
Deg —
“Bagaimana ibu, bisa mengetahui tentang hatiku, yang begitu sangat mencintainya?” tanya Morgan penasaran dengan tebakan sang ibunda.
“Sudah terbaca dari gestur tubuhmu, Sayang. Lagipula apa yang kamu jalani sekarang, saat itu juga hatimu sendiri merasakan luka itu.”
Suara lenguhan berasal dari brankar, terdengar langsung ketiganya, tanpa banyak kata Morgan langsung, memencet sebuah tombol yang berada disekitar ruangan itu, untuk memanggil dokter mau pun perawat agar memeriksakan kondisi pasiennya.
“Aku ada, dimana ini?” sahutnya lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Morgan dan ibundanya.
“Kamu ada di rumah sakit, Sayang,” sahut ibunda dengan penuh kasih sayang.
“Ibu, maaf a —”
“Jangan buat dirimu merasa terbebani dengan pernikahanmu ini, Sayang. Seharusnya aku yang meminta maaf, karena sudah membawamu ke dalam kehidupan pribadi Prasetya.”
Menggeleng lemah, istri Prasetya telah menerima garis takdir jodoh, yang telah digariskan dengan lapang dada. Namun, hatinya begitu terluka ketika pria dicintainya diam-diam, merenggut secara paksa kehormatan yang selama dia jaga untuk pria dicintainya itu sendiri.
“Jangan mengulang kembali apa yang kamu lakukan. Bisa?”
“Maaf, Bu.”
Semenjak kejadian itu, wanita yang dicintai Morgan lebih banyak menghabiskan waktu, dengan sendiri tanpa pernah sedikit pun menceritakan permasalahan sedang dihadapinya.
Puncaknya sebulan dari kejadian itu. Morgan tiba-tiba mendapati raut wajah kakak ipar sangat pucat pasi, tapi wanita itu begitu pintar menyembunyikan sesuatu yang hanya dirasakan oleh dirinya, sampai dimana sang kakak ipar pingsan didapur dan terpaksa membawa kembali ke rumah sakit, untuk memastikan keadaan tengah dialami langsung oleh wanita tersebut.
Begitu sampai di rumah sakit, dengan setengah berlari sembari menggendong tubuh wanita dicintainya, dan pria itu meletakkan tubuh lemah tak berdaya di atas brankar.
“Maaf, Pak. Dimohon untuk Anda mengurus administrasi terlebih dahulu.”
Enggan membalas ucapan, dengan jalannya terlihat buru-buru. Morgan menghampiri bagian administrasi untuk melakukan yang diminta oleh perawat tersebut, dan saat ia sedang mengarahkan kakinya ke tempat sang kakak ipar di rawat.
Alangkah terkejutnya, ketika mendapat sang kakak berada di rumah sakit yang sama, dengan seseorang wanita terlihat sangat familier dari gestur tubuh ramping itu.
Sialan! Bre’ngsek! Inikah yang selama ini kau lakukan kak? Aku benar-benar kecewa dengan sikapmu. Kau sendiri yang merenggut mahkotanya, tanpa merasa berdosa dan bersalah tiba-tiba kau mempermainkan hati wanita yang kucintai. Aku tak akan pernah memaafkanmu kak. Kau benar-benar bajiingan.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar rawat kakak iparnya, masih tetap berdiri pria itu mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang, dan memberi tugas menyelidiki kegiatan yang selama ini dilakukan oleh kakaknya sendiri.
“Cari tahu apa yang selama ini dilakukan oleh kakakku. Ku-tunggu laporanmu sampai kau bisa mendapatkan informasi tentangnya.”
Bersamaan itu seorang dokter mengajaknya ke tempat ruangan pribadi, untuk membicarakan hal yang cukup serius.
Sesampainya didalam ruangan tersebut, dokter yang menangani kakak ipar memberikan, ucapan selamat tak terduga kepada dirinya.
“Maaf, dok. Aku bukan ayah bayi yang dikandungnya, dan sebaliknya aku adalah adik iparnya. Bagaimana kondisi kakakku, dok?”
“Ini yang ingin saya bahas dengan Anda tuan.”
“Aku ingin mengetahui lebih jelas tentang kondisi kakakku.” Menitah dokter tersebut dengan raut wajah yang begitu sangat datar.
Dokter yang menangani kakak iparnya menjelaskan kondisi asli, dan hal tersebut membuat pria itu terkejut bukan, ketika mengetahui sebuah kenyataan bahwa istri Prasetya Gayatri Smith mempunyai sebuah penyakit yang mematikan, ditengah-tengah kabar bahagia menimpa kedua orang tuanya.
