Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Alasan Dibalik Pria Bermasker, Aora


__ADS_3

Pertemuan Makan malam sudah lama berakhir. Baik Hotaru dan Tsuyu, serta Hisui dan Kazumi sudah lama meninggalkan restaurant, dan di jemput oleh beberapa pengawal pribadi mereka


Sedangkan Mirai dan Aora, kini tengah sibuk mengurus beberapa hal. Merekapun berencana pulang, namun sesaat mereka hendak melangkahkan kaki keluar dari restaurant, tiba-tiba saja hujan lebat melanda


"Di semua hari, kenapa harus hari ini hujan turun? Kenapa tidak setelah aku selesai mengurus semua, dan mendapat hari liburku? " keluh Aora, mata merah kecoklatan hanya memandang bosan langit yang mendung.


Sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana ia hendak masuk kembali kerestaurant.


"Aku tebak, kau pasti ingin mengabiskan waktu di hari berhujan dengan tidur sepanjang hari kan? " ucap Mirai, ia pun melihat Aora mulai beranjak dari sisinya


"Tunggu, kau mau kemana? " tanya Mirai sambil menghentikan langkah Aora, dengan memegang lengan pria berambut perak di sampingnya


Aora hanya menunjukkan arah restaurant dengan matanya, Mirai hanya mendengus sambil memutar bola matanya


" Kau tidak lihat? Para pelayan restaurant sudah hendak berkemas pulang, jika kita masuk lagi mereka tidak bisa menyelesaikan tugas mereka" ucap Mirai sambil menatap pria tinggi di depannya


Aora hanya menatap gadis setinggi dadanya itu, ia tidak menyangka gadis berprilaku barbar dan berwajah dingin seperti Mirai begitu peka dengan lingkungan sekitar


"Lalu, kau mau kita bagaimana? " ucap Aora, ia melihat air jatuh begitu derasnya di depannya kini


" Em.... Ano.... Permisi, Tuan Aora. Restaurant kami menyediakan payung untuk pelanggan kami" ucap seorang Pramusaji ke Aora, lalu memberikan sebuah payung untuk pria itu dan pergi


"T... Tunggu... Nona... Apa kau masih...... " Mirai hendak meminta payung lebih, namun sang pramusaji sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu


Aora pun melepas rompi militernya, lalu ia kenakan ke tubuh Mirai. Bagaimanapun, dengan dress setipis itu, tentu Mirai akan kedinginan di tengah hujan. Sedangkan Mirai hanya menatap Aora sambil tertegun


" Sudahlah... Satu saja sudah cukup. Kau tidak ingin mengganggu waktu pulang mereka bukan? " ucap Aora sambil membuka payung hitam di tangannya


" Eh.... Apa ini muat untuk dua orang? " ucap Mirai, ia melihat ukuran payung tidak begitu besar ataupun kecil


" Untuk itu, kau harus lebih mendekat padaku" ucap Aora sambil menarik tangan Mirai kepelukannya. Tangan Aora memeluk lekat bahu kecil Mirai


......................


Hening.....


Di tengah perjalanan, hanya hentakan kaki dan gemericik air yang terdengar. Mirai sesekali mencuri pandang ke arah pria bermasker disampingnya.


Hujan yang lebat membuat cipratan air mengenai sedikit bahu Mirai, meski Aora mencoba membagi sisi payung lebih condong ke Mirai, namun laki-laki yang memiliki tinggi kisaran 189 cm itu susah untuk mengatur posisinya.


Mirai hanyalah seorang gadis dengan tinggi 165, bagaimanapun cipratan air pasti mengenai bahunya


"Mendekatlah..... Bahumu terkena Air" ucap Aora sambil menarik Mirai lebih mendekat


Mirai sadar, hampir setengah badan Aora basah kuyup, namun ia justru mengkhawatirkannya karena terkena sedikit cipratan air


"Kenapa kita tidak berhenti di sana saja" ucap Mirai sambil menarik tangan Aora


Mereka akhirnya berhenti di sebuah paviliun di tengah taman. Mirai yang kebasahan mencoba menepuk-bepuk pakaiannya dengan sapu tangan miliknya


"Ini... Pakailah.... Keringkan tubuhmu" ucap Mirai memberikan sapu tangannya ke Aora.


Aora membuka masker yang menutup wajahnya, lalu menyeka wajah basahnya dengan sapu tangan Mirai.


Mirai hanya tertegun melihat pemandangan di sampingnya, laki-laki tinggi tegap, dengan rambut abu-abu yang sedikit basah, serta wajah tampan tanpa cela


Mirai pun memalingkan wajahnya, meski sudah pernah melihat wajah Aora, namun ia masih belum terbiasa melihat Aora tanpa maskernya. Mirai yang merasa canggung serta salah tingkah pun hanya bisa berdehem


"Ehem... Ehem.... Jika kau sudah selesai, kembalikan sapu tanganku. Aku membelinya sangat mahal kemarin" ucap Mirai mengulurkan tangannya, namun pandangannya masih ia alihkan ke tempat lain


Aora hanya menyipitkan matanya, baginya Mirai itu pelit. Ia pun memberikan sapu tangan itu ke pemiliknya

__ADS_1


" Aku Kira kau menyulamnya sendiri, pantas saja sulamannya sangat rapi, ternyata kau membelinya" ucap Aora, sambil menyerahkan saputangan dengan sulaman bunga lavender berwarna ungu


"Jika seorang Mirai menyulam, dunia mungkin sudah terbalik" ucap Mirai merampas kasar saputangan dari Aora


Hening kembali.......


