Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Pengorbanan : Hari Itu hampir Tiba


__ADS_3

Sora diselimuti kabut duka. Hujan deras seakan menjadi saksi, tangis orang-orang yang kehilangan anggota keluarga mereka dimedan perang. Penghormatan terakhir diberikan kepada prajurit yang telah mengorbankan nyawanya demi Negara. Deretan Tag leluhur tersusun rapi disepanjang altar penghormatan, harum semerbak dupa serta deretan bunga bentuk bela sungkawa menghiasi altar megah dengan balutan warna hitam dan putih. Dengan ukiran awan, terselip tulisan yang menyimpan nama mulia orang-orang tidak bisa kembali kepelukan keluarga tercinta.


Aora yang mengenekan pakaian serba hitam memecah kerumunan orang-orang, wajahnya yang tertutup masker hitam tersapu derasnya hujan. Dengan langkah berat penuh penyesalan, ia berjalan pelan ke depan altar tempat penghormatan terakhir mendiang ibunya. Ia menatap lekat papan kayu bertuliskan nama Yoshiro. Setangkai bunga ia sematkan didepan Altar, Aora masih tidak percaya apa yang menimpa ibunya


"Maafkan aku, Ibu" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Aora. Mata merah kecoklatannya tampak bergetar, air mata yang membanjiri wajahnya seolah hilang bercampur air hujan.


"Jika kau menyesali kepergian ibumu, kau seharusnya tumbuh menjadi lebih kuat lagi Aora! Jangan seperti saudaramu, bahkan ketika ibunya meninggal karena ketidak becusannya memimpin, ia masih bisa mengurung dirinya di mansion Matahari! " ucap Tanuki yang berdiri di samping Aora. Ia letakkan setangkai bunga di altar Yoshiro, dengan tatapan tajam ia menatap nama mantan sahabat kecilnya itu


" Baik ibumu dan Ayahmu, mereka terlalu mempercayai anak-anaknya! Sekarang mereka tahu apa akibat dari keputusan yang mereka ambil! " lanjut Tanuki


Tangan Aora mengepal kuat, bahkan didepan altar sang ibu pria itu masih mencemooh keputusan yang orang tuanya ambil. Jika ada orang yanh disalahkan, seharusnya pria licik yang berdiri disebelahnya itu lah yang harus Aora salahkan. Dalam situasi ini, Aora hanya bisa menahan emosi. Ia tidak ingin menghancurkan hari penghormatan sang ibu hanya karena ucapan Tanuki.


"Jika kau menginginkan kekuatan, datanglah padaku! Aku akan memberikan segala hal untuk membangkitkan potensimu! Setelah kejadian ini, berhentilah menganggap apa yang dilakukan Ayahmu sebagai hal yang mulia dan adil. Perdamaian? Itu hanya sesuatu yang diinginkan orang naif seperti Aoryu


Karen pada dasarnya! Kepemimpinan bodohnya yang ingin mencapai banyak hal tanpa pengorbanan adalah sesuatu yang mustahil! " ucap Tanuki sambil berlalu


" Cukup! " teriakan Aora membuat perhatian tertuju padanya. Aora tidak peduli dengan pandangan orang-orang, baginya ucapan Tanuki sudah benar-benar kelewat batas. Aora hendak menghampiri Tanuki, setidaknya satu pukulan mentah miliknya harus ia layangkan ke pria rakun itu. Namun belum sempat Aora melangkah lebih jauh, dua orang Anggota Cops Merah muncul dan mengunci pergerakannya


"Lepaskan aku! " ucap Aora seraya berusaha melepaskan diri dari jeratan pengawal Tanuki. Namun semua sia-sia, tubuh kecilnya begitu lemah ditangan dua pria berjubah hitam itu


Tanuki tersenyum licik, ia pun menghampiri Aora sambil berbisik ditelinganya " Sudah aku katakan, kau hanyalah bocah lemah yang sombong. Dengan kekuatanmu itu, jangan harap kau mampun melawanku


Lupakan egomu dan datanglah padaku. Akan aku buat kau menjadi prajurit hebat di bawah kendaliku, Aora!" Tanuki mulai beranjak. Sambil tersenyum puas Tanuki menatap orang-orang yang memperhatikan mereka, ia memerintahkan pengawalnya untuk melepaskan Aora


"Lepaskan Tuan Muda! Dia terlalu terpukul karena kehilangan ibunya. Sebagai Tetua, aku akan memaafkan sikap lancangnya! " ucap Tanuki lantang, seolah Aora lah yang labil dan hendak menyerangnya


......................