“Kau tak bercanda dengan bualanmu itu, dok?”
“Semua data yang diperiksa akurat, tuan. Tak mungkin saya salah memberi diagnosa untuk pasien saya sendiri.”
Beberapa bulan kemudian, bertepatan dirinya mendapat fitnahan dari kakaknya sendiri, yang saat ini ia sedang menemani sang kakak ipar melahirkan keturunan asli Smith.
Karena kakaknya lebih memilih menampung anak kandung dari sahabatnya, dibandingkan dengan istri sah yang selama ini tak dianggap ada.
Kejadian itu bersamaan setelah ia mengantarkan sang kakak ipar ke rumah sakit, dan tak disangka-sangka justru sang suami kakak iparnya menikah siri, dengan wanita yang tak lain cinta pertamanya.
Dari kejadian itulah seorang anak yang tak diakui terlahir ke dunia, dan sialnya anak itu mendapat julukan pembawa sial yang disematkan, siapa lagi kalau bukan Mayang yang menghasut pikiran Prasetya Gayatri Smith.
Semua luka dan rasa sakit mampu dipendam sendiri oleh istri sah Prasetya, dan puncaknya ketika istri pertamanya meregang nyawa karena penyakit lama, datang menggerogoti tubuh rampingnya sampai membuat wanita itu tertidur dengan damai, bersama dengan luka yang dibawa ke tempat baru.
*Akan tetapi, kenyataan yang ada justru harus diterima oleh Araela Ayudia Gayatri Smith, saat itu harus menyaksikan sang papa lebih memilih istri kedua dinikahi secara sah dan hukum.
Karena pada waktu itu Prasetya mendapat desakan dari Mayang yang memintanya menikah dengan secara sah dan hukum*.
Sampai kejadian fitnahan terulang kembali, dan membuat Morgan memboyong bayi mungilnya bersembunyi dari kejaran media, untuk menghindari tatapan kebencian yang menimpa cucu kandung dari Gunawan Gayatri Smith.
__ADS_1
“Pantas saja dulu dia enggan mengantarkan mama ke tempat peristirahatan terakhir, hanya karena dia lebih memilih menikahi wanita ular itu benar begitu, Om?”
“Sekali lagi kata maaf pun, tak akan pernah bisa menyembuhkan luka hatimu, Baby.”
“Sudahlah tak perlu meminta maaf karena aku bisa memahamimu, tapi rasa sakit ini tak akan pernah bisa hilang dari hatiku, Om.”
Keduanya pun kembali berpelukan, dengan Morgan yang terlalu lama menahan diri, membiarkan wanita ular itu bermain sesuka hati. Namun, sekarang tak akan pernah ia biarkan hal apa pun kembali terjadi.
“Baby kalau kamu mau marah, silakan marah denganku karena aku tak ingin, kamu marah dengan keadaanmu yang sekarang, dan juga itu bukan kesalahan mendiang mamamu. Namun, takdir itu sudah digariskan untukmu karena aku sangat yakin kamu bisa berlapang dada menerima semua ini.”
“Ya, Om.” Bersamaan itu, ia menanyakan tujuan mendiang mama dan juga neneknya, yang memintanya menerima tali perjodohan itu. “Lalu apa kamu tahu kalau aku sudah lama dijodohkan oleh mereka, Om?”
“Aku baru-baru mengetahui perjodohanmu, dan itu atas desakan dari ayah. Apa kamu keberatan?”
“Jika itu memang terbaik untukku, dengan senang hati aku akan menerimanya, tapi ngomong-ngomong apa kamu tahu orangnya, Om?”
“Sayang sekali, aku tak tahu dengan jelas, orang yang akan dijodohkan denganmu, Baby.” Namun, batinnya merasa bersalah karena harus membohongi bayi mungilnya.
.
.
.
.
.
Karena dendam pada seorang pria yang di yakini merebut wanita pujaannya sejak kecil, Alvino Maladeva akhirnya berencana membalas dendam pada pria itu melalui keluarga tersayang pria tersebut.
Syifana Mahendra, gadis lugu berusia delapan belas tahun yang memutuskan menerima pinangan kekasih yang baru saja ditemui olehnya. Awalnya syifa mengira laki-laki itu tulus mencintainya hingga setelah menikah dirinya justru mengetahui bahwa ia hanya di jadikan alat balas dendam pada kakak satu-satunya.
Lalu apakah Syifana akan terus bertahan dengan rumah tangga yang berlandaskan balas dendam tersebut? Ataukah justru pergi melarikan diri dari kekejaman suaminya sendiri?
__ADS_1