
Flash Back : Sesaat sebelum Yora dan Aora menyusup ke markas Cops Awan Merah.
Aora sudah mengenakan pakaian tahannya, seperti yang dikatakan Itasuke. Ia, Yora dan Yuri sudah bersiap pergi menuju markas Cops Merah di gurun Neraka. Namun sebelum pergi, Aora menyerahkan lencana militernya kepada Itasuke
"Apa ini? Kenapa kapten memberiku lencana ini? "
" Aku memang belum bisa mempercayaimu. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Meskipun kau berasal dari Cops Awan Merah. Kau tetaplah bagian dari militer Sora. Untuk itu, aku ingin menitipkan pesanku padamu! "
" Sebuah pesan? " dengan ragu, Itasuke mengambil lencana militer Aora. Alisnya masih mengkerut -heran. Apa kiranya pesan yang hendak Aora sampaikan? Dan untuk siapa?
Seolah menjawab apa yang ada dipikiran Itasuke, Aora mulai menjelaskan untuk siapa pesan itu.
" Kau pasti mengenal orang tua paling cerewet di Sora, bukan? Ketua Zen, dia adalah guru yang paling aku hormati. Aku ingin kau menyampaikan pesanku padanya. " ucap Aora dengan seulas senyum dari balik maskernya.
Senyum Aora perlahan menghilang. Bersamaan dengan sorot mata serius yang menghiasi wajahnya.
" Katakan padanya. Kekacauan ini mungkin tidak akan berahir hanya dengan mengetahui rahasia Cops Awan Merah atau Tanuki. Aku merasakan, sesuatu yang lebih kuat terlibat di belakang semua kejadian ini.
Legenda mengenai Nue dan sosok bernama Kurasu. Begitu juga dengan emoat batu berkekuatan sihir yang dijuluki emoat batu pilar penjaga lagit. Aku yakin semua ini memiliki keterkaitan. Dan bisa saja Sora berada di dalam situasi berbahaya.
Untuk itu, aku ingin kau mengatakan pada guruku untuk melindungi Sora, bahkan dalam keadaan paling buruk! "
Aora mulai mengulurkan pergelangan tangannya. Bermaksud meminta bantuan lain dari Itasuke.
" Itasuke, bisakah kau menanamkan teknik sihir mata-mata milikmu ke dalam tubuhku? Dengan begitu, kau akan memiliki alasan yang jelas dan pihak Sora akan mempercayai semua ucapanmu!
Dengan bantuan sihirmu, kau akan mampu melihat apapun yang terjadi padaku selama penyusupan ini. Apapun yang kau ketahui, sampaikan semua informasi penting itu pada Ketua Zen di Sora. Aku mohon padamu! "
Mendengar permintaan Aora, Itasuke terdiam sejenak. Ia mengepal kuat tangannya. Sebuah simbol melingkar terlihat jelas di jarinya. Itu adalah simbol kontrak kutukan milik Tanuki.
" Kenapa aku harus melakukan hal yang kau katakan?! Aku membantu kalian sejauh ini hanya untuk melancarkan pembalasan dendamku pada Tanuki. Aku pikir dengan membantu kalian mengungkap rahasia busuknya, pria licik itu bisa diadili.
Tapi aku tidak berniat menyerahkan nyawaku sepenuhnya! " ucap Itasuke sambil membuang wajah.
" Aku mungkin sudah melakukan sebuah pengkhianatan pada oraganisasiku. Tapi jika aku menggunakan sihir spesialku tanpa perintah Cops Awan Merah, TuanTanuki akan cepat mengetahui pembelotanku. Seperti yang kalian lihat, aku masih terikat kontrak kutukan miliknya. Jika itu terjadi, nyawakulah yang menjadi taruhan! "
" Itasuke, kau- "
Aora tidak punya pilihan. Ia pun tidak bisa memaksa Itasuke untuk masuk ke dalam rencananya yang berbahaya.
" Kau benar! Kau pernah mengatakan bahwa kau membenci sitem negeri Sora. Kami tidak akan memaksamu untuk membantu kami lagi, Itasuke. Kau sudah cukup membantu kami sejauh ini. " ucap Yuri.
" Aora! Yora! Ayo, kita harus segera bergegas! "
Meski dengan wajah sedikit kecewa, Yuri pun mengajak Yora dan Aora untuk segera bergegas.
Raut kecewa Yuri membuat Itasuke sedikit goyah. Untuk pertama kalinya, Itasuke mungkin akan mengabaikan prinsip hidupnya yang selama ini ia jalani. Sambil mengepalkan tangannya, Itasuke mulai mengumoulkan keberaniannya
" Tunggu! " ucapan Itasuke membuat langkah Yuri terhenti.
