
“Tidak apa-apa turun di sini?”
“Apa yang kau cemaskan?”
“Tidak ada! Aku, pamit!”
Membutuhkan lima belas menit berjalan kaki menuju gedung pencakar langit perkantoran.
Tidak berselang lama gadis itu sampai di kantor, tanpa memedulikan tatapan sinis serta gosip yang tengah membicarakan gadis dingin tersebut.
Sampai dia bertemu dengan salah satu rekan kerja yang kebetulan melintas. “Enggak nambah jatah prei.ne maning?”
Obrolan yang berbahasa jawa membuat keduanya saling merindu. Sampai gadis itu teringat dengan sarapan yang ditunggu-tunggu oleh duda mesum tersebut.
“Tapi, ojok sampek weruh sopo-sopo lek kamu.ne munggah ndek lantai paling atas gawe lift iku.” Niken yang mengetahui identitas Araela menyuruh rekannya untuk berhati-hati.
Mengingat di gedung kantor tersebut tidak ada yang mengetahui jika gadis itu merupakan istri sah dari seorang Rewindra Wiratama.
“Suwun sen katah! Ngapunten wes purun tak repoti, tapi iki enggak ono sen wero aku asli.ne sopo?”
__ADS_1
“Aman!”
Selang lima belas menit kemudian gadis itu masuk ke dalam kotak besi yang mengantarkannya di lantai paling atas. Sampailah Ara di depan ruangan bertuliskan nama sang CEO yang membuat asistennya terkejut melihat kedatangannya tiba-tiba.
“Selamat datang, —
“Sssstttt, diam! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Apa tuanmu ada di dalam?”
Louser mengangguk, tanpa berkata banyak dia mempersilakan sang nona muda masuk ke dalam ruangan tuannya, sampai membuat gadis itu terkejut melihat tingkah laku yang dilakukan oleh duda messum tersebut.
Tamatlah riwayatmu, Tuan! Aduh bagaimana caramu menghadapi kemarahan istri kecilmu itu? Kenapa mesti harus menonton live para jaʼlangmu itu? Aku kira sudah tobat, tapi ternyata sama aja jadi tomat!
Tentang suasana di dalam ruangannya yang mendadak menjadi dingin, padahal dia sudah mengatur sendiri ukuran udara dari pendingin ruangan.
“Kenapa malah semakin dingin di ruanganku, Ser?”
Menghampiri duda mesum tersebut untuk memberinya pelajaran, dan tidak lupa menyuruh sang asisten keluar dari ruangan.
Ketika pria itu mengangkat wajah mendadak pucat pasi sambil menelan ludah kasar tanpa berani membuka suara.
__ADS_1
Mampus aku ketahuan! Louser, sialan! Kenapa tidak bilang jika istriku datang kemari? Huh, jatah si belalai gajah dipertaruhkan.
Araela yang mengarahkan tatapan dingin tanpa bersuara gadis itu mendaratkan bokong dipangkuan sang suami sambil, memancing titik kelemahan di dalam diri duda messum yang membuat pria itu mendessah nikmat.
Bahkan salah satu tangan gadis itu mengambil ponsel dan melempar ke sembarang arah, sehingga terdengar suara pecahan yang berasal dari ponsel berlogo apel tergigit dan membuat pria itu pasrah.
Sampai akhirnya terdengar suara pekik yang terucap dari bibirnya. “Ampun, Honey! Jangan diremat terlalu kencang, nan —”
Kembali meluʼmat bibir duda messum dengan salah satu tangannya tidak berhenti meremat-remat si belalai gajah tanpa memberi ampun.
Selang beberapa menit kemudian setelah memberi pancingan di titik kelemahan, sebuah ultimatum terucap dari bibir gadis itu hingga membuat Rewindra terkejut mendengarnya.
“Honey!” Rewindra merengek dengan wajah melasnya. Namun, gadis itu sama sekali tidak mempan dengan raut wajah sang suami.
“Pilihan ada ditanganmu!” tegasnya tanpa bisa dibantah.
“Apakah hukumanku tidak bisa dinegoisasi, Hon?”
“Aku tinggal menambahnya!”
__ADS_1