
Pria itu bungkam ketika ia dinasehati oleh seorang anak remaja yang menjadi murid didikan di bawah naungannya dan terlepas dari semua itu, dirinya melakukan hal tersebut karena kehidupan yang dijalani tidak semudah yang dibayangkan sebelum masalah silih berganti datang.
“Aku membagi kisah kehidupanku karena hanya kau yang bisa kupercaya sejak pertama kali kita bertemu,” sahutnya yang membuat Millo mengangguk pelan.
“Kalau Om tidak sanggup membaginya ... aku tidak akan pernah memaksakan apa yang menjadi beban di pundakmu!” tukas Millo dingin.
Prasetya nama pria dewasa yang mengubah kehidupan Millo menggeleng bahkan dia, begitu kukuh membagikan sebuah kisah kehidupannya pada anak lelaki tersebut. “Kau tidak perlu berkomentar apa pun setelah mendengar hal ini! Aku hanya membutuh seseorang yang mau menjadi pendengarku dan orang itu kau sendiri, Millo.”
Millo tertegun melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh pria di hadapannya tanpa berkata banyak anak lelaki itu pun, memintanya untuk segera membagikan sebuah kisah kehidupan dimana dia sebagai pendengar dari kisah tersebut.
Menyimak dengan seksama ketika pria dewasa bernama Prasetya mencurahkan segala isi hati yang selama ini mengendap di dada pada anak lelaki duduk berhadapan dengan dirinya.
“Seperti itulah kehidupanku yang sekarang, Millo! Aku tidak punya pilihan lain-selain, hanya bisa menyakiti hati dua wanita yang kucintai. Aku harus apa dan bagaimana?”
“Lalu mengapa Om harus menikah jika hanya untuk menyakiti hati orang yang kau cintai, Om?”
Jalan pikirannya pun semakin bingung mengingat dia melakukan hal itu karena sebuah ancaman tidak main-main dari seorang wanita yang selama ini terus menekannya secara psikis.
Oleh karena itu, jalan satu-satunya adalah membangun dinding tembok yang sangat tinggi karena dia tidak ingin wanita itu mengetahui isi relung hati terdalamnya.
“Bahkan aku sendiri tidak mengerti dengan perasaan yang kurasakan ini, Millo,” ucap pria itu sambil mengusap kasar wajah tampan yang, membuat Millo mengarahkan pandangan mata tertuju pada sorot manik mata Prasetya.
Belum sempat menemukan yang tengah dicari anak lelaki itu salah satu tangan kekar, Prasetya merogoh sesuatu yang selama ini menemaninya ke mana pun pria itu pergi.
__ADS_1
Sebuah kalung berlian dengan gantungan bermotif love yang di dalamnya terdapat dua foto sehingga membuat dahi anak lelaki mengernyit heran dengan pria dewasa itu.
“Kenapa kau malah memperlihatkan kalung itu di hadapanku, Om?”
“Kalung ini bukanlah sesuatu yang biasa ... di dalamnya ada dua foto berharga untuk kehidupanku, dan maukah kau menjaganya sampai nanti tersampaikan oleh dia?” pinta Prasetya yang membuat anak lelaki itu bingung dengan permintaannya.
Selama mereka kenal anak lelaki itu hanya mengenal pria dewasa itu, sebagai seorang yang tidak sesederhana terlihat untuk seusianya. “Dia siapa yang Om maksud?”
“Nanti kau akan mengetahuinya, dan untuk itulah mengapa aku hanya bisa memberimu pendidikan keras! Tanpa bisa memberimu sebuah tempat tinggal dan sebentar lagi kau akan bertemu dengannya ... ada alasan lain yang membuatku menarik kehidupanmu, sebuah permintaan yang tidak seharusnya kau terlibat.”
Sampai akhirnya orang yang dimaksud oleh pria dewasa itu merupakan putri kandungnya sendiri, dan lebih mengejutkan dia mendapat amanah yang selama ini telah menjadi beban berat di pundak anak lelaki itu.
Menjadi bayangan dibalik layar yang telah menjadi skenario diciptakan oleh Prasetya sendiri karena dia hanya memercayakan Millo untuk menjaga dan melindungi putrinya selalu.
“Millo, hanya kau yang bisa kupercaya! Untuk ke depannya aku tidak akan menemuimu lagi, dan ingatlah untuk permintaanku yang tidak masuk akal ini! Kelak kau akan mengetahui dengan sendiri langkah yang kuambil, hanya untuk melindungi serta menjaga dari jarak jauh dan semuanya lewat dari dirimu!”