Diikuti dengan suasana canggung. Baik Aora dan Mirai, mereka sama-sama bukan tipe orang yang mudah berkomunikasi atau mencari topik obrolan di waktu seperti ini.


Merasa suasana menjadi semakin canggung, Mirai memberanikan diri bertanya ke Aora, tentang apa yang membuatnya penasaran selama ini


"Em..... Aora.... Apa aku boleh menanyakan sesuatu? ...... Kenapa kau mengenakan masker untuk menutupi wajahmu? " tanya Mirai sambil melihat Aora


Aora hanya terdiam, sesekali menatap langit yang masih saja menangis di depannya. Merasa Aora tidak menjawab pertanyaannya, Mirai pun hendak menghentikan rasa penasarannya dengan tidak memaksa Aora menceritakannya


" Jika kau keberatan lupakan saja, aku tidak.... " ucapan Mirai terpotong, dengan suara berat Aora


" Karena.... Aku ingin hidupku tidak diingat atau dikenang sebagai penerus clan hebat Sora, aku hanya ingin menjadi diriku. Aora..... Hanya itu" ucap Aora sambil terus menatap langit malam kelabu, Mirai kini bahkan bisa melihat senyum di wajah Aora


"Apa maksudmu? " ucap Mirai yang masih belum mengerti maksud jawaban Aora itu


" Emmm..... Dari mana aku harus jelaskan ya?" ucap Aora sambil menggaruk kepalanya, tanda ia bingung


"Kau pasti dudah melihat foto saudara kembarku Yora, bukan? " ucap Aora sambil menatap Mirai, sementara Mirai berusaha menyembunyikan mimik wajah terkejutnya. Tiba-tiba saja Aora mengungkit nama Yora, yang tidak lain adalah Leader Mirai, Xio


" Bagi 3 Clan bangsawan Sora, Clan Mataharilah yang selalu memegang kekuasaan Kepala Militer tertinggi di Sora. Oleh sebab itu, sebagai putra sekaligus pewaris kekuatan Clan dari seorang Kepala Desa waktu itu, orang-orang memandangku dengan spesial dan memberi harapan tinggi kepadaku


Aku memiliki penampilan yang sama persis dengan Yora karena kami saudara kembar, meski rambut dan warna mata kami berbeda. Baik kemampuan ataupun han lain, kami memiliki persamaan persis


Namun, orang-orang justru lebih memujiku serta lebih mengakuiku dari saudaraku" ucap Aora


Mirai hanya mendengar cerita Aora, ia juga penasaran orang seperti apa Xio dulu


Aora menggeleng, ia terus saja mengingat kenangan masa kecilnya dulu


" Kami tidak akan bermusuhan hanya karena berebut posisi atau karena pengakuan orang lain. Kau tahu apa yang membedakanku dengan Yora? " ucap Aora sambil menatap Mirai


" Yora adalah anak yang pandai serta peka terhadap lingkungan, sama sepertimu Mirai. Jika dibandingkan aku, dia jauh lebih cocok memimpin desa Sora, selain kepekaanya dia juga memiliki hati yang lembut. Itu lah yang aku lihat, setidaknya ketika kami kecil" ucap Aora


Matanya tampak bergetar, entah menahan emosinya atau karena hal lain. Aora pun segera menutup matanya sejenak, dan mencoba mengendalikan emosinya


"Sedangkan aku, aku hanya ingin hal-hal sederhana mengelilingiku. Aku ingin menghabiskan hari yang damai selepas bekerja, tidur di hari liburku dan hal-hal biasa seperti orang biasa


Kau tahu, Mirai.....


Sejak aku kecil aku bahkan sudah memiliki rencana masa depan....... Jika sudah besar nanti, aku akan menikahi wanita biasa, tidak terlalu cantik ataupun jelek. Memiliki dua orang anak, perempuan atau laki-laki tidak menjadi masalah.......


Setelah aku pensiun... Aku ingin tinggal dengan istriku sambil melihat anak-anakku tumbuh dewasa dan membina keluarga masing-masing....


Hanya itu harapanku......


