Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Kekuatan Akuma!


__ADS_3

Yora menggerakkan tanah untuk menjerat tubuh Maya. Perempuan dengan tatapan iblis itu, tampaknya sudah berubah menjadi sosok lain. Setelah menyuntikan obat aneh ke tubuhnya, Yora merasakan kekuatan sihir Maya bertambah berkali-kali lipat.


"Argh! Pecundang seperti kau! Tidak akan pernah mampu melawan kekuatan sempurna milik kami! Arghh! " geram Maya penuh penekanan.


Meski tubuhnya dipenuhi kekuatan sihir yang luar biasa, tampaknya Maya sendiri tidak bisa sepenuhnya mengendalikan kekuatan Itu. Ini menjadi keuntungan kecil bagi Yora.


Aura sihir hitam menyelimuti tubuhnya, dengan kekuatan yang sudah mulai terkuras akibat penggunaan elemen api biru sebelumnya, Yora mulai kewalahan menjerat tubuh Maya. Yora menggerakan tanah, dengan sekali hentakan tangan, ia mulai menciptakan belenggu untuk menjerat kaki Maya.


Maya mengamuk. Dengan kekuatannya yang sudah tidak bisa dikontrol, ia menyerang acak apapun yang berada di sekitarnya. Beberapa sudut tempat tampak hancur menjadi kepingan es karena ulahnya. Saking kuatnya, Maya hampir bisa membekukan belenggu tanah yang menjerat kakinya.


Merasa kesempatan menyerang Maya sangat tipis, Yuri segera berlari mendekat ke arah wanita itu. Dengan jarum kecil di tangannya, Yuri menyalurkan sedikit kekuatan batu pilar untuk mengaktifkan obat penawar yang sudah lebih dulu ia aplikasikan ke ujung jarum. Tujuan Yuri hanya satu, menekan jarum tepat di jantung maya untuk melemahkan kekuatan kegelapan di dalam dirinya.


"Rasakan Ini! "


Yuri mulai melempar jarum kecil itu ke arah Maya. Dengan kecepatan tinggi, jarum dengan energi kehidupan yang pekat mulai melesat dan menembus dada Maya tanpa ia sadari.


" Berhasil! " gumam Yuri.


Namun, obat penawar ciptaanya tentu membutuhkan jeda waktu untuk bekerja dengan baik. Tanpa Yuri sadari, Maya telah menargetkannya. Ia pun mengaktifkan gyoku saljunya. Meski dengan tubuh terjerat sempurna, Maya mampu menciptalan badai es hitam dengan kekuatan pembeku mematikan.


"Mati kau! "


Brassss!


Kabut hitam itu berjalan cepat menuju Yuri. Iris mata ular gadis berambut merah itu membelalak sempurna.


Sebuah badai kabut hitam menggrumul dan membentuk sebuah pusaran setinggi ratusan meter. Saking cepatnya, Yuri sadar ia bahkan tidak bisa menghindari serangan Maya. Terlebih dengan luka ledakan di kakinya yang belum sepenuhnya sembuh.


Gulungan kabut pembeku hampir menelan tubuh Yuri bulat-bulat. Yuri sontak memejamkan matanya. Jika harus mati di dalam misi, ia sama sekali tidak menyesalinya.


"Setidaknya, kematianku akan berguna bagi teman-temanku. " gumam Yuri dengan senyuman pilu. Air mata menetes begitu saja dari kelopak mata yang masih terpejam sempurna.


" Siapa bilang, kau akan mati semudah itu? " tiba-tiba saja, suara berat yang begitu familiar bergumam di telinga Yuri. Gadis itu pun sontak membuka matanya. Hal pertama yang di tangkap mata ruby Yuri adalah iris kelam serta wajah datar Yora.


" Yo- ra? Kau?" gumam Yuri tidak percaya.


Tepat di depannya, laki-laki tanpa emosi itu berdiri tepat didepanya. Menatapnya dengan sorot mata yang Yuri bahkan tidak tahu apa artinya itu.


