1