
Sementara itu, di tempat lain dengan seorang pria muda yang sedang membahas perihal hubungan pribadi antara dia dengan seorang wanita yang telah menghancurkan dan, mematahkan seluruh napasnya karena terlalu percaya dengan trik sampai harus terjebak pada suatu hubungan yang tidak sehat.
"Apa kau yakin dengan semua keputusan yang diambil olehmu, Sam?" Axel sang asisten yang juga sekaligus sahabat memberi pertanyaan.
Hal tersebut membuat Samuel Rajendra Nasution dengan tegas pada keputusan yang diambil, tanpa pernah sedikit menyesal di kemudian karena dia sangat menginginkan kehancuran untuk wanita itu, "aku tidak pernah menyesal dengan keputusan yang ku' ambil, Xel! Apa yang dilakukan oleh wanita itu benar-benar sangat fatal. Dia harus merasakan bagaimana rasanya menjadi, seperti diriku yang tidak akan pernah bisa merasakan kembali cintaku!"
"Apa itu artinya kau benar-benar melepaskan masa lalumu, Sam?"
"Selebihnya aku begitu sangat ingin melihat dia bahagia bersama, orang yang mencintainya dan orang itu harus lebih setia. Tidak seperti diriku yang bisa terjebak rayuan maut seseorang." Sambil memukul dadanya sendiri, pria muda itu tidak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba meluruh.
Luka hati yang dia torehkan telah memberinya banyak pelajaran berharga. Bahwa suatu hubungan memanglah diperlukan sebuah kepercayaan dan saling menjaga diri masing-masing. Namun, semuanya sudah telanjur dan semua kisah Samuel dengan Araela telah usia, bahkan dirinya benar-benar telah ikhlas melepaskan cinta pertama dan cinta terakhir yang kini menjadi seorang pria berhati dingin.
__ADS_1
"Lalu selanjutnya kau ingin apa dan bagaimana?" tanya Axel yang membuat lamunan Samuel seketika buyar dan terhenyak kaget.
"Buatkan aku sebuah surat perjanjian pra-nikah! Dan juga sampaikan permintaanku, untuk membuat pertemuan dengan orang itu!" titah Samuel dingin.
"Hah! Kau tidak salah makan, Sam? Untuk apa kau menikahi wanita licik macam belutan sepertinya?"
"Menikahinya tidak harus butuh alasan yang logis! Tidak perlu banyak tanya semua hal tentangku! Lakukan saja apa yang baru saja ku' perintahkan!" tegas Samuel yang dengan nada dinginnya.
Setelah menghubungi pihak sana mereka pun bertemu dengan seorang pria baya, mengajukan pertanyaan tentang tujuannya meminta bertemu.
"Apa yang membuatmu ingin bertemu denganku, Anak Muda?"
__ADS_1
Enggan menjawab pertanyaan, justru pria muda itu menyodorkan sebuah kertas surat perjanjian pra-nikah dan membuat Bastian, membeliak kedua mata melihat beberapa poin di dalam surat tersebut.
"Kau tidak salah mengajukan ini padaku, Anak Muda?"
"Apa ada yang salah dengan isi surat perjanjian itu? Bukankah sama saja aku meminta izin atas putrimu itu, Om?"
"Sejujurnya tidak ada yang salah dengan isi suratmu, tapi apa kau sangat yakin dengan keputusan diambil olehmu? Bukankah kau sangat membenci anak nakal itu?"
"Membencinya atau tidak! Itu bukan urusanmu, Om. Namun, saat dia telah menjadi istriku ... kau sebagai ayahnya tidak boleh mencampuri urusan pribadinya."
Bastian semakin kagum dengan keberanian di dalam diri, seorang pria muda yang pernah dihancurkan oleh putrinya sendiri. Meskipun sedikit tidak rela melepaskannya tapi untuk kebaikkan, serta berjaga-jaga pria baya itu pun setuju menikahkan sang putri dipertemuan mereka secara langsung. Bahkan dia tidak menyadari alasan lain mengapa pria muda itu meminta izin atas hak putrinya.
__ADS_1