Perhatian Yuri kini tertuju pada kabut hitam yang bergulum tebal didepannya. Udara dingin menusuk bahkan sudah memeluk tubuh ringkihnya. Yuri sedikit bergetar, ia bertanya pada dirinya. Apa perasaan ini yang disebut ketakutan sebelum kematian menelanmu?

__ADS_1


Yora menepuk pelan bahu Yuri dengan kedua tangannya, sambil berbisik pelan " Jika kau takut. Pejamkan matamu. Aku janji, akan melindungimu. "


Yuri mengangguk pelan dan mulai memejamkan matanya. Semetara itu, Yora mulai merentangkan kedua tangannya. Kekuatan Gyoku sang Pilar bulan aktif. Dengan kekuatan manipulasi pikirannya, Yora membuat sebuah pelindung sihir untuk dirinya dan Yuri.


Sebuah pelindung yang tercipta dari kekuatan sihir berwarna biru yang mampu menghalau badai berkekuatan dasyat milik Maya sekali pun. Dan dengan kehendaknya, ia menghempas jauh kabut Hitam itu.


Di sisi lain, efek obat penawar mulai bekerja. Maya mengegrang hebat, sambil memegangi dadanya yang mulai dipenuhi sihir kehidupan.


"Arghhhhh! "


Lama kelamaan tubuhnya mulai melemah, sihir hitam di tubuhnya berangsur hilang dan lenyap seketika. Tidak hanya itu, gyoku salju di telapak tangannya mulai mengeluarkan kekuatan pembeku dan merayap menyelimuti tubuhnya sendiri. Seperti bumerang, kekuatan yang Maya kuasai lewat obat khusus itu pun berbalik melawannya. Tubuh Maya membeku dan hancur menjadi kepingan es kecil.


Keadaan kota Tua mulai berubah. Kota yang sejak tadi di liputi badai es tebal, secara berangsur mulai menghilang. Awan hitam dingin yang menyelimuti lenyap seketika. Terik matahari pun mulai masuk, dan menyapu seluruh dataran yang sudah kembali normal.


Yuri mencoba membuka matanya. Sedikit mendongakkan kepala, untuk melihat wajah pria yang lagi-lagi menyelamatkannya.


"Lagi-lagi, aku berhutang budi pada seseorang."


Nafas Yora masih berburu. Setelah menggunakann kekuatan sebesar itu, yang bahkan jarang ia keluarkan, tampaknya energi Yora sudah mencapai batas.


"Kau tidak apa-apa? " ucap Yuri dengan mimik khawatir. Seperti biasa, Yora tidak langsung menjawab pertanyaan Yuri. Sambil menatap sekelilingnya, pandangan Yora tertuju pada Akuma yang sejak tadi tidak perbuat apapun. Bahkan ketika ia sendiri melihat salah satu rekannya tewas di tangan Yora.


" Sebaiknya, kau tidak berada disini lebih lama lagi! " ucap Yora tanpa menjelaskan maksud dari ucapannya. Yora segera merangkul Yuri, membawa gadis berambut merah itu ke dalam rengkuhan gendongannya.


" H-hei Yora! Apa yang kau lakukan! Aku harus tetap disini, kau tidak lihat! Aku mempunyai penawar obat aneh mereka? " mata Yuri terbelalak sempurna ketika menyadari tubuhnya sudah di angkat Yora


" Ini terlalu berbahaya! Sisanya, biar kami yang akhiri! " ucapnya pelan. Yora pun melompat menjauh, sambil membawa Yuri di dalam gendongannya


......................


Pertarungan Maya dan Yora serta pertarungan Aora dan Jigoku nyaris terjadi dalam waktu yang bersamaan. Melihat kondisi Kota Tua sudah kembali normal, Aora yakin disisi lain saudaranya sudah berhasil mengalahkan musuh.


"Tampaknya rekanmu sudah berhasil Yora kalahkan. Aku juga tidak mau membuang waktuku. Sayangnya, inilah giliranmu! "


Kilapan iris merah menakutkan terlihat di kedua sorot mata Aora. Dengan pedang Shiroi yang terhunus, ia hendak membunuh Jigoku yang sudah tidak berdaya. Namun, pria kurus itu masih keukeuh dengan senyum arogannya. Ia bahkan tidak takut sedikitpun, ketika pedang putih tajam milik Aora hendak menembus tubuhnya.