"Baiklah! Aku akan mencobanya! Kapten Aora cepat kau ulurkan tanganmu! " Aora terpaku sejenak. Ia heran kenapa Itasuke berubah pikiran secepat itu?
__ADS_1
"Tunggu apa lagi? Ulurkan tanganmu sebelum aku berubah pikiran!"
Itasuke akhirnya berubah pikiran. Ia kembali melirik ke arah Yuri, berbeda dengan sebelumnya, senyuman penuh harap memenuhi wajah gadis berambut merah itu.
"Terima Kasih Itasuke! Kau memang Sahabatku! " ucap Yuri Antusias.
" Karena itu, kau harus memperlakukanku dengan lebih baik, Yuri! "
Itasuke mulai menfaktifkan Gyokunya. Bersamaan dengan itu, segel di jarinya mengeluarkan cahaya merah pekat. Cahaya itu menandakan bahwa segala informasi mengenai sihir yang dikeluarkan Itasuke akan dikirim langsung ke pengawas Kontrak - Tanuki.
" Tapi, apa kau yakin kau akan baik-baik saja? " gumam Yuri dengan nada khawatir
" Aku melakukan semua ini, hanya karenamu, Yuri! "
Deg!
Kata-kata itu sukses membuat Yora berdecih sebal. Sementara Aora, hanya bisa menggelengkan kepala. Bahkan di saat genting seperti ini, ia masih sempat melihat drama kegidupan Itasuke.
" Aku akan memulainya! "
Sebuah simbol laba-laba tercipta di lenfan keduanya. Aora dengan simbol kecil, sementara di tangan Itasuke simbol laba-laba besar.
"Cara kerja sihir mata-mataku sederhana. Sama seperti induk laba-laba (laba-laba memiliki banyak mata) yang membuat jaring besar untuk memantau anak-anaknya. Seseorang yang aku tanami sihir tidak akan pernah lepas dari jangkauan 'jaring' miliku. Bahkan jika kau mati seklali pun!
Mulai sekarang, apa yang terjadi padamu, aku bisa meihat semuanya Kapten Aora! "
" Apa ini? Kenapa secepat itu berubah pikirannya? "
Aku sudah berjanji melindungi 'nya'. Karena itu aku berubah pikiran. " gumam Itasuke
" Meski dengan nyawamu sebagai taruhan? Wuah, Itasuke kau benar-benar laki-laki berperinsip! " puji Aora.
Namun tatapan Aora tidak perbah lepas dari Yora. Ia tahu, sejak kedatangan Itasuke, raut wajah Yora seperti terjebak didalam dunia lain.
" Dasar! Saudaraku memang bodoh! "
Flash Back Off
......................
Di sebuah ruang pengap dengan cahaya seadanya. Itasuke, dengan tangan diikat tengah di intrograsi oleh satuan devisi Intel dan Sensor di bawah komando anak buah Rou. Sementara itu, di ruang yang lain Zen dan Rou tampak memperhatikan jalannya intrograsi dari kaca satu arah ruangan itu.
Setelah menceritakan apa yang terjadi, Itasuke langsung dibawa ke devisi sensor untuk diintrograsi lebih lanjut.
"Apa kita bisa menpercayai orang itu? Apa yang dia katakan mengenai peperangan, bisakah kita mempercayainya? "
Rou sebagai kapten Devisi sensor tidak bisa mempercayai perkataan Itasuke begitu saja. Selain kebal dengan intrograsi pikiran - karena sebagaian besar anak buah Tanuki tidak memiliki emosi layaknya manusia- , nyatanya orang-orang yang memakai seragam Cops Awan Merah adalah prajurit palig loyal dengan tuannya.
"Tatto laba-laba di tangannya, menujukkan kesungguhan Itasuke. " ucap Zen tenang. Pandangannya tak pernah lepas dari pria berambut kuning pucat di depannya
" Apa maksud, Ketua? "
__ADS_1
" Rou, kau pasti pernah mendegar kontrak kutukan yang terjalin antara Tanuki dengan beberapa anak buahnya yang terpilih, kan? "
Rou hanya mengangguk pelan. Siapapun pernah mendegar, betapa mengerikannya kontrak kutukan Tanuki. Mereka yang menjalin janji kesetiaan, akan menyerahkan seluruh hidup, kebahagian bakhkan diri mereka pada Tanuki. Seluruh hidup mereka akan dikekang dan berada di bawah pengawasan ketat Tanuki. Tidak ada yang tahu, seperti apa pastinya hukuman jika seseorang melanggar janji sihir itu. Tapi yang pasti, mereka tidak bisa hidup atau menjalani kematian yang tenang jika berani mengkhianati Tanuki.