Yora keluar dari dalam kamarnya, wajahnya begitu pucat serta bibir yang mulai memutih akibat kurangnya asupan nutrisi. Sudah berhari-hari ia mengurung diri dikamar tanpa meneguk setetes air sedikitpun. Yora mulai berjalan pelan menyusuri ruangan luas yang menjadi ruang utama Mansion Matahari. Beberapa buah potret keluarganya terpajang cantik disepanjang koridor. Salah satunya potret Yoshiro, meski dengan seragam Militer wanita itu tampak anggun.


Hujan masih sangat deras, untuk terakhir kalinya Yora menatap rumah megah yang menyimpan banyak kenangan untuknya. Mata kelamnya kini beralir ke telapak tangan kananya, sebuah simbol bulan terlihat jelas di segel Gyoku miliknya.


Setelah kejadian itu, Yora merasakan kekuatan aneh merasukinya. Untuk itu, ia bertekat mundur dari tugas Militer dan mempelajari apa rahasia dibalik kekuatan aneh yang merasukinya malam itu


Langkah Yora terus membawanya menjauhi Desa Sora, hingga disebuah tanah lapang yang berlumpur sosok Aora menghadang langkahnya


"Kau mau kemana? Kau bahkan tidak memberikan penghormatan untuk ibu! " ucap Aora dengan tatapan tajam


" Aku memiliki urusan yang harus kau selesaikan. Aora kau menyingkirlah! " ucap Yora datar. Ia pun berjalan melewati Aora begitu saja. Bagi Yora sangat berbahaya jiks ia tetap tinggal di desa atau disekitar Aora, ketika ia memiliki kekuatan aneh yang dapat membunuh siapapun disekitarnya. Kekuatan yang luar biasa hebat, bahkan tanpa kehendak Yora sendiri beberapa kali ia hampir tidak bisa mengontrol kekuatan aneh itu

__ADS_1


"Berhenti! Aku bilang berhenti! " teriak Aora kesal. Ia pun menghampiri Yora, menarik kerah bajunya dan menatapnya dengan sorot mata penuh amarah.


" Jika kau ingin menyalahkan seseorang! Kau bisa menyalahkan aku! Karena aku datang terlambat, aku tidak bisa membantumu dan ibu!


Jika kau marah! Pukul aku! Lampiaskan semua kekesalanmu! Tapi kenapa sikapmu begitu tenang? Kau hanya mengurung diri dan menyiksa dirimu sendiri seperti ini? "


" Lalu? Jika aku memukulmu, apa itu akan mengembalikan semua seperti sedia kala? Jika aku memukulmu, apa ibu akan kembali hidup?! " Yora menaikan suaranya sementara Aora hanya diam tanpa bisa menjawab sepatah katapun


" Kau bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanku. Jadi menyingkirlah dari hadapanku! " Yora kembali melanjutkan langkahnya.


Aora yang kesal hanya bisa mengeratkan tangannya. Ia pun menghampiri Yora, dan mendaratkan pukulan tepat diwajah saudaranya


Brakkk....


Yora terpental karena serangan Aora. Tidak mau kalah, bocah bermata kelam itu langsung membalas pukulan Aora


Mereka bertarung satu lawan satu ditengah guyuran hujan. Hampir seluruh tubuh mereka dipenuhi lumpur yang pekat. Bergular serta mendaratkan pukulan ke arah masing-masing. Tidak ada sihir, pertarungan mereka murni untuk melampiaskan kesedihan serta amarah masing-masing. Seperti saudara pada umumnya, mereka mengutarakan perasaan yang terpendam lewat sebuah pertengkaran kecil


Aora dan Yora akhirnya roboh ke tanah. Keduanya berbaring di kolam lumpur sambil menatap awan mendung dilangit. Rintik air masih saja berjatuhan, menyapu dua paras tampan yang terengah kelelahan


"Hah! Hah! Hah! Baiklah, lakukan apa maumu! Sedangkan aku akan melakukan apapun yang aku mau! " ucap Aora sambil terengah