Usai berkata demikian, beberapa bulan sampai bulan berganti dari pertemuan terakhirnya. Millo benar-benar tidak bertemu kembali dengan pria dewasa yang datang menemuinya, bahkan dia hanya memberikan sebuah pendidikan serta beban berat yang mengemban di pundaknya.
Sampai di mana dia bertemu dengan seorang gadis kecil yang mengingatkannya pada seseorang, bahkan cara mereka bersikap pun sama sampai membuat Millo terkejut mengetahui kenyataan itu.
Seseorang yang dimaksud oleh pria yang memberinya tugas merupakan seorang gadis tomboi yang mempunyai sejuta cerita tentang kehidupannya, hingga waktu telah berlalu sampai di mana dia sendiri mengemban semua tugas serta dipercayakan oleh dua orang yang sama.
Lamunan pria tampan buyar ketika dia mendengar sebuah pertanyaan yang diajukan untuk dirinya. “Jadi, kau sebenarnya adalah yang ditugaskan oleh dia?”
__ADS_1
Millo mengangguk dengan dia melangkahkan kaki menghampiri sebuah brangkas setelah terbuka, pria itu mengambil sebuah kalung yang selama ini tersimpan rapi sejak dirinya menjadi kakak angkat.
Bahkan sejak dia menjadi penjaga bayangan dirinya sama sekali tidak berani mengambil risiko mengingat kehidupan adik angkat-nya benar-benar membuatnya merasakan rasa sakit mengendap di dada.
Seperti saat Millo bertemu dengan pria yang memberinya tugas sehingga dia menyimpulkan bahwa sepasang ayah — anak diuji dalam kehidupannya masing-masing. Bahkan pria tampan itu juga mengetahui semua yang berhubungan dengan mereka tidak perlu luput dari pengawasannya, sampai di waktu yang telah tiba untuk dirinya akan memberikan kalung dalam genggaman di tangan pada pemilik asli.
“Aku kembalikan ini, Ra!” serunya sambil menyodorkan kalung berlian dengan gantungan motif love yang membuat dahi Araela mengernyit heran karena ini pertama kali dia melihat kalung tersebut.
“Itu bukan milikku, Kak,” tolak gadis itu yang serasa enggan menerimanya tapi pria tampan itu, tidak ingin adik angkat-nya menolak pemberian yang seharusnya menjadi milik Araela sendiri.
“Jangan menolaknya, Ra! Kau akan menyesal jika tidak melihat isi di dalam kalung ini.” Tidak lupa Millo berkata bahwa kalung tersebut bukanlah kalung berlian biasa, mengingat dia sendiri pernah melihat isi dalamnya yang terisi sebuah dua foto wanita.
Sekarang pria tampan itu ingin gadis di hadapannya tidak menyesali sebuah pemberian dari seseorang yang memberinya luka lara dan sebuah kebencian mendalam telah tertanam di dalam diri gadis tersebut.
Araela didesak untuk menerima kalung itu pun pasrah dengan tangan sedikit bergetar akhirnya gadis itu pun menerimanya tanpa berkata apa pun, dia membuka gantungan bermotif love yang membuat manik mata kecokelatan membelalak lebar melihat isi di dalamnya sehingga membuat air matanya mengalir sendiri.
“Ini!” sahut gadis itu dengan hati yang bergetar.
“Sekarang kau mengetahui bukan? Bahwa dia tidak sepenuhnya seperti itu, Ra! Kalaupun memang papamu memberi sebuah luka hati hingga melahirkan kebencianmu, mungkin ada alasan lain yang membuat beliau melakukan semua itu demi dirimu sendiri!” Millo menegaskan bahwa dia tidak ingin gadis di hadapannya jatuh lebih dalam sampai membuatnya lupa segala hal.
Bahkan pria tampan tidak akan berhenti membuat Araela menyadari bahwa papa-nya sendiri sama sekali tidak pernah seperti yang dituduhkan oleh gadis tersebut.
Air mata Araela tidak mau berhenti mengalir ketika melihat isi dari dalam gantungan bermotif love yang menampilkan wajah cantik milik cinta pertama gadis itu. Bahkan ada fotonya sendiri bersama wanita yang melahirkannya sehingga dia terasa tertampar oleh sebuah kenyataan, bahwa pria yang melahirkan kebencian di dalam diri sendiri begitu sangat mencintai dirinya bersama mendiang sang mama tercinta.
__ADS_1