"Dia memiliki kontrak itu. Setahuku Itasuke, berasal dari panti asuhan sama sepertimu. Berbeda denganmu yang bertemu denganku. Anak malang itu justru bertemu dengan sahabatku, Tanuki.
Aku pernah sekali bertemu dengannya ketika kecil. Dia anak pendiam, tapi dari sorot matanya aku tahu dia anak yang baik. Sorot mata yang penuh kesedihan itu, sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya
Kemampuan menyembunyikan emosi serta ahli dalam memata-matai musuh menjadikan target yang Tanuki Sukai. Aku tidak menyangka, Itasuke masih hidup selama ini. Seharusnya ketika aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya, aku merawat dan membawanya di bawah asuhanku. "
Rou hanya menatap Zen dalam diam. Bukan hanya dirinya, ratusan anak tanpa orang tua telah Zen selamatkan. Setidaknya mereka beruntung bertemu Zen. Dengan uluran tangannya, anak-anak seperti Rou dapat mengenyam pendidikan akademi dan menjadi 'seseorang' di masa depan. Nampaknya, nasib terbalik dilalui anak-anak dibawah asuhan Tanuki.
" Tatto di tangannya menunjukan penggunaan sihir tanpa seijin Cops Awan Merah. Itasuke membuat sebuah keputusan sulit dengan melanggar kesepakatan dengan Tanuki.
Bisa saja, ia kehilangannya nyawanya saat Tanuki menyadari pengkhianatannya lewat segel yang melingkar di jarinya. Untuk itu, aku akan mempercayainya kali ini.
Mengenai keberadaan salah satu batu pilar. Sejauh informasi yang aku kumpulkan sejauh ini, sepertinya salah satunya (batu pilar) di simpan di dekat desa Sora! "
......................
Malam seakin larut. Di kantor desa Sora, Zen terlihat tengah menulis sesuatu.
Raut wajahnya tampak serius, sesekali di tengah kesibukannya menulis, Zen tampak berhenti sejenak dan melemparkan tatapannya ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan malam Desa Sora.
Waktu sudah menunjukan pukul 03.00 dini hari. Sesekali mengambil nafas berat, tangan yang mulai mengeriput itu begitu lihai menoreskan kuas bertinta hitam di atas kertas. Setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang, Zen akhirnya menyelesaikan tulisnya.
Di atas mejanya, terdapat dua buah surat yang berbeda. Selain kedua surat itu, Zen juga menulis sesuatu ke sebuah kertas panjang.
Ada banyak hurup di kertas itu. Setelah dirasa cukup, Zen lalu membubuhkan segel resmi Sora ke dalam tulisan terakhirnya itu dan memasukannya ke sebuah amplop berlambang awan (Sora) .
Siapa saja, bisa menebak bahwa surat terakhir yang di tulis Zen adalah sebuah pengumuman yang ditunjukkan khusus untuk rakyat Negeri Sora. Tiga buah surat berbeda kini tertata rapi di atas meja.
Zen mulai beranjak pergi menuju pintu keluar. Sebelum benar-benar menyentuh gagang pintu, Zen kembali menghentikan langkahnya.
Zen melirik meja megah di belakangnya. Meja yang menjadi simbol sebuah kedudukan tertinggi di Negeri Sora.
"Siapapun tidak akan pernah bisa menebak nasib seseorang. Bagaimana seorang anak terbuang, bisa memimpin sebuah negera kuat seperti Sora.
Cih! Aku rasa, aku sudah terlalu lama hidup. Bukan begitu, Aoryu? " gumam Zen sambil menatap nanar meja yang sejatinya milik sahabatnya itu.
Memimpin sebuah Negera besar seperti Sora. Sebuah jabatan yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia impikan, kini menjadi tanggung jawabnya. Sebuah titipan dari sahabat seperjuangannya, dan tentunya Zen harus menjaganya bahkan dengan bayaran nyawa sekalipun.
"Hah! Malam yang begitu cerah. Aku sudah menduga, perasaan buruk yang sempat aku rasakan memiliki sebuah alasan! Tapi apapun itu, aku akan tetap menghadapinya.
Karena ini adalah tanggung jawabku. " ucap Zen sambil mulai berlalu.
Tepat di depan pintu kantornya, 4 orang berseragam Cops Awan Putih Menunggunya.
" Ketua! Semua sudah siap! "
" Bagus! Pastikan kalian merahasiakan kepergianku! Malam ini, kita akan bergerak menuju kuil Salju di lembah lehidupan! Seseorang, mu gkin sudah menungguku disana! "
__ADS_1
" Tentu! Ketua! "