Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Ara Yang Mulai Bucin


__ADS_3

“Nakal.” Senyum Rewindra merekah, ketika mengetahui jika istri kecilnya itu begitu berani mencuri kecupan di bibir, hingga pria itu membalas serangan cinta dengan membalik keadaan, bahkan ia tak ingin kalah dari apa yang dilakukan oleh gadis tersebut. “Siapa yang mengajarimu bersikap agresif seperti ini, hm? Bukankah istri barbarku agak lain dari yang lain, tetapi itu tak akan bisa mengalihkan rasa cemburuku padanya!” Usai membalas perbuatan sang istri, pria itu mencurahkan rasa cemburu kepada David, meskipun di antara mereka tak ada hubungan apa pun selain sepupu.


“Heleh, bukankah kau sendiri yang mengajariku seperti ini, Bee? Aku menjadi seperti juga karenamu!” Ara mencebik kesal. “Aku dan David tak terlalu dekat, kami hanya membahas masalah kakekku! Jadi, duda meessum ... bisakah kau tak meragukan perasaanku? Apa masih tak memahami semua sikapku, di hadapanmu masih belum mengerti juga, semua yang kulakukan berlandaskan dari perasaan tumbuh di sini!” Telunjuk gadis itu mengarah ke dadanya sendiri, hingga pernyataan terucap dari sang istri membuat Rewindra bungkam.


“Sebagai seseorang yang dijodohkan sejak lama, aku tak mungkin mengkhianatimu! Aku juga bukanlah orang yang serakah maupun mengharapkan cinta, jadi misalkan kau memang ditakdirkan untuk menjadi bagian kehidupanku. Aku tak meminta lebih dari apa pun selain setia kepada, satu pria dan tentu saja priaku hanyalah kau seorang!” lanjutnya tegas dengan nada yang begitu dingin.


Keduanya pun sama-sama bungkam, sampai terdengar suara perut keroncongan yang membuat, Rewindra meringis malu karena ketahuan menahan lapar.


“Bersihkan dirimu dulu, Bee! Aku akan memasak sebentar untuk kalian!” Nada lembut terkesan dingin memecahkan keheningan di antara mereka.

__ADS_1


“Suamimu ini mau makan kamu dulu, Hon.” Rewindra cemberut.


“Jangan cemberut begitu, nanti kamu bisa memakanku sebagai penutupnya.” Ara menawari yang disambut kecupan di bibir, hingga kecupan lama mendarat di dahi gadis tersebut.


“Setelah ini kamu tak akan bisa lari di bawah kungkunganku!”


Tak lama kemudian terdengar dentingan sendok dan piring beradu, sebuah keluarga kecil begitu khidmat menikmati hidangan makan malam, hingga lima belas menit berlalu Rolando membuka obrolan di hadapan kedua orang tuanya.


“Kamu suka dengan kado itu, Sayang?”

__ADS_1


“Aku menyukainya, Ma!” Terlihat begitu bahagia di wajah pria kecil yang tak henti tersenyum-senyum sendiri, hingga lontaran tanya terucap di bibir Rewindra yang sedari tadi diam menyimak.


“Kado apa yang sedang kalian bahas?”


Rolando bergeming enggan menjawab pertanyaan dari daddynya, membuat seorang Rewindra merajuk bagai anak kecil, pria itu tak diizinkan mengetahui pembahasan antara ibu — anak tersebut.


“Ck, kalian ini benar-benar ....” Memutuskan beranjak dari tempat duduk, sembari bersungut-sungut dengan bibir mengerucut kesal. “Jangan lupa dengan penutup makan malamku, kutunggu kamu di sana!” Tak lupa pria itu mengingatkan kembali untuk jatah, penutup makanan yang telah disepakati bersama.


Tak lama kemudian gadis itu membahas perihal kado yang, baru saja diterima oleh pria kecil tersebut sedangkan di tempat lain suasana malam, mencekam seiring dengan alunan kesepian dirasakan oleh seorang wanita cantik.

__ADS_1


“Aku mau beberapa minggu ke depan segera persiapkan rencana itu!” Wanita itu menurunkan perintah, untuk memulai pada rencana yang seharusnya sejak awal dilakukan. “Buat kekacauan di hari spesial putranya dengan wanita penyakitan itu, aku mau putraku bisa memasuki kehidupan keluarga itu dan menyingkirkan lawanku!”



__ADS_2