Hal yang sama terjadi pada Yora. Ia mulai bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Aora. Bocah berambut perak itu menerima uluran tangan saudaranya. Untuk mengakhiri pertengkaran mereka, Yora dan Aora oun bersalaman


" Tentu, akan aku pastikan kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi. Dengan kekuatanku aku akan menjaga semua orang! Sampai saat itu tiba, aku harap kau pulang dengan selamat, Yora! " ucap Aora pelan


Hari berganti minggu, Minggu berkanti bulan. Sementara Tahun begitu cepat berlalu. Aora tumbuh menjadi Kapten pasukan Elite Sora, dibawah komandonya beberapa kali ia membuat Sora menang melawan Hoshi. Seperti janjinya, ia tumbuh menjadi sosok anak berusia 13 tahun yang cakap serta hebat dalam setiap pertarungan. Kehebatannya memberikan kebanggaan tersendiri untuk Aoryu dan juga Rakya Negeri Sora. Sebagai putra Matahari, Aora membutikan dirinya, bahwa ia bukanlah anak lemah yang tidak bisa melakukan apapun untuk Sora


Sementara Yora, sibuk berkeliling Negeri Sora demi mengisi rasa ingin tahunya. Setiap kuil kuno yang mencatat setiap sejarah dunia ia kunjungi demi memungkap rahasia dibalik kekuatan anehnya. Selama 3 tahun terakhir, baik Yora dan Aora saling berjauhan bahkan tanpa komunikasi sedikitpun. Satu persatu Yora mulai memahami legenda Nue yang bagi sebagian orang hanyalah makhluk mitos. Ia juga sadar, dari garis darah Clan Bulan miliknya ia memiliki kutukan Nue didalam Jiwanya


Hingga, malam Naas itu kembali muncul didalam hidupnya.....


......................


"Apa maksud Tuan? Pembaruan segel Nue akan segera dilakukan? " ucap Yora tidak percaya.


Seorang pria tua penjaga Kuil di Timur Negeri Sora mengabarkan akan ada ritual pengukuhan segel yang akan dilakukan oleh ayahnya, Aoryu. Yora sedikit khawatir, bagaimanapun dua orang pemimpin clan yang lain sudah tiada. Clan Bulan dan Clan Salju, hingga saat ini setahu Yora belum ada penerus yang cocok untuk menggantikan posisi ibunya dan Nyonya Yukio dalam ritual


"Kapan ritual itu akan dilaksanakan, Tuan? " tanya Yora

__ADS_1


" Di malam Purnama, ketika sang bulan menampakkan wujud merah darahnya. Saat itulah, segel Nue akan melemah dan pemimpin ketiga Clan akan mengilukuhkan segelnya! "


Yora berpikir sejenak, jika itu malam purnama itu artinya ritual akan dilaksanakan besok malam. Saat ini, ia tengah berada di sisi ujung Negeri. Untuk sampai ke Desa, setidaknya ia membutuhkan dua hari perjalanan tanpa istirahat. Yora mempertimbangkan teknik sihir teleport miliknya, tapi itu sesuatu yang mustahil. Dengan kekuatannya sekarang, ia belum mampu untuk berpindah sejauh itu


Yora menatap tumpukan kitab usang didepannya. Banyak hurup aneh yang masih belum ia ketahui maknanya tertulis didalam kitab. Itu artinya, ia masih belum menemukan resiko penyegelan yang akan dilakukan Ayahnya seorang diri. Bagaimanapun perasaanya mengatakan sesuatu yang buruk akan menimpa Sora jika ritual ini tetap berlanjut


Yora segera bediri dari tempat duduknya meskipun mustahil sampai ke desa dengan cepat. Ia tidak bisa berdiam diri begitu saja. Bahkan ditengah malam, ia menyibak gelapnya hutan untuk kembali didesa


"Ayah, aku mohon. Jangan lanjutkan ritual ini, sesuatu yang buruk mungkin saja bisa terjadi"


......................