Aku ingin hidup hanya untuk hari ini, tanpa beban. Dan meski harus melindungi desa, aku ingin melakukannya tanpa orang yang tahu ataupun sadar " ucap Aora


Mirai hanya terkikik, ia merasa mengerti maksud Aora. Bagaimanapun, Aora benar-benar tipe pria pemalas yang hanya menginginkan waktu damai dengan tiduran


" Itu memang menggambarkan dirimu, Aora


Dan aku koreksi wanita biasa yang tidak terlalu cantik, aku tidak termasuk kriteria itu kan? " ucap Mirai masih tertawa


"Benar....... Kau sangat cantik Mirai..... Bahkan kini lebih cantik dengan gaun itu, aku sempat menyesal memberinya, memikirkan kau juga tampak cantik di depan pria lain membuatku sedikit kesal" ucap Aora dengan senyuman, yang membuat Mirai tertegun, ternyata Aora memperhatikannya


Aora pun menggosok rambut Mirai pelan, dan hanya diterima dengan iklas oleh Mirai. Pandangan Aora kembali ia arahkan ke depan

__ADS_1


"Oleh sebab itu, aku menutupi sebagian wajahku sejak usiaku 5 tahun. Aku tidak ingin orang-orang mengenaliku, dan sebisa mungkin tidak sadar aku berada di sekitar mereka.


Aku pikir dengan menutup setengah wajahku, tidak akan ada yang mempedulikanku


Selain itu........ " ucapan Aora terhenti sejenak, kini ia hanya menunduk, sambil menatap rintikan hujan yang jatuh ke tanah


" Selain itu..? "ucap Mirai


" Aku hanya ingin orang-orang lebih memperhatikan Yora. Aku harap dialah yang mereka puji, dan mereka percayai kemampuannya terlepas ia mewarisi Clan mana


Aku hanya ingin menjadi bayangan Yora, dan membantunya sebisaku dari balik layar untuk melindungi Sora" ucap Aora pelan


Mirai mengerti dan ia paham betul perasaan Aora. Ia ingin menanyakan kenapa mereka menjadi seperti sekarang, namun Mirai enggan melanjutkan


Jika di teruskan lagi, mungkin itu akan menyakiti Aora dengan kenagan masa lalunya. Sekarang Mirai mengerti, alasan Aora menutup setengah wajahnya, alasan yang menurutnya sangat mengesankan antara ia dan saudara kembarnya, Yora


Mirai juga sadar, jika Aora hendak mencari dimana keberadaan Xio, bisa saja ia membuat selebaran dengan bantuan wajah mirip mereka, meski harus merubah sedikit detailnya. Meski Yora meninggalkan desa ketika ia kecil, namun jika melihat wajah Aora, mungkin tim pencari bisa menerka penampilan Yora versi dewasa dengan bantuan Aora


Hingga kini, belum ada yang bisa membuat sketsa buronan Xio a.k.a Yora dengan detail, meski semua itu campur tangan Zou.


Selebaran buronan Xio benar-benar tidak bisa menggambarkan fitur wajahnya dengan benar, sehingga Xio masih leluasa berpergian, bahkan menyusup ke Sora


Mungkinkah Aora sengaja menjaga identitas saudaranya kembarnya, Yora?


Mirai menepuk pundak Aora, dan sedikit menyentuk wajah pria itu


"Setidaknya, akulah yang beruntung dapat melihat wajahmu tanpa masker " sentuhan lembut Mirai berubah menjadi cubitan di pipi Aora


Meski Mirai harus berjijit untuk menggapai pipi Aora


"Hentikan Mirai, kau menyakitiku" ucap Aora sambil melepas cubita Mirai. Ia lantas menggosok pipinya yang sakit


"Maaf.. Maaf.... Aku gemas... Melihatmu" ucap Mirai


Mereka pun baru sadar, hujan sudah mereda. Aora pun mengenggam tangan dingin Mirai lalu menariknya untuk berjalan cepat


"Jika terus di sini, kau akan jatuh sakit. Aku akan mengantarmu pulang" ucap Aora


"Bukankah apartemenku jauh dari rumahmu? Pulanglah Aora, aku bisa pulang sendiri" ucap Mirai


Karena Aora sudah pindah ke rumah lamanya, ia tidak bisa melihat Mirai setiap pagi atau berjalan pulang bersama lagi. Apalagi dengan jadwal super sibuk Aora kini


"Aku akan tidur nyenyak jika melihatmu pulang tepat di depan apartemen, jadi jangan melarangku. Ini semua aku lakukan untu tidur nyenyak malam ini" ucap Aora memaksa


Mirai hanya tersenyum kecil, ia membiarkan tangannya di gengam pria yang di sampingnya. Bahkan Mirai berharap, waktu berjalan lambat sekarang


Aku harap... Waktu terhenti di sini...... Kenyataan bahwa aku bukanlah wanita biasa seperti yang kau harapkan...... Aku tidak pernah memiliki hidup yang biasa Aora...


Jika kau mengetahui kebohonganku, akankah kau masih menggengam tanganku seerat ini?


Senyum Mirai pun lenyap, diganti dengan tatapan khawatirnya. Khawatir jika ia tidak bisa merasakan momen ini lagi di masa depan


...----------------...


Emmmm..... Akhirnya tembus 100 chapter.... Author gak tau ada apa tidak reader yang nyampai baca hingga chapter ini..... Heheh


Bagaimanapun mohon tetap dukung Author...... Mohon juga tinggalkan jejak.....


^^^Cium hangat,^^^


^^^Yuki Mirai^^^

__ADS_1


__ADS_2