"Membunuh. Bukankah sensasi ketika mengambil jiwa seseorang membuat adrenalinmu memuncak? Aora apa kau masih tidak sadar?


Bahwa kau, tidak jauh berbeda dengan kami! " ucap Jigoku dengan senyuman liciknya

__ADS_1


" Tutup mulutmu! " Aora kembali mengeratkan pedangnya di leher Jigoku


" Cih! Kau pikir selama ini kau dirasuki sesuatu? Kau merasa, tubuhmu diam-diam di kontrol oleh kekuatan aneh diluar sana. Kau yakin semua itu seperti yang kau pikirkan selama ini?


Sudah cukup kau bertindak sebagai korban! Aku tegaskan sekali lagi, kau tidak lebih dari sekedar monster yang tertidur. Jauh di dalam dirimu, sesosok iblis yang haus darah manusia hidup. Tugas kami adalah membangunkan moster itu! "


Jigoku menggapai gagang pedang Aora. Dengan tangannya sendiri, pria itu justru mengarahlan pedang yang dipegang Aora menyasar jantungnya.


" Kau mau mencobanya? Kalau begitu, bunuh aku. Sekarang! "


Aora menatap ujung pedang miliknya. Kilapan iris merah dimatanya mulai berubah menghitam (jadinya berwarna merah kehitaman). Aora merasakan sebuah dorongan untuk membunuh Jigoku begitu kuat memenuhi pikirannya. Tanpa ia sadari, segel matahari di dadanya kembali menapakan aura hitam pekat sihir kegelapan


Kilas ingatan kembali memenuhi otaknya. Aora kembali melihat Pembantaian yang bahkan tidak ia lakukan. Ingatan akan kesenangan, serta tangannya yang dipenuhi darah korban. Ingatan-ingatan itu berjalan cepat. Kali ini, Aora bahkan melihat kilas balik masa lalunya.


Kilas balik ketika ia membantai anggota tiga Clan Uatama Sora. Musuh-musuh yang ia pernah lawan dan bunuh dengan kejamnya. Semua bercampur di ingatan Aora


"Argh! " Aora menggerang ke sakitan. Ia kembali mencengkram kepalanya kasar. Jigoku yang melihat reaksi Aora, memperlihatkan seringai liciknya.


" Benar! Apa kau kau lihat diingatamu? Itu semua itu bukan hanya sekedar ingatan Tuan Kurasu yang terhubung dengan jiwamu. Sebelum kau menjadi wadahnya, kau itu sudah menjadi monster Aora!


Karena itu, dari ketiga pilar. Hanya kau yang cocok sebagai wadah bangkitnya Tuan Kurasu! “


"Hentikan omong kosongmu! Atau aku akan menghancurkan tubuh dan jiwamu! " geram Aora. Dengan amarah yang memenuhi dirinya, ia mengaktifkan Gyoku dan mengaliri pedang Shiroi dengan petir merahnya.


Mata Jigoku membulat sempurna. Ia tahu Aora memiliki kekuatan besar, tapi ia tidak berpikir kekuatan itu akan semenakutkan ini. Dengan mata kepalanya sendiri, Jigoku menyaksikan kekuatan kegelapan sejati yang bangkit di tubuh Aora.


"Sampah sepertimu! Sudah sepantasnya lenyap dari dunia ini! " gumam Aora dengan nada dingin.


Brassss!


Aora mengayunkan pedang petirnya dan hendak melenyapkannya dari muka bumi ini. Namun, sebuah pedang raksasa sesosok monster ber armor sihir menghalangi serangan Aora


Brassss!


Booommmmmmm!


Sebuah ledakan akibat dua kekuata besar beradu. Kekuatan yang cukup kuat, hingga menghancurkan Kota Tua dan bahkan dataran gurun di sekitarnya.


Kepulam debu pekat tercipta. Di tengah dentuman ledakan serta tanah yang bergetar. Dua pasang Iris merah darah menatap tajam satu sama lain.

__ADS_1


"Jadi, inilah kekuatan aslimu Akuma! " ucap Aora.


__ADS_2