Di desa Sora, rapat tiga Clan bangsawan tengah berlangsung. Aoryu sebagai pemimpin clan Matahari hanya diam memperhatikan keluhan tiga anggota Clan yang membuat keributan. Kusus Clan salju dan Clan Bulan, masih belum ada pemimpin yang menggantikan posisi pemimpin terdahulu. Hal itu membuat keadaan semakin kacau balau


" Kita harus tetap melakukan ritual pengukuhan! " ucap seorang pria tua dari Clan Salju. Karakteristik klan utama Sora itu adalah rambut coklat cerah dengan iris mata menyerupai warna bunga Lavender. Pembawaan orang-orang dari Clan salju begitu berkharisma. Mereka dikenal sebagai Clan pengobatan dengan kemampuan penyembuhan mereka yang hebat


"Namun, hanya Clan kami yang masih memiliki pemimpin yang murni! " ucap seorang kakek dari Clan Matahari. Karakteristik Clan matahari adalah iris mata berwarna merah kecoklatan. Hampir semua anngotanya memiliki rambut putih keperakan yang khas. Pembawaan anggota clan ini adalah raut wajah yang dingin dan juga tegas. Hampir sebagian dari mereka adalah bagian komando perang digaris depan. Gagah dan berwibawa hanya itu yang bisa menggambarkan Clan pemimpin itu


"Tapi, penyegelan kali ini memiliki resiko yang tinggi! Salah sedikit saja, kekuatan Kegelapan Nue bisa menyebar dan membuat dunia kembali ke dalam kegelapan" ucap seorang pria paruh baya dari Clan Bulan. Sorot matanya yang sekelam malam menampakkan ketenangan yang dalam. Clan Bulan memiliki ciri fisik rambut hitam serta iris mata sekelam malam. Pembawaan yang tenang serta dingin. Hampir seluruh anggota clan masuk ke dalam jajaran Intel dan sensor Sora karena kemampuan intelektual yang tinggi. Selain diberkahi pemikiran hebat serta kepintaran, mereka adalah ahli penyegelan sihir. Jadi bisa dipastikan alasan mereka begitu menentang penyegelan Nue tanpa anggota Clan mereka yang turut andil


"Untuk itu, sebelum penyegelan. Kami meminta agar Tuan Muda Yora dari Clan Bulan ikut dalam ritual! " ucap tetua Clan Bulan


Aoryu tampak menimbang usulan terakhir. Bagi pemimpin sepertinya sangat penting untuk mendengar segala pendapat. Khusu pendapat Clan bulan, Aoryu benar-benar mempertimbangkannya dengan serius. Yora bosa menggantikan posisi Yoshiro


Di tengah keributan itu, Tanuki beserta jajaran pengawalnya masuk ke area rapat. Semua perhatian tertuju padanya. Dengan seringai penuh arti miliknya, ia mulai ikut andil dalam perdebatan itu


"Apa kalian ingin membuat kesalahan serupa? Hanya karena seorang anak memiliki garis darah bangsawan, apa kalian akan membiarkan anak kecil turut andil dalam ritual suci ini? " ucap Tanuki sambil berjalan ke hadapan Tiga clan utama


" Apa maksudmu? "


" Ritual kali ini bukanlah ritual yang sulit. Hanya memperbaiki segel Nue yang mulai melemah. Bahkan terakhir kali segel diperbaharui, kita hanya memerlukan Yoshiro dari Clan Bulan dan Aoryu dari Clan matahari" ucap Tanuki mantap


"Kali ini, situasinya berbeda! Kita hanya memiliki satu pemimpin tersisa! "


" Lalu? Kalian akan membiarkan segel lemah melewati purnama bulan merah yang terjadi besok begitu saja? Bukankah itu lebih beresiko?


Yora yang entah kemana pergi selama 3 tahun terakhir itu, kita masih belum tahu keberadaanya saat ini. Apa kalian akan mempercayakan ritual suci kepada yang anak tidak bertanggung jawab seperti Yora? " ucap Tanuki lantang


Aoryu mengepalkan tangannya kuat mendengar anaknya dijelekkan membuat ia semakin geram. Aoryu juga tidak berbuat banyak, akibat insiden benteng Utara banyak orang yang meragukan Yora. Mereka menganggap kesalahan ada padanya, terlebih ialah yang mencetuskan ide untuk membalikkan keadaan

__ADS_1


"Kalau begitu, apa solusimu Ketua Militer Sora Tanuki? " ucap para Tetua


" Kami Anggota Cops Merah dan Putih akan mengawal ritual. Kami pastikan ritual akan berjalan lancar dan aman! " ucap Tanuki. Sorot mata memancarkan sesuatu yang licik yang ia rencanakan


__ADS_2